Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding

Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding
Pekerjaan baru


__ADS_3

“Aku mau ke desa saja. Mengelola tanah warisan orang tua disana kayaknya lebih tenang dan damai. Tanpa ada permusuhan yang berukuran besar begini. Di Desa nanti kan bisa memelihara ayam memasak telor. Memetik cempedak atau memangkas pohon bambu pendek penghias jalanan sebagai pagar hidup. Juga bisa motong rumput metik kelapa makan manggis di pohonnya. Sembari ketapel burung yang bertengger di dahannya.” ujar Ronggo Bintoro. Mencoba merasa. Dan merasa yakin kalau tuan Putri Cipto Rini ini bersedia melepas kepergiannya untuk merubah kehidupan awal menjadi yang diinginkan pada suatu daerah yang sudah menjadi keinginannya tersebut.


“Aku Ikut.“


“Lo....”


Putri mau ikut kalau Ronggo hendak mengundurkan diri dari dunia ramai dan kembali ke kampung menjadi orang biasa.


Bagaimanapun Kebersamaannya dahulu. Petualangan yang lebih dari seru. Juga dalam menghadapi keganasan alam liar. Pernah dirasakan bersama. Tak hendak dia melalaikan demikian saja. Dia pasti akan merasa sangat kehilangan. Kalau kebersamaan dan kenangannya juga turut pergi Terbawa sama orang yang hendak melalaikannya itu.


Tentu saja hal ini membuat si Ronggo demikian terperanjat setengah mati, bahkan sedikit gugupnya. Karena tak mengira, bakalan diikuti oleh orang yang selama ini terbiasa dengan kehidupan mewahnya di istana.

__ADS_1


Lalu bagaimana nanti Akan kehidupannya Tak enak membuatnya terus sengsara Menderita Merana Dan Berada pada suatu garis dibawah rata-rata akan kehidupannya.


Lagipula selama ini Dia mengharap bisa untuk membawa kembali ke kehidupan terbaiknya.


Sehingga segenap petualangan Diusahakan untuk itu. Kini semua bakalan merubah rencana Dan tak bisa dilakukan lagi kalau demikian.


“Terus pangeran bagaimana? Dia masih kecil. Belum kuat untuk memikul tanggung jawab yang melebihi kemampuannya dalam mengurus negeri yang besar ini. Kau kakaknya mesti mendampingi dulu,” ujar Ronggo memberi pengertian agar sang Putri demikian saja mengerti akan kekhawatirannya pada pangeran kecil itu, yang sejauh ini sudah berpetualang dengan berbagai pengalaman buruk. Yang mesti dihadapi sebagi pendahuluan untuk kepemimpinannya yang bakal di tanggung.


“Ada banyak paman disini, Singonegoro, Si Mercukundo itu para tumenggung, patih dan nayaka projo yang lain. Biar mereka yang mendampinginya serta para orang pandai dari negeri tetangga yang masih bersedia menjadikannya lebih baik dalam mengelola negeri di atas bukit tinggi ini. Kau juga mesti jadi Merto Lulut kan sebagai pewaris sah jabatan yang ditinggalkan ayahmu,” kata Putri. Dia merasa yakin. Kalau orang-orang yang dia sebutkan itu, bakalan bersedia membantu dengan segenap jiwa raganya.


“Kasih saja ke Singgonegoro itu, biar jabatannya dirangkap sama Merto Lulut. Dia kelihatannya sangat cocok buat memenggal kepala orang,” ujar Ronggo bicara secara panjang lebar luas dan lega. Panjang banget.

__ADS_1


“Enak saja kau main pergi begitu aja tanggung jawab dong kau selama ini kan selalu memperlakukanku tidak sewajarnya makanya mesti nanggung.”


“Gimana ya takut kacau kalau aku meneruskan menjabat sebagai Merto Lulut yang sudah tak bisa aku lakukan pada waktu yang telah berjalan ini. Kau ingat kan bagaimana aku tak bisa melindungi semua keluargamu sehingga banyak yang binasa lalu suruh menghukum orang malah takut darah. Sehingga banyak para kawula yang nanti akan kecewa tak bisa melihat pemberontak di hukum.”


“Kau cukup mengawalnya saja, kalau kau benar-benar enggan menjadi Merto Lulut menggantikan ayahmu.”


“Lagipula sudah banyak orang yang mengetahui baktimu dalam menguasai negeri ini kemarin. Yang jelas kau mesti disini menemaniku.”


Putri terus mendesak agar orang itu tak jadi menyesali segala perbuatan keliru nya dan melalaikan apa yang sudah dialami bersama.


“Ya sudah, sini saja.”

__ADS_1


Akhirnya begitulah Si Merto Lulut bersedia tinggal lebih Lama dalam istana yang penuh gejolak dan intrik itu.


Entah sampai kapan mungkin sampai matahari berubah suram dan akhirnya gelap tak berbentuk.


__ADS_2