Menunggu Cincin Di Jari Manis

Menunggu Cincin Di Jari Manis
Membuktikan Diri


__ADS_3

Akhmar duduk di kursi. Baru kali ini mendapatkan bawahan seberani Safia, walaupun itu memang haknya. "Aku harus lebih bersabar. Ini baru permulaan." Lelaki itu mengeluarkan ponsel di saku jas, mencari kontak ibunya, hendak mengirimkan pesan.


Akhmar kembali bekerja. Peninggalan tugas dari manajer sebelumnya cukup banyak, terutama ada beberapa laporan yang terlihat ganjal dan ini bisa merugikan perusahaan.


***


Waktu salat Dzuhur tiba bersamaan dengan datangnya waktu istirahat. Mengingat Safia sedang dikejar deadline sekaligus sedang tidak salat juga, ada tamu bulanan. Ini juga yang membuat emosi Safia meledak-ledak, sebab hormon wanita yang sedang datang bulan itu memang mengerikan.


"Fia, kamu yakin nggak mau makan di kantin?" Maria khawatir jika terjadi sesuatu pada temannya. Yang bersangkutan justru hanya mengangguk cepat saja. Maria terdiam, melihat waktu yang semakin mendekat. Namun, pekerjaan Safia masih saja banyak. Ingin membantu, tetapi dirinya pun masih banyak pula. "Ya udah, nanti aku belikan makanan, ya?"


Safia mengangguk lagi, tidak bersuara. Maria pergi, hanya tinggal Safia yang masih bergelut dengan pekerjaan di tengah kenikmatan pekerja lain merasakan waktu istirahat.


Safia terus memeriksa angka demi angka, jangan sampai melakukan kesalahan. Jika iya, bisa saja dirinya mendapatkan protes lagi. "Aku harus bisa buktikan ke Pak Akhmar, kalau kami itu profesional."


Safia bekerja tanpa memperdulikan rasa laparnya. Maria kembali setelah satu jam di kantin, perempuan itu membawakan roti dan susu untuk Safia. Setidaknya temannya itu bisa mengganjal perut terlebih dahulu.

__ADS_1


"Makasih, Cantik," kata Safia sambil membuka roti. Ini sudah lebih dari cukup untuk membungkam para pendemo di perutnya. Jari jemari Safia kembali bergerak di keyboard. Harus lebih teliti lagi dan pastinya jangan sampai melakukan kesalahan.


Di tengah kesibukan yang ada, seorang pekerja lelaki memberitahu pada semua karyawan di sana jika malam ini ada acara makan malam bersama tim sebagai penyambutan Pak Akhmar. Sontak semuanya bersorak gembira, walaupun dari ruangan berkaca itu Akhmar memperhatikan mereka.


"Katanya, semua ditanggung perusahaan. Tenang saja, kita pesan yang paling mahal," kata karyawan lelaki berdasi hitam.


"Wah, aku setuju itu."


"Kita pesan daging sapi sekalian."


Beberapa dari mereka pun mengikuti percakapan ini.


Maria belum ikut, ia masih trauma dengan perkataan Akhmar. Namun, mulutnya sudah gatal juga. Setelah dua menit berdiam diri, akhirnya perempuan itu berbicara juga. "Pokoknya, malam ini kita buat pesta penyambutan semeriah mungkin. Setuju?"


Sorakan setuju dikeluarkan semua orang, tetapi tidak berlaku untuk Safia. Gadis itu memilih fokus pada pekerjaan yang semakin mendekati deadline.

__ADS_1


Detik waktu berjalan begitu cepat, Safia akhirnya bisa menyelesaikan laporan mingguan ini tepat di pukul dua siang kurang lima menit. Safia berdiri, meregangkan kedua tangan ke samping sambil berkata, "Alhamdulilah, selesai."


Semua mata tertuju padanya. Ada yang ikut bersyukur, adapula yang mengatakan hebat. Memang kinerja Safia itu tidak bisa diragukan, sudah terbukti di lapangan jika perempuan itu sangatlah berkompeten.


"Bagus, Fia!" Maria memberikan semangat sekaligus memberikan jempol juga. "Cepat serahkan sebelum Pak Akhmar datang."


"Iya." Safia langsung melakukan sisa tugas. Memprint lembar demi lembar laporan agar menjadi satu dan bisa disetorkan.


Semuanya selesai. Dengan langkah pasti dan membawa laporan di maps biru, Safia mengetuk pintu kaca ruangan Akhmar.


"Masuk." Suara Akhmar terdengar. Safia langsung membuka pintu, terlihat ruangan itu sudah tidak seperti biasa ketika ada Pak Suseno. Kemarin siang Akhmar memang meminta pelayanan kebersihan untuk ruangan ini.


Safia menghela napas kasar, meyakinkan diri untuk berjalan ke depan. Tak apa.


"Apa kamu mau mematung di sana terus?" tanya Akhmar yang sudah mengetahui maksud kedatangan Safia.

__ADS_1


Safia berjalan menghampiri Akhmar, berdiri di depannya dan berkata, "Ini laporan yang Bapak minta." Safia menyerahkan laporan itu ke depan wajah Akhmar. Sorot matanya begitu tajam dan serius. "Kesalahan saya memang mengobrol sebentar, tapi saya bisa buktikan kalau dalam bekerja, saya profesional. Laporan ini selesai tepat di waktu yang Pak Akhmar minta!"


__ADS_2