
Akhmar sibuk dengan dokumen yang harus segera dilaporkan ke atasan. Sebagai seorang manajer, ia jelas harus memeriksa lagi laporan keuangan yang disetorkan oleh bawahannya sebelum sampai ke atas.
Pemuda itu melonggarkan dasi, sesak. Sengaja membiarkan jendela terbuka lebar agar udara masuk. "Aku butuh kopi sepertinya." Arloji di tangan Akhmar menunjukkan pukul satu siang lewat tiga puluh lima menit. Waktu yang pas untuk menikmati secangkir kopi. Lelaki itu hendak berdiri, tetapi suara ketukan di pintu menghentikan aktifitasnya. "Ya, masuk." Kembali membenarkan dasi agar tetap terlihat sempurna.
Ternyata yang masuk adalah Safia yang membawa laporan keuangan mingguan serta satu cup kopi. Perempuan itu bergerak mendekati meja Akhmar, berdiri tegak di sana dan berkata, "Saya sudah menyelesaikan laporannya, Pak." Menyodorkan laporan itu ke meja Akhmar. "Pak Akhmar bisa memeriksanya lagi untuk memastikan."
Akhmar mengambil dokumen tersebut, menumpuknya di atas dokumen lainnya. "Baik. Terima kasih kerja kerasnya." Lelaki itu tidak berniat menoleh sedikit pun atau mengangkat kepala.
Safia menelan ludah. Sikap dingin Akhmar jelas bukan hal yang pertama, tetapi cukup bertambah suhunya. Dingin sekali. "Ini ada kopi panas untuk Pak Akhmar." Kali ini Safia memberikan cup kopi yang dibelinya beberapa menit lalu. "Saya tidak tau, rasa apa yang Bapak suka. Tapi, biasanya cappucino itu banyak diminati." Dengan hati berdebar Safia meneruskan kalimat. Bukan karena sedang berhadapan dengan lelaki yang dicintai, tetapi seorang atasan yang dikenal menyebalkan. Harus extra hati-hati supaya tidak melakukan kesalahan.
__ADS_1
Akhmar mengangkat kepala, melirik Safia. "Atas dasar apa kamu memberikan saya kopi?" Pertanyaan yang pastinya membuat jantung Safia bekerja dua kali lipat lebih cepat. Ditambah lagi dengan wajah serius Akhmar yang seolah sedang mengintrogasi Safia. "Apa hari ini kamu tidak sarapan sampai tak konsen?"
Dada Safia naik turun. Jangan terpancing emosi sampai melakukan kesalahan. Padahal niatnya cukup baik. "Maaf, Pak, saya mungkin tidak punya dasar untuk melakukan ini. Atau bahkan alasan kuat, tapi bukankah sebagai atasan dan bawahan ini hal yang wajar."
"Wajarnya?" Akhmar langsung menepis.
Akhmar bergeming. Safia menunggu reaksi lelaki dengan kedua alis tebal itu. Akhmar mengambil cup kopi di depannya, melihat-lihat sebentar. "Alasanmu bisa benar, bisa juga salah."
Kedua bola mata Safia membesar.
__ADS_1
"Benarnya, memang hal ini sudah lumrah di kalangan para pekerja. Salahnya, orang lain akan salah paham tentang kita." Akhmar menatap lagi Safia, kali ini dengan tatapan berbeda. Tidak seperti biasanya. "Menurutmu, perkataan saya ini salah atau benar?"
Safia mati kutu. Lelaki itu punya seribu bahasa untuk menaklukan lawannya. Padahal Akhmar terbilang lelaki yang tidak banyak bicara, tetapi mematikan juga.
Akhmar memegang cup kopi. "Tapi, untuk semua yang kamu lakukan hari ini, termasuk deadline laporan mingguan yang datang selalu tepat waktu. Saya ucapkan terima kasih." Sudut bibir kanan Akhmar terangkat ke atas, tersenyum kecil.
Ini pemandangan langkah. Safia sampai sulit bernapas. Hal yang bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
"Untuk itu, saya persilakan kamu segera keluar karena mungkin kalau terlalu lama di sini, kita akan jadi sasaran empuk para penggosip ria." Ekor mata Akhmar melirik dinding kaca. Terlihat beberapa karyawan perempuan mengamati keduanya. "Saya harap, kamu menutup telinga begitu keluar dari ruangan ini. Kalau bisa, tutup mata sekalian." Akhmar tersenyum tipis lagi.
__ADS_1