Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding

Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding
Mundur


__ADS_3

“Tuan Putri makanan sudah siap,” ujar seorang endang yang tengah membawa sesuatu buat tuan putrinya. Dalam piring yang indah dan minumannya ada bersama dalam wadah baki yang juga sangat bagus.


“Sini aku cicipi dulu, siapa tahu ada racun yang nantinya mencelakakan tuan kita,“ kata Ronggo menerima piring makanan.


Pelayan keluar dan Ronggo makan dengan lahap. Putri hanya menatap sambil mulutnya bergerak tak terisi. Keheranan melihat pengawal itu demikian hebat cara makannya. Padahal itu bukan untuknya.


“Kok kamu habiskan?“ tanya Putri.


“Ternyata lapar,“ jawab anak Merto Lulut sembari mengusap mulutnya.


“Dasar....“


“Pelayan,” ujar Ronggo memanggil pelayan tadi.


Pelayan mendekat. dan keheranan karena makanan cepat sekali habis.


“Lagi,“ ujar Ronggo. “Yang tadi ya. Jangan yang lain. Harus sama persis dan pada tempat yang sama,“ kata Ronggo seakan khawatir sekali kalau Putri akan di racun orang. Apalagi kali ini suasana sedang kacau. Bisa saja para penyusup akan melukainya. Jangankan orang lain yang jelas-jelas musuh, terkadang keluarga sendiri juga bisa berbuat nekat.


Putri Cipto Rini hanya manyun.


Pelayan segera berbalik secepat yang bisa dia lakukan demi sang majikan terpuaskan. Di heran, baru kali ini tuannya demikian banyak memakan-makanan yang paling enak. Atau tengah kelaparan. Maklum sejauh ini berada pada daerah yang sulit mencari makanan.

__ADS_1


“Ini tuanku,“ ujarnya sembari membalik dan membawakan makanan yang sama persis. Bagaimanapun dia hanya melayani. Dan makanan masih bisa diambil dari dapur istana yang sangat banyak itu.


“Ya taruh saja disitu.“ Putri menunjuk pada meja.


“Masih lapar kan kamu,“ ujar Putri kala menatap Ronggo seakan betapa makanan Itu demikian indah dengan mata tak berkedip.


“Hooh....“


“Sini bareng.“


“Terima kasih.“


Ronggo berbinar. Putri mengambil jatahnya.


“Lagi?“ ujar Putri sembari tersenyum saat menatap piring itu benar-benar kosong.


“Cukup ah....“


“Kenapa?“


“Nanti dikira rakus, sama mereka.“

__ADS_1


“Kalau mau lagi, akan aku minta.“


“Kalau kamu yang ingin, ya sana minta sendiri.“


“Kenyang.“


Si Ronggo Bintoro segera rebah di lantai pada sisi jauh tempat tidur tuan putri, dekat dengan pintu, dan matanya yang sulit sekali dibuka dan rasanya ingin sekali mengatupkan terus.


Putri hanya diam, dia sendiri hendak tidur. Serta membiarkan si anak Merto Lulut itu di lantai yang dingin dan tak berusaha mengganggu. Mungkin dengan mendiamkannya, dia juga bisa istirahat tenang, untuk memulihkan tenaga serta pikiran yang telah terlalu banyak terbuang percuma kala menghadapi keadaan yang jauh dari rasa nyaman sebelumnya.


Akhirnya keduanya lelap dengan pikiran masing- masing melalaikan segala petualangan tak sengaja yang selama ini tercipta akan adanya bencana yang dibuat oleh si angkara murka.


Berikutnya, “tuan putri maaf.“


“Ada apa?“ tanya Putri mendapati Ronggo hendak mengutarakan sesuatu.


“Saya nggak ikut disini ya....“


“Kenapa?“


“Terlalu banyak dosa dan kekeliruan yang saya perbuat. Pada gusti putri ini.“

__ADS_1


“O begitu“


“Iya. Makanya saya kepingin mundur saja dari jabatan itu,“ sejenak Putri juga tak mampu bersuara. Dia tak menyangka, teman yang selama ini bersamanya, harus meninggalkannya, sementara kali ini sudah mendapatkan hasil, tinggal menikmatinya.


__ADS_2