
“Ini dapat ikan, sama rusa kecil.“
Ronggo meletakkan hasil buruannya di depan Putri yang tengah membuat peralatan membangun rumah tangga. Putri menerima sembari menghentikan kegiatannya.
“Lumayan kita masak,“ ujarnya dengan senang.
Maklum sedari tadi perut juga belum terisi. Dan hari ini ada rejeki yang bisa dinikmati.
Ikannya ini buat lauk. Tak ada yang lain. Yang dimaksud tentu nasi. Darimana mendapatkan kalau tempatnya saja demikian jauh. Andai mau menanam mungkin enam bulan berikut baru bisa menikmati.
“Ikannya kita masak pakai kuah saja,“ ujar Putri. Dia ingin menikmati makanan berkuah. Lumayan sebagai pengisi air dalam tubuhnya juga. Daripada hanya makanan kering terus yang kurang menyegarkan tenggorokkannya. Mumpung ada yang dimasak mendingan kali ini akan dibuat masakan seperti itu.
“Bakar saja lah biar cepat masak, ikan-ikan kecil itu bakalan lumayan kalau untuk dinikmati sesaat,“ ujar Ronggo. Dia rupanya sudah ingin menikmati makanan hasil jerih payahnya. Kalau dimasak rumit, bakalan lama masakan itu masuk dalam perutnya.
__ADS_1
Putri hanya diam, namun dia kemudian berusaha mengolahnya. Dia juga paham. Orang itu tentunya ingin menikmati olahannya.
Sedangkan Ronggo hanya duduk sembari menikmati minuman putih tapi panas yang ditaruh pada gelas bambu.
Ikan dibakar hanya dengan menyisiki sisiknya lalu dicuci dan bagian dalamnya dibuang. Kemudian ditusuk macam sate. Dan dimasukkan langsung pada api. Dengan demikian bakalan segera matang. Tentunya dibandingkan jika harus mengolahnya menjadi masakan lain.
“Ini sudah matang,“ Putri memberinya dengan menaruh pada daun pisang. Ikan-ikan masak itu dicabut dari kayu penusuknya, kemudian ditata pada lembaran daunan tersebut.
Daun tersebut diletakkan di mukanya. Ronggo menerima dengan senang hati. Bakalan menikmati masakan dari wanita yang demikian dicintainya ini. Pasti rasanya bakalan sangat nikmat. Meskipun bentuknya hanya demikian saja. Tapi karena dinikmati menggunakan rasa yang mendalam, maka sesederhana apaun itu, akan sangat puas kala menikmatinya.
Hasilnya memang terlihat unik. Dengan beberapa bagian menghitam akibat gosong. Dan tak ada masakan lainnya. Namun demikian sudah cukup untuk mengganjal perut. Ronggo terus mencubiti daging ikan tersebut. Dan putri mengikutinya.
“Banyak durinya,“ kata Ronggo namun mulutnya terus memakan yang kuat dia telan.
__ADS_1
“Maklum kecil.“ Terkadang durinya itu, atau tulang bagian tengahnya, bisa dia gigit dan langsung ditelannya juga.
Yang berikutnya dikerjakan adalah menangani daging buruan. Dia sudah lumayan kenyang dengan memakan ikan-ikan kecil bakaran tersebut.
“Aku bawa dulu daging ini.“
“Cuci saja sekali. Tadi sudah aku cuci. Tinggal membilasnya. “
Pada kali yang jernih daging dicuci kembali. Dipotong–potong dalam potongan yang kecil-kecil. Kemudian dikasih bumbu seadanya.
Dalam kuali sederhana buatan sendiri daging di masak. Diatas bara kayu yang aromanya mengundang selera dan sangat khas.
Pada kuali sederhana tanpa penutup itu pula daging dimasak dengan kuah. Barangkali dengan demikian, bakalan bisa lebih membuat kenyang perut.
__ADS_1
Beberapa bagian daging yang sudah matang diambilnya ditaruh pada alas daun pisang dan disajikan di depan Ronggo. Keduanya mulai menikmati.
Setelah sepotong habis, diambil lagi dalam kuali yang dibiarkan berada di atas api yang masih menyala. Demikian terus dilakukan berulang kali, hingga kenyang.