
Akhmar membawa Safia ke rumah sakit dengan mobilnya sendiri. Bahkan pria itu menggendong Safia dari lantai tempat mereka bekerja sampai ke mobil.
Saat ini di ruangan VIP bercat putih dari rumah sakit ternama di kota tersebut, Akhmar berdiri menunggu Safia sadar. Hanya mereka berdua, tidak ada siapa pun lagi.
Menurut dokter, Safia bisa saja kelelahan secara fisik dan juga mental sehingga menyebabkan perempuan itu pingsan. Oleh sebab itu, Safia diharuskan beristirahat beberapa hari.
Akhmar menunggu dengan tenang. Berharap kedua kelopak mata Safia segera terbuka dan akhirnya mereka bisa saling memandang satu sama lain. "Kamu terlalu menyimpan semuanya sendirian." Akhmar memijat kening, sakit.
Sekitar lima menit, tanda itu datang. Kedua mata Safia perlahan terbuka, memperhatikan langit-langit rumah sakit yang putih bersih. Akhmar langsung menatapnya. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya. Sementara Safia sendiri belum menyadari betul kondisi diri sendiri.
Wanita itu berusaha untuk bangun, sekali pun kepalanya masih sakit.
"Kamu sebaiknya tiduran saja," kata Akhmar.
__ADS_1
Safia tidak mendengar. Tetap berusaha bangun dan akhirnya berhasil. Menyandarkan punggung ke tembok seraya melihat selang infus di tangan kanan. "Maaf, Pak, kenapa saya ada di sini, ya?" Safia belum menyadari sama sekali.
Akhmar diam sejenak, lalu berkata, "Kamu pingsan setelah makan siang. Saya tidak tau kenapa kamu bisa seperti ini karena yang saya lihat kamu tadi makan siang juga."
"Astagfirullah." Safia baru sadar. Setelah diingat-ingat pun, ternyata memang demikian. Ia mencari ponsel ke sekeliling. Tak ada. "Ponselku ke mana, ya? Apa aku lupa bawa tadi pas makan siang." Safia sedikit panik. Pekerjannya menumpuk dan ia sedang ada di sini sekarang.
"Kamu tidak membawa ponsel," kata Akhmar.
"Kamu sedang sakit!" Nada bicara Akhmar naik satu oktaf yang menyebabkan Safia tertegun dengan kedua kaki menggantung, tidak menginjak lantai. Akhmar menghela napas kasar. "Pikirkan dulu kondisimu sekarang. Kalau bukan kamu, siapa lagi yang mau memikirkan kondisimu?"
Safia diam. Akhmar bersikap terlalu berlebihan, tetapi kata-kata lelaki itu pun memang tidak ada yang salah. Bimbang.
"Kamu hanya memikirkan bagaimana orang lain. Tanpa kamu sadari, justru kamu sedang mendzolimi dirimu sendiri. Apa kamu tidak sadar itu?"
__ADS_1
Safia tak berkata apa pun, diam membisu seolah menerima semua perkataan Akhmar. Untung saja kamar ini memang diperuntukan untuk satu pasien saja sehingga mereka bebas membicarakan apa pun.
"Saya mungkin tidak tau bagaimana kamu menjalani hidup, tapi jangan sampai kamu mengorban dirimu terlalu berlebihan demi orang lain. Kamu berhak memilih jalan bahagiamu sendiri. Tidak peduli setajam apa pun ujung pisau yang mereka punya. Kamu harus tetap bisa bertahan menghalaunya," imbuh Akhmar.
Safia menenangkan diri. Rasa sesak mulai terasa di dada bersamaan dengan mengalirnya air mata membahasi pipi. Safia sudah menahannya sebisa mungkin, tetapi sulit rasanya. "Saya tidak tau harus apa, Pak."
Di hadapan Akhmar, Safia yang terkenal terlihat kuat itu pun menangis tersedu-sedu. Air matanya beranak sungai, bahkan sangat deras. "Saya malu, tapi saya tidak tau harus apa. Saya yang berusaha berubah ke arah lebih baik, ternyata Allah kasih saya ujian seberat ini. Kenapa?"
Akhmar mengepalkan kedua tangan. Tidak tahan melihat wanita menangis, tetapi sadar diri posisinya sekarang. Tak mungkin juga menyentuh Safia, kecuali memang darurat seperti tadi.
"Saya malu, Pak. Saya malu." Safia terus menangis tanpa henti seolah saat ini bersama Akhmar adalah kenyamanan yang dicarinya.
Akhmar memalingkan wajah ke sembarang arah, tak kuasa melihat itu. "Hapus air matamu. Saya tidak bisa melakukannya." Kedua tangan Akhmar semakin kencang mengepal. Menahan diri itu memang susah, tetapi berusaha sebaik mungkin itu adalah kewajiban. "Saya tidak punya alasan kuat untuk bisa menghapus air matamu dengan tangan saya sendiri."
__ADS_1