Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding

Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding
Hujan


__ADS_3

“Wah hujan,“ hari itu serasa beda. Langit kembali gelap. Awan mendung terus menutupi sinar mentari. Dan kilat sesekali menyambar. Diiringi turunnya air.


“Bagaimana sih ini?“ ujar Putri kebingungan. Bagian gua itu sama sekali tak mampu melindungi mereka. Air dari arah depan mengucur deras. Sedangkan bagian itu sama sekali tak terlindung. Ronggo tak membuat atap untuk menaunginya. Pikirnya hanya untuk sementara. Hingga air bebas menerobosnya. Kalau teduh dengan dedaunan lebar, mungkin akan sedikit bisa melindungi. Ini sama sekali tiada. Jangankan daun kuat, anyaman daun kelapa yang tertata, yang bisa memayungi serta menahan luapan air, juga tak dibuat. Kalau tidak, bambu-bambu yang dibuat bilik, agar jadi pelindung akan lebih nyaman. Semua hanya karena anggapan untuk tinggal tak lama di tempat penuh nestapa itu.


“Kenapa?“


“Kalau tidak harimau, ular, ini hujan,“ ujar Putri mengeluh. Ada saja bencananya. Gangguan juga memberi rasa ngeri. Pada sisi-sisi ketakutan. Yang manusia tak bisa tolak. Pada kesunyian ini, rasa tersebut terus mengiring. Demi mengalahkan keberanian. Dan keberaniannya, terkadang lebih besar dari dugaan. Tapi rasa sunyi, membuat ketakutan sesekali hinggap. Hingga menumbuhkan rasa berani itu untuk kembali menguak.


“Iya.“

__ADS_1


“Dingin,“ katanya mulai menggigil. Air yang terus mengguyur itu, membuat perubahan suasana semakin cepat. Hingga tubuh juga tak kuasa menahannya. Meskipun tidak semua air yang jatuh dari langit menembus hingga kulit luar. Tapi cipratan dari sisi bebatuan, tetap tak terbendung. Apalagi angin juga menyeretnya masuk untuk membasahi bagian tersebut.


“Sini agak masuk,“ ujar Ronggo. Tak ada yang bisa diharapkan darinya kini. Bantuan juga telah pupus. Yang ada hanya sedikit bertahan. Untuk suatu yang tak pasti. Bahkan mungkin tak akan berhenti. Namun seiring dengan semangat yang tersisa. Disitu juga harapan akan hari baik akan segera datang.


“Kebasahan juga.“


“Kan ada “


“Tenang. Nanti juga reda.“

__ADS_1


Putri hanya bisa diam. Dia bergeser, mencari tempat yang lebih terlindung. Dia menuju pada bagian dinding gua yang sedikit agak dalam. Sehingga basah tak menjangkaunya. Disitu Ronggo sudah lebih dulu menempatinya. Lelaki itu juga merasakan hal yang sama. Dia malah mungkin lebih takut lagi. Apa yang diharapkan. Kalau keluar dari daerah itu, mungkin sudah tak ada harapan untuk kembali senang. Semua juga turut sirna. Tak bisa kembali pada keluarga, pada sanak, kerabat, juga semua anggota lingkungannya, sama sekali sudah tak dimiliki. Semua telah terenggut bersama datangnya bencana yang membuat rasa sukanya terus menghilang. Yang didapat kini hanya dinding gua yang sedikit mengurangi rasa dingin yang menyiksa ini.


Dia tak menyangka penderitaannya masih terus bertambah.


Hanya Ronggo yang kali ini bersamanya dan untuk sekedar memberi kehangatan, diantara rasa dingin yang mengiringinya.


Bahwa hujan membuat dingin, itu sudah pasti. Bahwa dingin semakin terasa, itu selayaknya. Sesuai dengan hawa yang mengiringinya. Dan dingin itu semakin membawa perubahan rasa. Demi kehangatan yang menunggu.


Sementara Gua ini tak sanggup melindungi. Hanya menuai suatu harap, agar semua yang tak terbendung segera sirna. Untuk meninggalkannya lagi, pada sunyinya, untuk rasa yang semakin jauh. Hingga kembali seperti sedia kala.

__ADS_1


Hanya hati ini yang bisa menghangatkan. Apa yang hilang. Bersama ujung tatapan. Di suatu tikungan.


Menikung tajam. Kemudian sirna. Pada sisi batin yang lain.


__ADS_2