
Safia memberanikan diri untuk keluar dari toilet setelah suara dua orang wanita itu pergi. Kedua kakinya melangkah dengan ragu. Membuka pintu toilet dan meyakinkan diri keluar dari sana.
Ketika Safia berdiri di depan pintu, perempuan itu terkejut ketika melihat dua pasang kaki yang memakai sepatu hitam. Perlahan Safia mengangkat kepala, mendapati sosok Akhmar di sana. "Kenapa harus bersembunyi?" Lelaki itu langsung bertanya.
Safia bergeming. Jejak air kemalangan itu masih ada di pipi Safia, membekas sampai ke jiwa.
Akhmar berdiri sambil menenteng tas hitam yang selalu dibawanya. Penampilan lelaki itu pun masih sama, begitu memukau. "Masalah itu datang bukan untuk dihindari, tapi diselesaikan secara baik-baik. Kalau kamu memilih pergi, itu artinya kamu membiarkan mereka membenarkan opininya."
Safia tersentak. Akhmar tak bisa mengerti posisinya sekarang. "Pak Akhmar bisa mudah mengatakan itu karena tidak merasakan."
Akhmar diam. Menatap Safia dalam. "Kamu yakin dengan ucapanmu?"
__ADS_1
"Kenapa aku tidak boleh yakin?"
"Karena setiap ucapan itu punya tanggung jawab sendiri." Akhmar mengambil dua langkah ke depan. Jaraknya dengan Safia hanya tinggal sekitar satu meter saja. "Kamu hanya melihat saya dari sisi manisnya, tentu kamu tidak tau bagaimana sisi pahitnya. Jadi, jangan berpikiran begitu. Bisa saja orang lain mengalami hal yang lebih buruk dari kamu."
Kedua mata Safia membesar. Setiap kata-kata Akhmar mengandung begitu banyak pesan moral. Jika diperhatikan seksama, Akhmar seperti sedang berubah menjadi seorang penasihat. "Saya harap, kamu bisa melawan keadaan ini. Kamu pasti punya seseorang yang diyakini sebagai penyebar foto bukan?"
Suasana hening. Tak ada satu pun orang yang datang, sunyi sepi.
"Kalau memang ada, beritahu saya." Akhmar melanjutkan kalimatnya.
Akhmar bisa memahami bagaimana perasaan Safia sekarang. Pastinya perempuan itu sedang tidak baik-baik saja. Oleh sebab itu, ia pun harus bisa sedikit bersikap lembut agar bisa memenangkan perdebatan ini. "Masalah yang ditimbulkan pelaku ini cukup besar dan sudah menjadi fitnah. Mungkin saya tidak tau apa yang telah kalian lakukan, tapi saya hanya tidak suka ada orang yang mengusik orang lain yang sudah berusaha berubah."
__ADS_1
"Apa Pak Akhmar juga menganggap saya seorang wanita gampangan?" Safia naik pitam. Mungkin karena suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. "Benar. Saya salah menganggap Pak Akhmar bisa berpikiran lain, semua orang sama saja." Safia berjalan ke depan, melewati Akhmar.
"Saya tidak menganggap kamu seperti itu!" Akhmar langsung menjelaskan. Safia menghentikan langkah. Posisi keduanya sekarang saling membelakangi. "Kalau memang saya punya pemikiran yang sama, sudah pasti saya tidak perlu repot-repot setengah berlari mengejarmu tadi."
Kedua mata Safia membesar. Tidak mungkin.
Akhmar berbalik badan. Kini hanya punggung Safia yang bisa dilihat. "Saya bukan orang yang senang mencampuri urusan orang lain. Itu hak mereka. Tapi, ini berbeda."
"Apa bedanya?" tanya Safia.
Akhmar diam sejenak. Semakin lama melihat sosok Safia, Akhmar semakin yakin jika kebaikan itu akan selalu kembali pada pemiliknya.
__ADS_1
"Saya rasa Pak Akhmar cuma ingin memperlihatkan betapa pedulinya Pak Akhmar pada bawahan, padahal di balik itu hati Pak Akhmar tetap saja menganggap saya tetap gampangan," tutur Safia.
Safia meneruskan ayunan langkah sampai dia kali, tetapi berhenti seketika ketika Akhmar membuka mulut lagi. Terdiam, terlalu shock.