Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding

Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding
Sungai berair jernih


__ADS_3

Setelah berhasil mengitari perbukitan yang menjulang itu, tibalah giliran untuk menemukan suasana yang demikian asik dan berbeda. Memang lumayan berat mengitarinya. Hanya melihat satu sudut pandang sebagai tumpuan. Karena bukit tersebut juga tidak bundar sempurna. Pada beberapa sisi nampak sedikit menggelembung, serta lebih panjang dari perkiraan, sehingga membutuhkan waktu yang lumayan panjang guna menjangkau seberang yang dikirakan tadi.


“Itu sungai.“


Mereka melihat ada keasikan lain. Dimana nampak air memercik disana.


“Kita lanjutkan perjalanan, atau sejenak disini?“


“Kita kesana dulu. Ini sungai yang belum pernah kita lihat.“


Sungai yang tak seberapa cepat alirannya ini, bagian dari hulu di ujung perbukitan nampaknya. Dimana air untuk sementara waktu tersimpan di dalam rongga-rongga bebatuan, untuk kemudian mengalir begitu saja merobek sela-sela pegunungan yang mengeras dengan bebatuan melandasi dasarnya. Bisa jadi ada ikan didalam airnya tersebut.


“Ayo kita cari.“


“Tapi dalam enggak yah“


“Tahu. Jernih sih, tapi tetap tak mampu menembus hingga dasar air tersebut.“


Mereka mengamati sungai yang tak terdeteksi dasarnya karena sedikit kelam itu.


“Ada ikannya tidak ya?“ ujar Ronggo mulai mencari-cari kalau kalau ada makanan. Diamati dulu dari kejauhan. Tepat diatas semacam kedung tersebut. Andai tak ada maka hanya rasa dingin yang nanti didapatkan kalau memaksa turun.


Dengan rasa yang semakin penasaran, Ronggo mulai menuruni sungai, pada bagian yang sedikit landai, diantara bebatuan tak bersusun, namun bisa dipijaknya sebagai tumpuan.


“Awas licin.“


Mulailah dia mencari. Tangannya menggapai-gapai. Sesekali menangkup kalau dirasakan ada sesuatu yang terpegang. Baruah diangkat. Terkadang hanya menggenggam tanah saja. Atau kerikil halus. Tapi dia lanjutkan kegiatannya merogoh sela-sela batu tersebut.


“Dapat nih“ ujar Ronggo senang. Dia mengangkat apa yang ditangkapnya bergerak-gerak.


“Yah kecil.“


Putri hanya mengernyit.

__ADS_1


Ikan demikian paling hanya untuk umpan diujung pemancingan buat memancing yang lebih besar.


“Lumayan.“ Mendapat beberapa ekor, meskipun mini, membuat Ronggo bertambah semangat. Tetap diambilnya ikan itu. Ditempatkan pada tepian sungai. Karena berhasil menangkap itu, membuatnya yakin, akan ada yang lain didalam air tenang tersebut. Dia terus mengejar kesana-kemari pada bagian-bagian dimana kemungkinan ikan sembunyi.


“Nah dapat Lagi.“ Dia mengangkat tangannya. Dan dalam genggamannya itu menggeliat sesuatu. “Ini lumayan besar.“


Putri Ciptorini memandang dari pinggiran sungai, sembari melihat kalau-kalau ada ikannya pada sungai yang membentuk semacam kedung itu.


“Itu... Itu. “ Tunjuk Putri melihat ada ikan. “Kejar!“


Si Ronggo menuruti perkataan Putri. Ikan itu dikejarnya hingga air membuncah.


“Yah lolos.“


Ronggo sendirian dalam air itu. Namun dia melakukannya dengan senang. Menangkapi ikan yang bersedia untuk kemudian mengganjal perutnya tersebut..


Setelah lumayan lama berkubang pada dinginnya air. Dan mendapat hasil yang tak mengecewakan, “sudah ah, capek,“ ujar Ronggo mulai jenuh.


Berikutnya dia menggapai tepian sungai. “Bantuin dong....“


Putri mengulurkan tangannya. Berharap bisa membantu lelaki yang jagoan mencari nafkah ini.


E... E... E.


Byur!!


Putri tak menyangka. Kalau uluran kasihnya justru membuahkan bencana.


“Kok narik sih....“ Dia merengut. Basah semua. Tidak sampai disitu. Tarikan tangan mengerikan si cowok membuatnya semakin marah. “Pakai nyium pula.“


“Hehe....“


Ronggo hanya pasrah dan cuma bisa mengekeh, senang.

__ADS_1


“Basah kan...“ ujar Putri sembari memegang bajunya.


“Ya sedikit Lah.“


“Dasar pengawal biadab!“ ujarnya sembari menyawuk air ke muka Ronggo.


“Alah begitu saja pakai ngambek. Tapi kalau ngambek jadi makin cantik deh....“ Ronggo malah bertambah senang. Dan semakin ganas menggodanya.


“Iya lah.“


“Lagian kan asyik.“


“Asyik mbahmu itu!“


“Makanya mandi dulu!“ ujar Ronggo.


“Mandi apaan, sudah tahu!“


“Mana....“


Ronggo malahan menarik hingga Putri tenggelam dan gelagapan untuk sesaat lamanya dalam dekapan orang tua itu.


“Dasar... “


Akhirnya keduanya tenggelam dalam buaian air yang dingin menghanyutkan itu.


Setelah cukup lama bermain, “Mau bakar?“


Tawar si ronggo setelah naik dari air sungai yang dingin dan basah.


“Nanti saja lah.“


Mereka naik ke atas, dan hanya memasukkan ikan-ikan itu pada tempat sederhana dari kayu liar. Berharap nanti kalau lapar akan dibakar dalam perjalanan atau kalau sudah sampai di rumah idaman, gua.

__ADS_1


“Yuk jalan lagi.“


“Heeh....“


__ADS_2