
Akhmar dipanggil ke ruangan Direktur untuk membicarakan gosip yang beredar. Ia duduk dengan tenang.
"Bukannya Pak Akhmar sudah berkerja cukup lama sebagai manager?" tanya Direktur paruh baya itu.
Akhmar mengangguk cepat. "Benar, Pak. Lebih tepatnya sekitar tiga tahun." Akhmar memberikan kejelasan.
"Seharusnya kamu bisa menangani ini sebelum terjadi. Istilahnya, kamu harus mengurus timmu sendiri!" Direktur itu sedikit menekan dengan suara tinggi. Mungkin kecewa dan marah juga. "Saya memperkerjakan karena merasa kinerjamu sangat baik di kantor cabang, tapi justru kamu tidak bisa mengatasi hal sereceh ini."
Akhmar diam sejenak. Berpikir untuk menjawab.
"Manager yang lama itu tidak pernah ada kasus seperti ini dan ini baru terjadi saat Pak Akhmar memimpin," imbuh Direktur tersebut.
__ADS_1
Akhmar akui gosip tersebut cukup mengkhawatirkan. Memang perusahaan sedikit mengalami kerugian dan belum terdeteksi dari mana kebocorannya. Gosip ini bisa menekan bagian keuangan menjadi sorotan seluruh kantor dan akhirnya timbul fitnah.
"Saya akan usahakan mencari pelaku dan kebenarannya karena selama ini semua laporan yang masuk selalu saya periksa lebih dulu," kata Akhmar. Sejauh menjabat, ia berusaha untuk bekerja secara profesional.
"Saya tidak mau tau, kamu perlu bertanggung jawab atas semua ini!" Direktur itu berdiri, menatap tajam Akhmar. "Silakan bekerja kembali. Saya harus meeting."
Akhmar mengerti. Berdiri, lalu membungkuk sedikit. "Baik, Pak. Saya permisi." Dengan berat hati keluar dari ruangan Direktur. Berdiri di depan pintu, membenarkan dasi hitam. Melirik arloji di tangan kanan, sudah waktunya salat Dzuhur dan makan siang. Namun, perut Akhmar sama sekali tidak menginginkan itu. Akhmar kembali ke ruangannya dan bekerja lagi.
Selang setengah jam, suara azan berkumandang. Ia pun bergegas menutup laptop dan pergi ke lantai bawah untuk melaksanakan kewajiban. Desas desus gosip itu semakin meninggi dan hampir menjatuhkan tim keuangan. Bahkan ada kalimat yang sedikit mengganggu pikiran Akmar.
Akhmar tidak bisa membela diri sekarang karena belum memiliki bukit kuat. Memilih bungkam lebih dahulu sambil mencari kebenaran. Setelah salat, Akhmar memutuskan untuk naik ke rootop. Tempat di mana jarang sekali orang datang. Di mana ketenangan akan didapatkan.
__ADS_1
Begitu sampai sana, Akhmar langsung duduk di bangku panjang. Sepertinya memang disiapkan untuk orang yang ingin tinggal sebentar.
Akhmar menatap langit, cerah dengan cahaya matahari cukup panas. Banyak orang yang sedang berlalu lalang mencari isi perut, tetapi Akhmar justru terduduk lesu dengan pemikiran sulit diajak kompromi. "Ibu, maaf." Lelaki itu menunduk. "Hari ini aku tidak bisa memakan bekalnya." Lelaki itu sedang tidak baik-baik saja.
Angin berhembus kencang, memberikan kesegaran dan menerbangkan apa saja yang ada di depan mata. Dari atas sana, Akhmar terasa sedang bertemu dengan Angin dalam empat mata. Bisa merasakan terbang ke angkasa, padahal hanya duduk di bangku saja. Ketenangan itu didapat, walaupun pasti hanya sesaat. Sebab, masalah harus tetap dihadapi.
Di sela-sela ketenangan, ia dikejutkan dengan suara pintu rootop terbuka. Akhmar menoleh, mendapati Safia datang dengan napas terengah-engah. "Akhirnya," katanya. Akhmar tak tahu tujuan perempuan itu menemui. Lebih tepatnya, menemukan dirinya di sini.
"Ada apa?" tanya Akhmar sambil memalingkan wajah ke depan. Suasana hatinya kurang baik, tentu sedang tidak ingin berinteraksi banyak dengan orang lain.
Safia membawa satu kantong plastik hitam dan berjalan menghampiri Akhmar. "Anggap ini sebagai rasa terima kasih saya, Pak." Safia menyodorkan itu ke depan.
__ADS_1
Akhmar melirik sekilas. "Tidak perlu. Saya memang berniat tidak makan siang hari ini." Akhmar menolak halus. Kedua tangannya disatukan menompang di kedua paha.
Safia mengatur napas. Perjuangan naik ke lantai paling atas dengan kondisi lift mati, entah apa penyebabnya. Mengantarkan Safia pada rasa marah. "Seharusnya Bapak menghargai pemberian orang lain!" Safia menaikkan satu oktaf nada bicara. Akhmar terdiam. "Saya tau masalah ini cukup berat, tapi kalau sampai mengabaikan kesehatan. Itu jelas sudah mendzolimi diri sendiri. Bapak tidak bisa dipercaya, buktinya tidak menjaga amanah tubuh yang dititipkan Allah."