Menunggu Cincin Di Jari Manis

Menunggu Cincin Di Jari Manis
Notifikasi Pesan Grup Perusahaan


__ADS_3

Waktu berlalu begitu saja sampai hari baru pun tiba. Safia masuk kerja seperti biasa dengan keadaan yang semakin membaik karena mulai berdamai dengan keadaan. Wanita itu juga senang sekali bisa mengunjungi toko pakaian yang pertama memberikannya kepercayaan diri untuk menutup aurat sepenuhnya.


Dari pertama Safia turun dari mobil sampai masuk ke gedung kantornya, semua karyawan yang ada di sekelilingnya saling berbisik. Seolah sedang membicarakan dirinya.


Awalnya Safia acuh, tetapi lama kelamaan perempuan itu pun risih. Ketika menunggu lift, ia mendengar sendiri dua orang karyawan yang berada di belakang tengah bergosip.


"Sepertinya dia nggak tau deh masalah kemarin. Aku aja sampai melongo lihat fotonya. Dih, penampilannya yang sekarang cuma mau nutupin keburukan dia aja," kata karyawan perempuan berbaju merah.


"Padahal seluruh penghuni grup heboh, lho." Satu temannya lagi menjawab


Safia penasaran. Lift datang, semua karyawan masuk. Hanya Safia saja yang memutuskan tidak masuk. Begitu lift naik, Safia bergegas mengeluarkan ponsel. Barang yang sejak dua hari kemarin dirinya biarkan begitu saja. Memilih membaca novel ataupun menonton drama di laptop saja. "Sebenarnya mereka ngomongin apaan, sih?" Tangan Safia menscroll layar ponsel. Ada sekitar seribuan lebih pesan grup perusahaan yang sengaja Safia membisukan. Hal ini agar tidak mengganggu hari liburnya. Bukan hanya itu, banyak pula pesan dari Maria dan panggilan tak terjawab. "Ini kenapa juga Maria sampai telepon aku. Bukannya dia lagi liburan, ya?" Kening Safia mengerut kencang.

__ADS_1


Safia mengetuk grup perusahaan. Membaca dari awal dan tertegun ketika sebuah foto yang sangat dikenalinya beredar begitu saja. Entah siapa yang menggunggah, tetapi satu nama ada di otak Safia. "Laki-laki itu!" Tangan Safia mengepal bersamaan dengan rasa sesak dalam dada. Semua penghuni grup menanggapi negatif serta mencerca Safia yang sudah berubah dalam hal penampilan.


Jangan percaya sama dia. Sok alim doang!


Dih, aku kalau jadi dia nggak bakalan tuh berani ke kantor.


Padahal orangnya keliatan pendiam, lho.


Kira-kira dia bakalan kerja atau nggak, ya, setelah berita ini?


Safia menyimpan ponsel, berlarian ke arah koridor kanan. Hendak pergi ke toilet wanita dan mengurung diri di sana. Bahkan, telepon dari Maria pun dibiarkan begitu saja. Rasanya menyakitkan.

__ADS_1


Di toilet perempuan, tepatnya di salah satu kamar toilet. Safia terdiam sambil berurai air mata. Wanita itu mencari lagi ponsel pintar untuk mengirimkan pesan pada seseorang yang diyakini dirinya sebagai pelaku dari kegaduhan ini.


Tiba-tiba ada yang datang. Dua orang karyawan perempuan masuk dan membenahi dandan mereka di cermin yang tersedia.


"Eh, kamu yakin Safia itu masih gadis? Kalau aku, sih, nggak, ya," kata perempuan dengan lipstik berwarna nude orange.


Temannya mengeluarkan bedak dari salah satu brand terkenal. Terdiam sejenak, kemudian berkata, "Kalau dari foto yang disebar, sih. Aku rasa nggak, ya. Zaman sekarang itu susah cari yang murni. Sekali pun penampilannya dirubah, tetap aja jejak digital pasti ada."


Safia menghentikan tangis dengan tangan bergetar. Bagaimana menghadapi ini sekarang? Sementara pikirannya sulit bekerja sama. Hal yang paling tidak diinginkan justru terjadi di tengah kemantapannya berubah lebih baik.


Suara dua perempuan itu berhenti. Kemudian, terdengar suara pintu berbunyi. Mereka pasti keluar. Safia masih belum mengirimkan pesan. Tangannya terlalu gemetaran ketika melihat banyak notifikasi pesan dari grup perusahaan yang masih saja membahas tentang dirinya. Padahal di sana banyak pula teman satu tim Safia juga.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian, Safia menerima satu pesan. Perempuan itu tertegun ketika membacanya. "Keluarlah," bacanya. Safia masih diam. Untuk saat ini tidak ingin bertemu siapa pun.


"Jangan bersembunyi." Sekali lagi pesan di terima Safia dari nomor yang sama. Entah apa maksud si pengirim pesan. Namun, Safia masih enggan pergi dari tempat sempit tersebut.


__ADS_2