Menunggu Cincin Di Jari Manis

Menunggu Cincin Di Jari Manis
Akhmar Tidak Suka Perempuan


__ADS_3

Makan malam tim berakhir dengan sedikit kecanggungan dari Safia pada Akhmar. Namun, gadis itu tetap bekerja seperti biasanya. Bahkan, seminggu setelah kejadian itu, Safia kembali harus bergelut dengan deadline mingguan yang lagi-lagi dengan waktu yang sangat sedikit.


Safia sudah mulia terbiasa dengan penampilannya. Sekali pun terkadang rasa gerah datang ketika pancaran sinar mentari yang sanggup menembus sampai ke kulit. Namun, Safia berusaha untuk tetap kuat. Meyakinkan diri jika hal ini akan menjadi biasa ketika dipaksa.


Pagi ini Safia sudah sampai kantor pukul tujuh pagi, langsung absen dan membuka komputer. Deadline minggu ini tetap sama, jam dua siang. Akhmar ini tampak baik untuk di luar pekerjaan, tetapi menyiksa ketika jam kerja datang.


Maria dan Lili datang, kedua perempuan itu bergosip ria sambil berjalan dari lantai satu. Ada satu kabar burung beredar jika Akhmar ini pernah dipergoki mengunjungi salah satu rumah sakit besar bersama ibunya dan di luar jam kerja, Akhmar tampak lebih dingin. Tidak banyak bicara, berbanding terbalik dengan sang ibu yang begitu lembut dan ramah.


"Kamu yakin?" Maria bertanya lagi pada Lili.


"Tentu dong. Kan, teman aku yang memergoki. Pas hari Rabu sore kemarin, pantas aja Pak Akhmar pulang lebih cepat." Lili mendapatkan kabar ini sekitar pagi tadi, ketika bertemu dengan temannya yang bekerja di bagian perakitan barang. "Malahan, Pak Akhmar itu kayak orang yang nggak kenal, katanya."

__ADS_1


Safia melirik Maria dan Lili yang lebih memilih berdiri di depan mejanya. Tidak sengaja mendengar percakapan mereka, tetapi tidak ikut campur.


"Tapi, ya, kamu ngerasa nggak sih kalau Pak Akhmar itu kayak yang risih banget kalau dekat sama orang." Lili menanyakan itu karena merasa janggal. Contohnya ketika makan malam kemarin, kontak fisik sedikit saja sudah memperlihatkan gelagat risih dari Akhmar. "Aku jadi khawatir kalau Pak Akhmar itu nggak suka sama perempuan."


Maria mengerutkan kening dengan kedua mata membulat sempurna. Rasanya tidak mungkin. Akhmar terlihat juga memandang perempuan dengan aura seorang lelaki sejati. Hanya saja, ia harus belum bisa memastikan untuk itu. "Jangan suka suudzon dulu, ah. Mana mungkin Pak Akhmar nggak suka perempuan."


"Loh, kamu lihat saja sendiri reaksinya pas kontak fisik sama aku kemarin. Itu wajar, lho." Lili mengeluarkan isi kepala. Gadis itu melirik Safia yang tampaknya lebih banyak interaksi dengan Akhmar. "Fia, kamu setuju, kan, sama aku?"


Safia sontak mengangkat kepala. Padahal ia tidak ingin terlibat, tetapi Lili justru mengincarnya. "Setuju soal apa?" Bertanya balik.


"Astagfirullah!" Safia terkejut, langsung berdiri. Lili meliriknya, segera menarik diri dan berdiri tegak. "Kata siapa?" Untung saja ruangan itu masih sepi, hanya ada mereka bertiga.

__ADS_1


Maria mendekati Safia dan Lili. "Kita nggak bisa nuduh begitu aja. Harus ada bukti yang kuat." Bagi perempuan itu, bukti adalah hal yang sangat penting dalam membenarkan satu keadaan. "Setidaknya ada yang bisa membuat kita yakin."


Safia menelan ludah, teringat akan beberapa kejadian di mana Akhmar seolah kurang baik-baik saja ketika berhadapan dengan karyawan perempuan. Benarkah itu? Rasanya akan sangat menggemparkan publik.


Lili tersenyum miring. "Kalau untuk membuktikan itu, aku tau gimana caranya."


"Gimana?" Maria langsung menyahut, sedangkan Safia masih belum merespon apa pun.


Safia sendiri tidak ingin terlibat banyak hal, perihal masalahnya dengan Faiz saja belum sepenuhnya selesai. Jangan menambah beban.


"Kalian bakal tau nanti. Pokoknya aku bakal buktikan, apa benar Pak Akhmar itu nggak suka perempuan? Tenang aja." Lili mengukir senyum sambil berjalan menjauhi Maria dan Safia. Dua menit kemudian, Akhmar datang. Mata Safia langsung tertuju pada lelaki itu. Mengingat tentang perkataan Lili barusan. "Pak Akhmar suka perempuan atau tidak?" Entah angin apa yang membuat mulut Safia terbuka lebar untuk mengucapkan pertanyaan gila.

__ADS_1


Maria tersentak, menelan ludah bersamaan dengan berhentinya langkah Akhmar yang tepat di depan Safia. Lili pun seketika berbalik badan, ceroboh sekali Safia ini.


Akhmar melirik Safia. "Maksudnya?" Bingung dengan pertanyaan Safia.


__ADS_2