Menunggu Cincin Di Jari Manis

Menunggu Cincin Di Jari Manis
Menunggu Laporan


__ADS_3

"Karena sebagai seorang lelaki dan sesama muslim, saya merasa punya tanggung jawab saat saudara saya sendiri sedang dalam masalah," tutur Akhmar dengan penuh keyakinan.


Telinga Safia tidak salah dengar. Itu kata-kata yang dikeluarkan Akhmar sendiri.


Akhmar berjalan dua langkah ke depan dan berkata, "Kalau kamu merasa risih, katakan pada saya. Dengan seperti itu, saya akan langsung bertindak lebih lanjut."


Setelah mengatakan itu, Akhmar pun pergi meninggalkan Safia sendiri. Akhmar sebenarnya sudah tahu dari hari kemarin. Bahkan saat bertemu dengan Safia di bioskop, ia sempat khawatir. Hanya saja melihat Safia yang tenang, ia mengira jika Safia begitu santai dan bisa berdamai dengan keadaan.


***


Waktu terus berjalan, Safia merasa semakin risih dengan gosip yang terus beredar luas. Bahkan Maria menceritakan jika ada topik baru dan hangat terbaru tentang Safia. Beberapa orang mengatakan jika mereka meragukan atas kegadisan Safia.


"Kamu yakin nggak bakal bertindak?" Maria bertanya ketika mereka sedang makan siang di kantin.


Safia tak bisa menelan mie ayam yang biasanya sangat nikmat untuk disantap. Sedari tadi wanita itu hanya menatapnya saja. "Aku nggak tau harus berbuat apa. Gosipnya semakin menyebar dan sampai sekarang aku sama sekali belum tau dari mana foto itu datang."


Maria menelan lebih dulu bakso kecil ke tenggorokan dan menatap Safia. "Kamu merasa nggak pernah foto pakai bikini seperti itu?"


Safia sama sekali tidak ingat. Menggelengkan kepala dua kali. "Nggak ingat sama sekali, Mar."


"Duh, bingung juga." Maria kembali menelan bakso kecil. Baginya tidak ada yang perlu dibelah, langsung masuk saja. "Kalau dilihat dari fotonya, itu kayak diambil di sebuah tempat wisata. Kamu nggak ingat sama sekali?"


Safia kian sakit kepala. Menuduh Faiz pun, tidak mungkin. Sebab, dirinya jarang sekali pergi ke luar kota dengan Faiz selain ada pekerjaan. "Astagfirullah, aku rasanya mau menghilang aja dari bumi ini." Safia memperhatikan sekitar. Banyak sekali mata memandangi mereka, banyak pula dari karyawan lelaki yang seolah membayangkan hal di luar nalar. "Aku nggak bisa makan kayaknya." Safia menyembunyikan wajah di meja. Malu sekali, tetapi perutnya pun membutuhkan nutrisi.


Maria ikut berpikir kencang, kemudian ekor mata wanita itu mendapatkan sosok Akhmar yang membawa tas bekal dan duduk di bangku pojok. Tak habis pikir. Seorang manajer seperti Akhmar masih berkenan dibawakan bekal. "Itu Pak Akhmar beneran, kan?" Maria menunjuk ke arah belakang.


Safia tidak merespon. Tak peduli itu Akhmar atau bukan, dirinya sedang tidak baik-baik saja.


"Iya, benar." Maria menjawab pertanyaannya sendiri. "Hebat banget." Barulah Safia penasaran. Wanita itu mengangkat kepala, menatap Maria. "Kenapa sama Pak Akhmar?" tanyanya penuh rasa penasaran. Maria diam, masih tidak ingin menurunkan telunjuk tangannya. Sontak saja Safia mengikuti arah tersebut dan mendapati pemandangan luar biasa.

__ADS_1


"Padahal sekelas Pak Akhmar bisa makan enak di luar, lho," kata Maria lagi.


Safia diam, memerhatikan Akhmar yang acuh dan cuek dengan pandangan sekitar ketika lelaki itu mengeluarkan sekotak bekal berwarna putih dengan tumbler juga. Benar-benar seperti anak sekolah yang diberikan bekal oleh ibu tersayang.


Beberapa pandangan akhirnya tersita pada Akhmar. Tak lagi mengarah pada Safia. Bahkan para karyawan perempuan tidak lagi peduli dengan gosip Safia. Hanya terfokus untuk Akhmar.


"Aku pengen jadi istrinya, deh."


"Coba Pak Akhmar cari calon istri, ya. Pasti aku duluan yang daftar."


"Jangan aneh, deh!"


Bisik-bisik tetangga yang terdengar dari meja belakang begitu jelas. Ketampanan Akhmar sanggup mengalihkan dunia para karyawan perempuan. Luar biasa sekali.


