
Laporan itu diterima Akhmar dengan baik. Safia kembali ke ruangan kerja. Rencana makan malam penyambutan Akhmar pun sudah disiapkan. Salah satu karyawan dari tim keuangan mendapatkan reservasi sebuah kedai makan yang terkenal dengan menu steak sapi dan olahan sapi lainnya. Tentu ini atas kesepakatan Akhmar juga.
Waktu terus berjalan sampai senja pun datang. Ruangan ini masih ramai, mereka sengaja tidak pulang agar bisa berangkat bersama setelah salat Magrib. Beberapa dari mereka justru masih mengejar target deadline juga.
Begitu azan Magrib berkumandang. Beberapa karyawan yang memang menganut agama Islam berhamburan turun ke lantai bawah, termasuk Akhmar. lainnya masih ada di sana, termasuk Safia yang memang sedang berhalangan.
Reservasi kedai itu didapatkan pukul setengah tujuh malam, cukup untuk mereka berkumpul. Sehabis yang lain salat, sebagian tim pun turun ke lantai bawah. Bertemu di parkiran dan menggunakan kendaraan masing-masing atau menumpang ke teman untuk berangkat ke sana.
Maria sendiri bersama Safia, gadis itu memang sengaja tidak membawa mobil karena sedang ada di bengkel. Maria duduk tenang di bangku depan, tepatnya di samping Safia. Gadis itu mengeluarkan ponsel, melihat beberapa postingan temannya di media sosial. Terkejut tatkala ada satu teman satu kampus sudah menikah. "Dewi udah nikah, Fia?" Menoleh ke samping kanan.
Safia terkejut, hampir saja menghentikan laju mobil. Melirik sekilas ke kiri. "Kata siapa?" Setahunya Dewi ini jarang sekali berinteraksi dengan orang lain sesama kuliah. Bahkan, temannya satu itu lebih senang menyendiri dibandingkan bersama teman lainnya.
"Aku lihat postingannya." Maria memperlihatkan layar ponsel ke depan Safia sebentar, menarik lagi setelah temannya itu melihat. "Ya Allah, aku shock banget."
__ADS_1
Safia pun sama.
"Aku kira dia bakal pergi ke luar negeri, ternyata menikah juga," sambung Maria yang mengetahui seluk beluk cita-cita Maria.
Safia juga tak menyangka. Menikah memang tidak ada salahnya, itu pun hak seseorang. Namun, di usia yang lumayan muda memang kebanyakan mayoritas wanita sekarang memilih mengejar karir lebih dahulu. "Mungkin itu pilihan terbaik buat dia." Area tempat tujuan sebentar lagi sampai. Fokus Safia melihat mobil temannya di depan, takut nanti ketinggalan.
Maria diam sejenak, benar juga perkataan Safia. Semua orang berhak memilih versi terbaiknya. "Aku rasa dia bahagia dengan pernikahan ini, lihat saja wajahnya pas pakai gaun pengantin."
Safia dan Maria turun, sama seperti karyawan lainnya. Akhmar juga sama.
"Saya baru di sini, jadi saya harap kalian bisa memilih tempat terbaik," kata Akhmad. Arti dari kalimat Akhmar sebenarnya simpel, semoga saja tempat makan ini sangat pas dengan keinginan semua tim.
"Insyaa Allah, ini paling baik, Pak."
__ADS_1
"Benar itu, Pak."
Dua karyawan menjawab perkataan Akhmar. Ekor mata lelaki itu melirik Safia yang sibuk berbicara dengan Maria, wanita itu berubah menjadi mode santai ketika di luar jam kerja.
"Baik, kita langsung masuk saja," kata Akhmar.
Semua orang bersorak riang sambil berjalan lebih dahulu, sedangkan Safia sendiri ternyata berdiam diri dengan mengeluarkan ponsel. Membuat Akhmar ikut terdiam juga dengan jarak hanya dua meter dari perempuan itu.
Safia mendapatkan pesan dari seseorang. Gadis itu melihat isi pesan serta sebuah foto. Kedua pupil matanya membesar dengan tangan bergetaran. Ini tidak mungkin.
Akhmar mengamati, curiga ada hal buruk terjadi. Lelaki itu memutuskan untuk menghampiri Safia, dan berdiri tepat di depan perempuan itu seraya berkata, "Ada apa?" Safia tersentak bersamaan dengan ponsel perempuan itu terjatuh. Akhmar semakin curiga, inisiatif memungut ponsel Safia dengan tujuan baik. Sebab, Safia seperti ketakutan. Tangan Akhmar memungut benda canggih itu, untung saja tidak ada yang retak. Namun, ketika Akhmar berhasil berdiri dan tidak sengaja melihat jepretan kamera yang terpampang jelas di layar ponsel tersebut membuat Akhmar membulatkan kedua mata.
"I-itu." Safia panik sekaligus bingung. Entah apa yang akan terjadi ke depannya.
__ADS_1