Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding

Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding
Mengendap-endap


__ADS_3

“Eh... nampaknya itu suatu desa.“


Dikejauhan nampak suatu pemukiman yang merupakan kumpulan beberapa rumah yang tak beraturan namun mengelompok tak seberapa luas. Mereka berdua senang. Ronggo sangat bersemangat. Dia bisa membawa Putri untuk bisa menikmati segala kenikmatan yang sejauh ini tak bisa dilakukan kala bersamanya di tengah kesunyian sana.


“Asik bisa makan nasi,“ ujar Putri. Sekian lama di hutan barang yang sepele demikian, sangat-sangat diharapkan bahkan dirindukan karena begitu kangennya. Biasanya kalau di kota atau di tempat yang ramai, seakan tak ada harganya, ada tapi murah, dengan mas-mas saja kalah. Tapi kali ini itu yang diinginkan. Dan bisa menjadi penyejuk rasa. Dimana mulut seakan membutuhkan rasa yang sudah dihafalkan sedari lahir, namun terlupakan kala benda tersebut tak bisa dimiliki.


“Ayo kIta ke sana.“


Dengan mata berbinar, Ronggo menyeret tuan putrinya untuk segera mendatangi perkampungan yang tampak dengan jelas di depan itu. Ada keinginan untuk kembali pada masyarakat ramai. Didepan sana harapannya. Mengharap kehidupan normal kembali. Serta bisa melanjutkan masa ke depannya seperti yang dirasakan oleh orang lain.


“Pelan-pelan, jangan-jangan itu musuh,“ ujar Putri masih khawatir, kalau-kalau disana banyak musuh atau desa itu merupakan pos para prajurit lawan. Ini seperti yang sudah dialami, ternyata justru masuk ke dalam perangkap musuh. Yang memang tengah menanti mereka guna menawannya.

__ADS_1


“Kita selidiki dulu kalau begitu.“


“Benar, jangan sampai menangkap kita. “


“Atau selanjutnya menjadikan kita korban kebiadaban mereka. “


Itu yang berikutnya dilakukan. Langkahnya pelan-pelan. Langsung mengendap tanpa menimbulkan suara, supaya tak diketahui orang yang barangkali saja kecurigaannya tepat. Sebab masa sekarang, apa-apa sulit dideteksi. Serba mencurigakan. Tak jelas siapa kawan siapa lawan. Tahu-tahu main tangkap saja. Apalagi musuh dalam kondisi kuat. Mereka dengan mudah mengerahkan para prajuritnya untuk memburu keberadaan mereka. Dengan keahlian telik sandi mereka, dengan mudah menangkapi para prajurit istana yang setia, untuk kemudian menjadikan kelompok yang tengah sedikit itu semakin terpencar keberadaannya.


Jalan terus secara pelan-pelan. Kemudian menyelinap diantara pepohonan dan semak tinggi. Meskipun begitu, mereka terus berusaha menjangkau rumah terdekat. Mencari tahu kebenarannya. Semakin penasaran. Dan kalau tak diketahui secara pasti, maka tak akan tahu, kalau itu darah sendiri atau milik musuh. Semisal kembali dan membalik arah, maka akan lenyap rasa penasaran itu, untuk menjadi semakin tak tahu. Makanya sebisa mungkin mereka mencarinya. Jika sudah jelas, akan langsung pergi, andai itu musuh, namun kalau teman akan ikut menggabungkan diri.


“Sepi nampaknya. Aman nih.“

__ADS_1


Begitulah, dalam rerimbunan semak, sekian lamanya mereka berdiam diri dan memperhatikan sekeliling serta suasana pedesaan tersebut yang tetap saja tak ada aksi. Mereka masih demikian asik didalam rumahnya yang tenang dan sunyi. Atau tengah ke sawah dan ladang, melanjutkan kesehariannya yang dilalui dengan cara sederhana.


“Et....“


Tapi masih ragu. jangan-jangan dan jangan. itu yang terus dipikir oleh keduanya yang belum seratus persen yakin.


“Lihat orang itu.“


Mulai ada geliat. aktifitas yang dipertunjukan oleh gerumbulan suatu rumah-rumah pedesaan yang sangat terpencil serta berbatasan dengan hutan.


“Wah benar, kita bisa kesana.“

__ADS_1


Itu yang berikutnya terlintas dalam benak. Setelah yakin kalau orang itu penduduk desa atau setidaknya bukan dari pihak musuh yang menyeramkan.


__ADS_2