Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding

Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding
Goa


__ADS_3

Setelah memakan makanan yang bisa di mamah biak itu, mereka kembali jalan. Perut kenyang. Tenaga juga pulih. Kemampuannya juga berlipat. Sehingga dengan mudah mereka melewati daerah tersebut.


“Nah ini agak rimbun,“ kata Ronggo Bintoro menemukan tempat yang lumayan enak. Jaraknya tak demikian jauh dari daerah indah sebelumnya. Namun juga tidak dekat sekali. Karena langkah mereka kali ini sudah demikian tangguh untuk melewati jalanan rumit rimba di kaki bukit tersebut.


“Apa itu?“ tanya Putri. Dia memandangnya dengan keheranan.


“Goa lah,“ jelas Ronggo. Tak ada tempat yang lebih baik selain tempat tersebut. Selain sudah tersedia oleh alam. Juga tebingnya mampu melindungi dari segala cuaca yang mudah berubah. Angin yang dingin, kabut pagi yang terjadi diesok. Juga kala siang, dimana terik mentari menyengat sinarnya. Didalamnya bakalan mampu mengurangi penderitaan tersebut.


“Ada binatang lain tidak? Biasanya tempat yang nyaman begitu, ada saja binatang yang lebih dulu menggunakannya untuk kepentingan pribadi.“


“Sebentar aku teliti dulu goa ini, jika yang kamu khawatirkan benar-benar menjadi kenyataan.“


Ronggo menyelidiki. Mulai dari ujung yang satu, hingga ujung berikutnya. Siapa tahu benar kata rekannya itu, ada binatang liar didalamnya. Senang kalau yang ada, binatang enak dimakan. Kalau yang ditemui binatang berbahaya, bakalan membuat rasa takut menyelimuti diri. Atau bahkan membuat celaka, kalau binatang liar itu semacam harimau atau ular beludak.


Relung Goa ini ada di suatu dinding perbukitan. Memang tak dalam, namun memanjang. Sangat aneh. Tak seperti kebanyakan goa pada umumnya, yang biasanya masuk hingga kedalaman tak terhingga. Atau menembus suatu perbukitan secara vertikal seperti sumur, untuk bertemu dengan aliran air pada bagian dasarnya, yang menjadi pendahulu terciptanya suatu relung gua dalam, hingga sangat jauh, bahkan sampai ujung lautan tempat bertemunya aliran air tersebut dengan samudera luas, yang menjadi bagian bawah suatu perjalanan air.


“Sudah aman kayaknya. Tak ada penghuni lain selain kita. Sini istirahat,“ ujar si Ronggo setelah yakin tempat itu kosong.


Putri senang dia lalu mencoba duduk.


“Kamu jangan dekat-dekat ya. Agak kesana-kemari duduknya, ih...“ kata si Putri sembari mendorong Ronggo yang agaknya ingin berdekatan terus. Entah dingin atau ada suatu misteri yang hanya sang paman itu yang tahu.

__ADS_1


Ronggo hanya tersenyum dan bergeser. Sedikit sekali.


“Bikin api unggun lagi kenapa Paman Tor,“ ujar Putri Cipto Rini merasa agak kedinginan. Kelihatannya enak kalau ada penghangat. Meskipun cuma api.


“Jangan panggil itu nama!“ kata Ronggo Bintoro.


“Namamu siapa?”


“Ronggo Bintoro.“


“Mulut-mulut gua. Kenapa dipanggil itu tak mau?“ ujar Putri sedikit mengernyitkan bibirnya.


“Maunya?“


“Aa Ron atau Bin kan enak di telinga.“ Ronggo memberi solusi terbaik.


Putri terus mencibir. “Terserah gua lah.“


Ronggo hanya bisa manyun.


Lalu ucapnya, “kalau kita bikin api didepan sini nanti asapnya masuk kesini semua.“

__ADS_1


“Begini saja dulu lah,“ ujar Ronggo sembari duduk santai. Melepas segala rasa lelah.


“Nih, makan daging sisa tadi saja.“


Tunjuknya


Putri hanya diam.


Kata Ronggo lagi, “enak nih didekat sini. Ada relung dinding dengan belakangnya agak rata, dibanding sisi lain yang lumayan memanjang itu. Tapi tak semuanya enak buat sandaran.“


“Kotor ya,“ kata Putri merasa tak nyaman berada pada tempat sepi begitu.


“Lumayan bersih kok,“ ujar Ronggo. Setidaknya kalau dibandingkan didekat sungai atau tempat lain, yang sebelumnya mereka lewati.


“Ini pakai daun. Buat menyapu.“


Berdua mereka kembali bangkit guna membersihkan gua yang memanjang tapi tidak dalam. Dengan memakai dedaunan dari tumbuhan pendek sebagai sapu. Dan ujung tombak untuk menyingkap batu-batu sekepalan tangan. Mereka berupaya membuat lantai datarnya semakin nikmat untuk ditinggali.


“Lumayan hangat.“


Setidaknya angin hanya datang dari depan. Dari sisi lainnya dapat terlindungi. Dalam tempat terbuka itu, hanya dilindungi oleh bebatuan berongga yang tak tentu bentuknya.

__ADS_1


__ADS_2