
"Kamu berisik!" Akhmar berdiri, mengambil pemberian Safia. "Untung saja karyawan saya yang sepertimu cuma satu. Kalau ada sepuluh, saya bisa gila!" Akhmar berjalan melewati Safia. Berhenti di belakang perempuan, lalu berkata, "Terima kasih makanannya." Kemudian segera melangkah lagi untuk turun ke bawah. Tidak baik hanya berduaan dengan Safia saja di sini.
Safia tertegun. Kalimat itu terdengar seperti kekesalan, tetapi diselipi dengan sedikit penerimaan. "Baru kali ini nemu atasan seaneh itu. Astagfirullah." Safia mengelus dada. Tidak percaya melakukan hal ini juga, bersikap di luar kebiasaan. Padahal itu urusan Akhmar.
***
Isu itu semakin tercium tajam. Akhmar beberapa hari ini bahkan tidak bisa ditanya, kecuali hal penting saja. Bahkan pria itu sudah dua hari lembur sampai malam. Hal ini dibeberkan oleh satpam kantor yang sering menemui Akhmar keluar kantor pukul delapan malam.
Pagi itu semua karyawan masuk seperti biasanya. Tidak ada kegaduhan, sekali pun keadaan masih sama. Ada beberapa karyawan yang saling mencurigai dan paling tinggi berasa di pihak Lily.
Seperti biasanya, Safia datang tepat pukul tujuh pagi. Berjalan dari parkiran kantor dengan tenang. Mengapa beberapa karyawan lainnya yang juga sedang berjalan.
__ADS_1
"Kamu Safia, kan, dari tim keuangan?" Seorang karyawan memakai blazer hitam dan satu temannya yang memakai baju merah itu pun menyapa Safia.
"Iya," jawab Safia mereka masuk ke gedung tinggi. Terus berjalan ke arah tempat tap kartu khusus karyawan.
"Gosip yang beredar itu semakin kencang. Apa manager kalian belum bisa memecahkan masalah?" tanya wanita berbaju merah.
Safia masuk lebih dulu. Kartunya bekerja dengan baik, lalu disusul dua orang tadi. "Sepertinya belum. Ini hal sensitif, jadi perlu diselidik dengan baik." Safia tidak ingin mengatakan banyak hal, sekali pun ia mengetahui sebanyak gunung. Sebab, ini adalah masalah tim.
Safia sempat tersinggung. Sama saja orang itu menyindir tim keuangan lainnya. Namun, Safia tetap mengukir senyum kecil. "Bukan lelet, tapi lebih tepatnya manager kami bekerja dengan hati-hati. Bukankah jatuhnya akan menjadi fitnah kalau sampai salah orang?" Safia sengaja berhenti dan kedua orang itu pun berhenti di sampingnya. Keduanya saling melempar pandangan. "Itulah yang menjadi pertimbangan manager kami karena salah orang akan berakibat fatal dan menghancurkan karir juga."
Safia melirik arloji di tangan kanan, sudah hampir telat untuk absen harian. "Ah, maaf, aku duluan. Tinggal lima menit lagi untuk absen. Permisi." Dengan senyum manis, Safia meninggalkan mereka yang saling melirik juga.
__ADS_1
Kesal karena anggapan orang terhadap Akhmar cukup menghancurkan moodnya hari ini. Padahal ia sudah berupaya untuk masuk kerja dengan pikiran positif. Safia naik ke lantai empat menggunakan lift bersama yang lain. Berdiri setelah memencet angkat empat. Menunggu lantai tujuan dilewati. Begitu sampai, ia langsung ke luar. Berjalan lagi ke arah ruangan tim keuangan.
"Assalamualaikum," kata Safia yang masih berada di ambang pintu. Mendapati semua teman satu timnya sedang berada di bangku Lily.
"Beneran nggak nyangka."
"Padahal biasa aja."
"Astagfirullah, kalau temanya tau. Gimana, ya?"
Kalimat-kalimat yang di dengar Safia cukup memberikan rasa penasaran. Safia pun memberanikan diri melangkah ke depan dan berkata, "Ada apa ini? Kenapa kalian di sana semuanya? " Melirik bangku Maria sekilas.
__ADS_1