Menunggu Cincin Di Jari Manis

Menunggu Cincin Di Jari Manis
Pertanyaan Sensitif.


__ADS_3

Akhmar mengembalikan ponsel milik Safia sambil berkata, "Kamu tidak perlu gugup. Saya tidak meminta penjelasan." Lelaki itu menatap sebentar Safia. "Semua orang pernah berbuat salah, termasuk saya."


Setelah mengatakan itu Akhmar sendiri langsung masuk kedai, menyusul bawahannya yang pasti sudah menunggu.


Safia terdiam dengan tangan bergetar memegang ponsel. Entah apa maksud dari si pengirim pesan berisi foto tersebut. Safia menghela napas kasar. "Jangan takut, harus tetap tenang." Sama seperti halnya Akhmar, perempuan itu juga masuk untuk bergabung dengan yang lain.


Di meja paling tengah dengan konsep lesehan, sebelas orang duduk tenang sambil menunggu pesanan datang. Mereka saling mengobrol satu sama lain, begitu pun dengan Akhmar yang berusaha melayani bercandaan receh dari bawahannya.


"Pak Akhmar ini dulunya manajer juga, ya?" tanya Lili, gadis manis dengan rambut panjang sebahu. Usianya hampir sama dengan Safia. Lili duduk di samping kanan Safia dan Maria sendiri ada di samping kiri.


"Jangan tanya seperti itu dong, pastinya Pak Akhmar manajer juga," serobot Doni yang ada di depan Lili.


Posisi Akhmar ada di samping Doni, menikmati es jeruk.


"Ih, kamu mah suka ikutan aja kalau orang lagi ngomong tuh!" Lili kesal. Mengambil es jeruk juga miliknya.

__ADS_1


Safia tenang, posisinya memang saling berhadapan dengan Akhmar, memang sedikit risih. Hanya saja Safia berusaha untuk tenang, jangan sampai terlihat sekali kegugupan di sorot mata.


Doni menoleh ke Akhmar. "Sebelum kamu tanya pun harusnya sudah tau dong, kalau Pak Akhmar ini pastinya punya jabatan yang sama juga di kantor cabang. Benar, kan, Pak?" Kali ini Doni bertanya pada Akhmar.


Akhmar memegang gelas. "Sebenarnya saya baru dua tahun ini menjabat jadi manajer." Lelaki itu diam sebentar, melirik Safia yang terlihat memiliki beban. "Saya juga dulunya karyawan biasa."


Semua orang menyimak, sepertinya kisah Akhmar menarik.


"Tidak menyangka akan mendapatkan kesempatan untuk datang ke kantor pusat karena kemampuan saya juga tidak terlalu baik," kata Akhmar menjelaskan.


Safia mengangkat kepala, langsung bertemu pandangan dengan Akhmar. Seketika itu juga wanita itu memalingkannya ke sembarang arah.


Sorak ramai penuh kebanggaan diberikan pada karyawan untuk Akhmar. Namun, bagi Akhmar itu bukan sesuatu yang perlu diberitahu. "Saya cuma bekerja dengan seprofesional mungkin karena saya sadar kalau bekerja itu memang seharusnya sepenuh hati. Jiwa saya seperti sudah menyatu dengan pekerjaan, tapi bukan artian saya melalaikan kewajiban lainnya."


Semua karyawan bersorak gembira juga, memandang lebih hormat pada kemampuan dan prinsip Akhmar. Ada yang dari mereka untuk bisa jadi seperti Akhmar suatu hari nanti.

__ADS_1


Maria melirik Safia, memperhatikan temannya itu yang berubah menjadi lebih kalem. Aneh sekali. "Kamu ngantuk, Fia?" Maria menyenggol lengan kiri Safia sambil berbisik.


Safia menoleh. "Nggak, kok."


"Dari tadi cuma diam. Kamu kurang suka?" Maria terus menyelidiki.


Kali ini Safia menggelengkan kepala. "Nggak juga."


Sementara Lili menatap Akhmar dengan lekat. Sebuah pertanyaan mendadak keluar dari pikiran, pastinya ini menarik. "Oh, ya, Pak Akhmar." Perempuan itu tersebut. Akhmar diam, yang lain pun sama. "Kita kan sedang di luar jam bekerja, apa saya boleh tanya sesuatu?"


Keheningan mendadak menghampiri tim keuangan tersebut. Maria memperhatikan Lili, wanita yang memang terlihat manis dan anggun juga banyak disukai oleh karyawan lelaki di tim mereka. "Pasti dia mau nanya yang aneh."


Safia mendengar itu, hanya saja diam.


"Apa Pak Akhmar sudah punya calon istri atau mungkin menikah?" Lili mengatakan itu sambil tersenyum kecil dengan tangan kanan masih memegang gelas berisi es jeruk. "Seperti yang Bapak tau kalau kedatangan Pak Akhmar ini sangat menghebohkan para karyawan perempuan. Mereka seolah berlomba-lomba ingin lebih dekat dengan Pak Akhmar."

__ADS_1


Kalimat itu seolah memukul rata semua wanita sama, Safia kurang setuju.


__ADS_2