Maria memperhatikan sekitar. Pandangan risih itu berhenti, setidaknya untuk beberapa saat saja. "Luar biasa, semua orang langsung ngeliatan Pak Akhmar. Lupa sama kamu."


Safia bergeming. Itu benar terjadi. Kembali Safia melihat mangkuk mie ayam yang belum tersentuh sama sekali. Mungkin saja Akhmar sengaja datang ke kantin karena biasanya memang Akhmar akan makan di ruangan kerja. "Dia beneran peduli." Safia meraih garpu. Jika dibiarkan perutnya akan sakitlo karena terus menerus menahan lapar.


"Ah, nggak. Orang lain ternyata peduli juga." Safia mulai makan. Jam istirahat akan segera berakhir, setidaknya biarkan perut terisi dengan damai.


Makan siang selesai. Safia langsung naik ke lantai empat dan duduk di meja. Lili menghampiri dan mencondongkan badan ke arah Safia dari belakang. "Fia, kamu nggak merasa risih liat foto itu?"


Safia tersentak. "Astagfirullah." Menoleh ke belakang bersaman dengan Lili yang menarik tubuhnya lagi dan kini berdiri tegak di belakang. "Kamu datang jangan tiba-tiba gitu. Aku bisa jantungan."


Lili menatap tajam. Melihat sorot mata Safia yang tampaknya terus menerus menangis, hanya saja perempuan itu menyembunyikan dengan baik. "Kamu nggak marah lihat ini semua? Kamu nggak ada niatan laporkan ke IT kantor?" Di sini Lili merasa kesal. Wanita itu menyorotkan pandangan tajam.


Safia mengalihkan pandangan lagi. "Kalau kamu mau bahas masalah itu, lebih baik pergi aja. Aku lagi nggak bisa mikir sekarang."


Lili membalikkan badan Safia sekaligus dengan kursinya. "Kamu nggak tau, ya? kalau banyak karyawan laki-laki yang katanya pengen dekatin kamu sekarang."

__ADS_1


Safia kaget. "Buat apa?"


Lili menghela napas kasar. "Ya, jelas aja mereka menganggap kamu itu wanita gampangan yang bisa didekati mudah. Sebagian lagi menganggap kamu itu cuma berubah penampilan aja, tapi dalamnya bobrok."


Kalimat itu memang menyakitkan, tetapi Safia tidak bisa menghentikan semuanya. Itu di luar kendali.


"Kamu harus cepat bertindak!" Lili menepuk kedua pundak Safia. "Kalau kamu merasa malu, kamu bisa manfaatkan Pak Akhmar."


Kening Safia mengerut kencang. "Manfaatkan Pak Akhmar?" Perempuan itu bertanya balik. Sungguh tidak memahami.


Lili mengangguk pelan. "Pak Akhmar itu atasan kita dan seharusnya udah jadi tempat bernaung. Setidaknya dia bisa bantu kamu buat cari pembuat onar ini."


Safia teringat lagi perkataan Akhmar tadi pagi. Lalu, menyambungkannya dengan sikap Akhmar lagi saat makan siang.


"Aku yakin dalam hati kamu itu ngerasa down. Apalagi foto itu pasti tersebar ke mana-mana. Orang jail pastinya simpan foto itu buat hal gila. Kamu pasti paham karena sekarang semuanya serba canggih dan gila," ucap Lili.


Safia diam. Semua perkataan Lili disaring sebisa mungkin, jangan sampai bertindak gegabah. Di sea-sela perbincangan, ponsel Safia berbunyi. Sebuah pesan didapati. Dengan cepat Safia membuka, membaca satu per-satu kata yang disusun menjadi kalimat itu. "Saya masih menunggu laporanmu," baca Safia. Wanita itu diam. Menimbang semua saran dan semakin merasa pusing. Perlahan pandangannya kabur, tak lagi terlihat jelas. Masih dengan memegang ponsel, Safia mendadak jatuh ke bawah.


Lili kaget. "Safia!" Suaranya berhasil menarik perhatian teman satu ruangan. Maria masih belum datang karena berniat membeli kopi lebih dahulu.


"Fia kenapa?"


"Eh, tolongin dong!"


"Takutnya dia kenapa-napa!"


Lima orang mendekati Safia. Suara bising itu menarik perhatian Akhmar yang sudah ada di ruangan. Lelaki itu menyimpan ponsel, kemudian bergegas keluar. "Ada apa ini?" Melihat karyawannya berkumpul di satu titik.


Salah satu dari mereka menoleh ke belakang dan berkata, "Safia pingsan, Pak."

__ADS_1


Setelah mendengar kalimat itu, Akhmar tanpa pikir panjang langsung berjalan cepat. Padahal tadi Safia terlihat sedang makan, kenapa pingsan? mungkinkah gadis itu merasa tertekan sehingga kekuatan tubuhnya melemah?


__ADS_2