Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding

Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding
Bersua


__ADS_3

“Lihat teman- teman kita,“ ujar si Ronggo senang, banyak yang dikenali kali ini. Yang terkumpul itu, benar-benar para prajurit keraton yang setia, meski harus hidup terlunta-lunta dan menderita yang hebat, sejauh menghindari diri dari kejaran para pasukan pemberontak yang kali ini telah berhasil menguasai istana Pasir Luhur, di bukit yang tinggi itu.


“Lumayan banyak ini, “ ujar Putri juga senang. Kelihatannya dengan jumlah yang kali ini terkumpul, sudah bisa memulai serangan. Ada 70 orang banyaknya yang siap dengan segala peralatan perang. Itu belum yang masih terpencar. Nanti kalau sudah ada gerakan,, mereka pasti akan segera datang untuk meneruskan langkah, hingga berhasil menguasai kota.


“Ayo kita serang pasar dan segala keramaian nanti,“ ujar mereka dengan semangatnya. Sehingga mulai tersusun segala strategi yang dianggap paling layak demi kemenangan mereka nanti.


“Wah itu anak Merto Lulut,“ ujar para prajurit istana yang kali ini telah terkumpul pada suatu barak yang sangat besar. Mereka bangga. Pasti anak orang yang dahulu mengerikan itu, bakalan mau memimpin mereka berjuang, membawa gerakan mereka yang berada dalam persatuan ini, untuk semakin bangkit, hingga meraih poin penting untuk kemenangannya.


“Dia menyelamatkan putri,“ ujar para prajurit dengan kagumnya. Bagaimana tidak, menyelamatkan diri sendiri saja sudah sulitnya minta ampun. Dimana pasukan musuh sudah mengepung disana-sini, sehingga tak jarang sobekan senjata sering kali mengenai tubuh mereka.


‘Huh menyelamatkan apa nakal iya.’ Gerutu Putri Cipto Rini, yang masih teringat dimana tiap malam mesti berbarengan dengan lelaki kerempeng yang tua nggak laku-laku dan bisanya cuma merayu sembari mencumbu.

__ADS_1


“Mari sini tuan putri,“ ujar bekas para dayang dan para prajurit srikandi yang lebih dahulu terkumpul, dan kali ini siap melayani tuan putri mereka.


“Lihat banyak terkumpul kan....“


Mereka-mereka memang ada yang terluka menjelang sembuh dan ada yang tak luka namun lusuh. Rupanya banyak yang sudah saling komunikasi.


“Wah adikku juga ada.“ Putri senang


Dia kemudian memeluk sang adik.


“Istirahat dulu disini aman banyak rekan kita yang terpercaya dan tak bakalan membocorkan lokasi ini. karena kalau mau pergi kemana saja mesti ijin dulu dan akan diteliti dengan seksama mulai dari barang hingga peralatan yang dicurigai.“

__ADS_1


“Baiklah aku tiduran,“ ujar Putri seraya masuk pada suatu bilik paling bersih dimana ada tempat tenang untuk sementara yang enak ditiduri.


“Ini makan dulu tuan Ronggo.“


“Iya.“


Seseorang membawa makanan yang lumayan enak dibanding kalau masih bertahan pada persembunyian yang sulit mencari makan dimana kalau mau makan enak mesti mencari dahulu.


Dengan hati ayam dan sayur genjer. Langsung dinikmati tanpa basa-basi lagi. Dia senang, yang memasakkan senang, yang menyajikan juga senang. Mereka sangat bangga dengan apa yang dilakukan anak pembesar itu demikian piawai dalam menjaga keselamatan putri sehingga kali ini bisa bersama kembali. Sehingga bisa menambah kepercayaan diri, bahwa mentari esok masih ada, dan harapan masih akan bersinar seiring bergulirnya hari.


“Ayo kita susun strategi serangan,“ ujar mereka setelah dirasa tuan sakti itu sudah selesai menikmati sajian serta sudah purna istirahatnya.

__ADS_1


Mereka mulai berunding dan berkumpul meskipun pada suatu jarak yang demikian luas agar kalau ada serangan mendadak akan bisa diatasi.


__ADS_2