
Akhmar menahan diri untuk memukul lawan. Sebab, kekerasan bukanlah jalan terbaik dalam menyelesaikan masalah.
"Kalaupun saya mengincar Safia, saya tidak akan menghalalkan segala cara!"
Safia terkejut. Pernyataan macam apa itu? Bisa jadi sarang fitnah kembali.
"Kalau memang Anda lelaki sejati. Lelaki yang punya harga diri. Jangan sentuh sembarangan perempuan. Dengan itu saja sudah bisa membuktikan seperti apa kualitas diri Anda sendiri!" Akhmar menunjuk Faiz dengan jemari kanan.
Faiz kian kesal, tanpa berpikir panjang lagi langsung melayangkan sebuah pukulan ke arah hidung Akhmar yang menyebabkan lawannya tersungkur ke bawah dengan keadaan hidung berdarah.
Safia kaget. "Astagfirullah, Pak Akhmar!" Langsung menghampiri Akhmar.
"Saya tidak suka dihalangi!" Dada Faiz naik turun menahan amarah yang semakin meledak-ledak. Lelaki itu terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya.
"Pak Akhmar," lirih Safia yang kini berjongkok di depan Akhmar.
Tidak di duga keributan ini mengundang perhatian para karyawan lain, termasuk satpam. Faiz diamankan karena terus saja memakai Akhmar dengan perkataan kurang sopan, sedangkan Akhmar sendiri masih berada di lantai dengan hidung berdarah.
__ADS_1
"Ya Allah, Pak, kita ke rumah sakit saja, ya." Safia mulai cemas. Akhmar celaka karena membelanya. "Mari, saya antar."
Akhmar menyeka hidung, melihat warna merah darah. Kemudian, menatap Safia. "Tidak perlu. Saya bisa atasi ini semua." Lelaki itu berusaha berdiri, disusul oleh Safia. "Sepertinya saya harus segera menyelesaikan masalah ini ke pihak perusahaan."
"Tapi, Pak." Safia masih khawatir. Terlebih semua ini disebabkan oleh dirinya sendiri.
"Kamu juga harus ikut menyelesaikan. Jangan mau harga dirimu dilecehkan seperti ini. Ayo!" Akhmar melangkah pergi menjauh dari Safia.
Safia sendiri menatap punggung Akhmar. Terlihat lebar dan seperti hangat. Selain perlakukan Akhmar yang terasa begitu manis dan baik, rupanya Akhmar juga punya hati baik. Hanya saja, Akhmar juga memiliki kedisiplinan yang tinggi, di mana bawahannya tidak boleh telat ataupun melakukan kesalahan. Wajar saja, namanya juga manusia.
Seperti janji Akhmar, lelaki itu menyelesaikan masalah dengan elegant. Faiz mendapatkan sanksi dengan mengaku sebagai penyebar foto Safia. Awalnya jelas saja Faiz membantah, tetapi Akhmar punya banyak cara dan bukti untuk itu. Sedari foto itu tersebar pun Akhmar sudah memiliki firasat sehingga lelaki itu berusaha menyelidiki sendiri dengan berbagai cara.
Masalah Safia terselesaikan. Faiz pergi lebih dahulu, sedangkan Safia dan Akhmar masih ada di ruangan. Mereka mendapatkan nasihat dari direktur utama. Usai itu, keduanya pun diizinkan untuk keluar.
Hidung Akhmar masih berdarah, Safia bisa melihat itu. Akhmar berjalan lebih dahulu di koridor tersebut.
"Pak Akhmar," kata Safia.
__ADS_1
Langkah Akhmar berhenti seketika.
Safia menelan ludah. Punggung lelaki itu memang tampak lebar dilihat dari dekat atau jauh. "Saya minta maaf atas kejadian tadi." Safia membungkukkan badan.
Akhmar memegang hidung, sakit memang.
Safia menegakkan kepala lagi. Menghela napas kasar. "Terima kasih juga karena Pak Akhmar sekali lagi susah menolong saya. Entah dengan apa saya harus membalasnya."
Akhmar bergeming. Suasana di sekitar mereka begitu hening.
"Sekali lagi terima kasih, Pak." Safia berhutang budi dua kali dengan Akhmar. Pengorbanan atasannya itu memang luar biasa.
Akhmar berbalik badan. Melihat manik-manik cantik Safia dan berkata, "Saya tidak perlu balasan, tapi kalau kamu berkenan. Saya ada satu permintaan."
Safia mendadak gugup. Menunduk secepat mungkin. "Silakan, Pak. Mungkin saya bisa."
Akhmar mengamati bahasa tubuh Safia yang sedari tadi menunjukkan kegugupan. Lelaki itu tersenyum simpul, kemudian berkata, "Kamu mau sama saya?" tanya Akhmar.
__ADS_1