Menunggu Cincin Di Jari Manis

Menunggu Cincin Di Jari Manis
Perubahan Safia


__ADS_3

Esok datang menyapa setiap insan dengan lembaran baru, begitu pun dengan Safia. Gadis manis berusia dua puluh empat tahun itu berjalan dari parkiran mobil dengan menggunakan setelan tunik rok berwarna merah muda dengan jilbab hitam menutup dada. Manis sekali.


Beberapa teman satu perusahaan memperhatikan Safia, melihat penuh kekaguman. Namun, beberapa orang pun tampak terdiam. Melihat perubahan penampilan Safia yang terjadi dalam waktu dekat.


"Dia itu Safia bagian tim keuangan, kan?"


"Aku nggak nyangka dia semanis itu kalau pakai jilbab."


"Rasanya benar, katanya dia baru putus dari Faiz, bagian tim pemasaran."


Tiga karyawan lelaki yang berada di belakang Safia bergosip. Tentunya pengakhiran hubungan Safia dan Faiz sudah tersebar ke seluruh penghuni gedung. Tidak heran semuanya tahu.


Safia meyakinkan diri dengan perubahannya ini. Bertekad untuk istiqomah sebisa mungkin. Ketika hendak masuk ke gedung bertingkat, satpam kantor pun ikut terkejut.


"Masya Allah, ini Mbak Safia, kan?" Satpam lelaki itu sampai bertanya-tanya.


Safia berhenti, berdiri di depan pintu dan tersenyum simpul. "Iya, Pak. Saya Safia."

__ADS_1


Lelaki paruh baya itu takjub luar biasa. Safia lebih anggun dengan jilbabnya. "Saya sampai takjub melihatnya. Masya Allah, Mbak, semoga dimudahkan."


Banyak doa yang mengalir ketika perubahan itu dipilih Safia. Berharap semua doa itu bisa menjadi penguat serta penyemangat Safia. "Saya masuk dulu, Pak."


"Silakan, Mbak." Satpam membukakan pintu dari kaca. Membiarkan Safia masuk dengan harapan perempuan itu akan jauh lebih baik setelah berakhir hubungan dengan Faiz.


Bukan hanya satu ataupun dua orang yang memperhatikan Safia, tetapi banyak orang. Begitu pun ketika Safia berada di depan lift, menunggu giliran. Perempuan itu awalnya bersama dua belas orang karyawan lainnya, tetapi dikarenakan lift tidak akan masuk semuanya. Safia mengalah, menunggu lift berikutnya.


Safia berdiri tegak. Penampilan ini justru memberikan rasa percaya diri yang lebih banyak dari hari kemarin. Ia merasa aman dan bebas bergerak. "Aku rasa ini lebih baik. Semoga bisa terus belajar. Aku juga mau cari kajian yang bisa dihadiri." Safia mengeluarkan ponsel. Mencari beberapa postingan teman dunia maya yang kadang menshare postingan jadwal kajian terbaru.


Di sela-sela itu, Akhmar datang. Awalnya lelaki itu tidak menyadari wanita di sampingnya adalah Safia. Begitu lift datang dan mereka masuk, hanya berdua lagi. Barulah Akhmar menyadari. Lelaki itu tak banyak berkomentar, menekan tombol empat dan lift berjalan.


"Kenapa? Apa kamu mau turun dari lift?" tanya Akhmar tanpa berniat menoleh ke samping juga.


Safia mengerutkan kening, nada bicara Akhmar itu selalu tegas dan benar-benar terlihat aura kepemimpinannya. Akan tetapi, sebagian orang akan menganggap pria bertubuh tinggi itu seseorang yang menyeramkan. Safia memandang lurus ke depan lagi, merasakan lift berjalan. "Untuk apa aku turun di sini, tujuanku lantai empat, Pak."


"Syukurlah." Akhmar berdiri tegak.

__ADS_1


Suasana hening. Tidak ada satu pun yang naik lagi baik itu di lantai dua ataupun tiga. Begitu pun ketika mereka sampai di lantai empat. Safia lebih dahulu berjalan ke depan, tak disangka ponselnya terjatuh karena perempuan itu tergesa-gesa. Terpaksa Akhmar memungutnya, bergerak keluar dan memberikan benda pipih itu ke Safia. "Kamu harus belajar lebih waspada di area publik. Simpan barang berhargamu selama di area publik karena itu bisa menjadi pemicu kejahatan. Apa kamu tidak pernah mendengar banyak pencopetan akhir-akhir ini?"


Keduanya berdiri di depan lift, di lorong yang mendadak sepi. Tidak seperti biasanya.


Safia memang harus menghormati Akhmar sebagai pemimpin baru. Akan tetapi, cara bicara lelaki itu pedas sekali. "Maaf, ya, Pak, saya bukan tidak punya sopan santun. Tapi, rasanya Pak Akhmar ini, saya lihat-lihat terlalu banyak ikut campur urusan orang lain. Ingin tahu."


Akhmar menanggapinya dengan santai. Sudah biasa. "Saya hanya memperingatkan, bukan ingin campur. Kalau pun kamu tidak mendengarkan, itu hakmu." Lelaki itu berusaha untuk tidak terlibat pertemuan mata dengan Safia, melihat ke arah lain. "Tapi, ternyata saranku yang kemarin itu kamu dengar. Syukurlah."


Kening Safia mengerut kencang. "Saran yang mana, ya, Pak?" Ia merasa tidak mendapatkan hal itu dari Akhmar.


Tiba-tiba segerombolan orang datang dari lifr. Berhamburan ke depan sampai Akhmar dan Safia harus menepi ke samping kanan. Kini keduanya berada di jalur yang sama, saling berdampingan.


Beberapa orang itu menyapa Akhmar dan Safia, lalu berlalu begitu saja.


Akhmar membenarkan dasi, merasa sedikit risih dengan keramaian. Lelaki itu bahkan mengeluarkan hand stizer dari tas, menuangkan di kedua telapak tangan. Safia memperhatikan, melirik aneh.


"Hari ini jangan lupa laporan keuangan mingguan. Harus beres sore ini juga!" Akhma memasukkan benda pembersih tangan itu kembali ke tas dan berjalan melewati Safia.

__ADS_1


Safia melongo. Akhmar benar-benar pemimpin menyebalkan, sayang sekali Pak Suseno harus pensiun. "Manajer baru itu!" Safia mendengus kesal.


__ADS_2