Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding

Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding
Tertangkap


__ADS_3

“Nah..... Kena kamu!”


“Eh....”


Putri terkejut.


Anak Merto terkejut.


Semua terkejut.


Saat menghadapi kenyataan bahwa kini mereka tengah berada dalam cengkeraman si angkara murka.


Ada empat orang yang sebelumnya berada pada tempat tersembunyi yang kali ini tengah mendatangi mereka dan langsung main sergap.


Si Ronggo kebingungan.


Mau apa dan bagaimana, tidak tahu harus mengapa. Yang dapat dilakukan kali ini hanya melongo, melihat tuan putrinya disergap si angkara murka.


Sementara keempat prajurit pemberontakan itu dengan senang hatinya sembari kata berkata diantara mereka sendirian.


“Ayo kita bawa tuan putri. Yang selama ini kita cari,” ujar keempatnya


“Lo, kalian mencari aku?” ujar Putri berusaha meronta dan meronta agar terbebas.

__ADS_1


“Ya iyalah. Masa enggak? Kan anda sangat penting!” mereka menjawab dengan pongahnya. Seakan kali ini berhasil melakukan suatu bakti yang sangat penting buat junjungannya diatas sana.


Pengorbanan yang sangat besar. Sanggup menangkap buruan besar. Buronan berharga yang tengah lepas. Kali ini ada di genggaman. Apalagi kalau bukan mendapat hadiah nantinya.


“Tolong!”


Putri terus meronta dan teriak-teriak. Barangkali saja ada penduduk atau penghuni rimba yang bersedia mendengar apa keluhannya. Serta berikutnya membebaskan diri dari segala bencana ini.


Ronggo semakin bingung dan semakin tak tahu apa yang mesti dia perbuat. Kalau melawan jelas nggak berani. Jumlah mereka sangat banyak. Sementara kalau didiamkan, bakalan kasihan pada tuan putri. Yang pastinya, nanti selain menjadi tawanan juga bakalan disakiti atau malahan di bunuh pelan- pelan. Kan gawat.


Dalam situasi yang genting dan penuh kebingungan itulah, dia akhirnya melakukan hal aneh.


Dia segera melemparkan tombak yang di pegang dan menjadi senjata andalan dalam melakukan segala aktifitas kesehariannya.


Yang lain nampak terkejut dan ketakutan. Pikir mereka, kali ini rupanya anak Merto Lulut itu tengah melakukan segenap kesaktiannya sehingga membuat seorang teman mereka harus menjadi korban keganasan sang anak dari tokoh legendaris itu.


Belum juga habis rasa terkejut itu, datang lagi serangan yang sangat cepat dan brutal. Ronggo memukuli orang-orang itu secara membabi buta dan brutal. Sekali lagi brutal. Memukulnya dengan segala senjata yang ada di tangan dan berhasil di dapat.


Dua orang tersungkur akibat terkena pukulan tak terarah itu.


“Lepasin tidak!” Ancam Anak Merto Lulut. “Kalau tak dilepaskan juga, jangan sampai aku, Anak Merto Lulut, yang bahkan badannya saja lebih kurus dari ayahku, bakalan mengejar mu sampai ke liang lahat nantinya.”


“Iya ini.” Orang yang tinggal satu itu ketakutan sekali. Dia langsung melepaskan Cipto dan sudah bersiap mau melarikan diri saja.

__ADS_1


Karena gemas bercampur geram, pedang ditangannya langsung dilemparkan kuat-kuat. Mengarah pada orang itu yang tengah lari ketakutan.


Pedang Merto Lulut yang biasa buat menggorok leher tawanan sebelum ini oleh ayahnya, meluncur dengan deras dan tepat menancap di punggung musuh.


Tanpa banyak kata dan a i u e o, orang itu langsung rebahan akibat tak merasakan sakit seiring melayang nyawanya.


Si Ronggo segera menangkap tangan sang putri dan langsung menyeretnya. Mumpung ada kesempatan. “Ayo terus lari!”


“Eh.. eh..”


Keduanya lari. Meskipun putri merasa ada yang aneh dengan kelakuan Ronggo kali ini.


“Kamu bagaimana sih?” ujar Putri disela-sela nafas yang memburu disaat mereka tengah berlari.


“Hah.... kita lari saja dulu. Mumpung ada kesempatan ini,” Ronggo berusaha mendengar.


“Mereka sudah mati semua!” ujar Putri.


“Benarkah?” ujar Ronggo. Masih saja tak menghentikan langkahnya. “Siapa yang membunuh dan mencelakainya. Kejam sekali orang itu.”


“Lihat saja sendiri,” kata Putri sembari menengok ke belakang pada arah musuh dimana mereka sudah tak terlihat.


Ronggo juga terkejut, tapi tetap berusaha berkilah, “Tapi kita tetap mesti menjauh. Siapa tahu rekan- rekan mereka datang mendekat.

__ADS_1


Dan mereka terus berlari.


__ADS_2