Menunggu Cincin Di Jari Manis

Menunggu Cincin Di Jari Manis
Mahkota Perempuan


__ADS_3

"Kenapa? Kamu tidak ingat?" tanya Faiz, sosok yang kini sedang bersama Safia. Lelaki itu pun rupanya tengah makan malam dengan tim penjualan. Mengingat area makan di kedai ini luas, jadi sedikit susah mengetahui bahwa ada yang satu kantor juga.


Safia menahan emosinya. Menghadapi Faiz bukan dengan hal ini, tetapi ketenangan agar bisa menghasilkan hal baik. "Aku minta hapus semua foto yang pernah kamu ambil." Permintaan yang pastinya akan dilakukan oleh setiap orang ketika hubungan itu berakhir. "Aku akui, itu memang aku. Di mana aku gelap mata sampai melakukan hal tersebut. Jadi, apa bisa kamu bantu aku untuk menghapusnya?"


Faiz tersenyum miring, mengeluarkan ponsel dari saku celana dan memperlihatkan foto yang dimaksud. "Padahal kita ini terlihat serasi, Fia." Senyum itu menakutkan bagi Safia, ia baru menyadarinya sekarang. Faiz ini tipe lelaki yang lumayan serakah juga. Sungguh … Safia menyesal.


"Manisnya itu nggak pernah bisa aku lupain. Kamu juga, kan?" Kembali lagi Faiz tersenyum miring seolah memiliki arti mengejek. "Aku jadi kangen." Lelaki itu mengambil dua langkah ke depan, mengikis jarak dengan Safia. "Bagaimana kalau kita ulang?"

__ADS_1


Safia terkejut, sontak mendorong dada Faiz ke belakang. "Jangan macam-macam!" Suaranya begitu tegas dan tinggi. Melindungi diri dari kejahatan memang wajib dilakukan, terlebih Faiz ini hampir pernah menodainya. "Aku bisa berteriak sekencang mungkin!"


Faiz tertawa. Lorong menuju toilet itu sepi dan ia pun sudah memastikan hanya ada satu orang saja di ruangan toilet lelaki. Itu pun dirinya tidak tahu siapa karena orang itu langsung masuk ke toilet tertutup. "Berani melakukan itu, aku sebar semuanya! Bagaimana?" Salah satu alis Faiz naik ke atas, memancing emosi Safia. "Aku cuma minta kita bersama lagi, itu hal simple bukan?"


Safia Menggelengkan kepala, heran. Faiz sulit menerima kenyataan dan juga tidak menyadari kesalahannya yang hampir membuat Safia trauma. "Mana mungkin semudah itu, aku sadar kalau selama ini ternyata aku salah jalur. Aku terbuai kesenangan dunia, sampai aku lupa kalau semua itu salah."


Dada Safia naik turun. Sesaknya kian terasa, semua yang dikatakan Faiz tidaklah salah. Pada akhirnya Safia memang perempuan yang pernah melakukan kontak fisik dengan lawan jenis, walaupun tidak sampai berhubungan. Hanya saja, Tuhan itu Maha Pengampun. Siapa pun yang mau berubah, tentu akan ada jalan dan dituntun lebih baik.

__ADS_1


Faiz bergerak lagi dua langkah ke depan, menyambar jilbab yang menutup rambut Safia dan hendak mencopotnya. Safia tersentak, tidak menyangka hal ini. Namun, tanpa diduga Akhmar datang dari belakang. Menangkap tangan kiri Faiz yang sudah memegang bagian depan jilbab Safia sambil berkata, "Jangan sentuh sesuatu yang bukan milikmu!" Suara Akhmar menggema. Berhasil menarik perhatian Faiz yang langsung menoleh.


Akhmar menghempaskan tangan Faiz dan berkata, "Kamu tidak berhak mencopot jilbabnya. Tidak peduli hubungan kalian berdua ini apa atau memang ada masalah apa, tapi saya rasa harus ikut campur kalau mahkota perempuan itu yang diusik!"


Safia membulatkan kedua bola mata, melihat langsung sosok Akhmar yang berubah menjadi singa menakutkan. Dan, merasakan aura menyeramkan juga dari lelaki itu.


Faiz menatap lekat Akhmar. "Siapa kamu? Berani-beraninya mencampuri urusanku!" Sorot mata lelaki itu menakutkan.

__ADS_1


Akhmar menatap balik Faiz, lalu beralih menatap Safia sekarang. "Ayo, kembali ke meja. Jangan ladeni orang yang hanya membuang waktumu atau melukai harga dirimu!" Tanpa menjawab pertanyaan Faiz, Akhmar langsung pergi melewati Safia yang juga mengikutinya dari belakang.


__ADS_2