
“Wah rumah kita....“
Mereka terkejut.
“Ada... “
Ronggo belum menyadari.
“Apa?“
“Ada hari... hari....“
“Apa....“
“KL... Loreng... Loreng.“
“O Harimau...“
“Hooh,“ sembari ditunjuknya bagian yang dia maksud.
Waaaa....
Ronggo Bintoro terkejut. Dia terdorong ke belakang. Hampir saja dia tidak terkejut. Tapi tetap terkejut.
“Waduh....” ujarnya setelah berhasil mengatasi degup anehnya. “Katanya harimau adanya di bagian utara gunung Cora pada sekitaran pancuran dengan air panas itu, di jalur pendakian dari arah sana. Ini kok sampai sini sih?“
__ADS_1
Ronggo bergumam. Hendak dia mempersalahkan orang yang bicara demikian. Tapi yang mau disalahkan jelas tak mau, makanya dia tak ada. Yang jelas kali ini binatang menyeramkan itu ada didekat mereka. Yang mesti dihadapi dengan penuh kejantanan, bahkan kalau perlu dilakukan dengan perkelahian secara jantan dan tangan kosong.
“Tombak, tombak...“ kata Putri. Berharap mahluk itu segera dimusnahkan dari pandangan.
“Mana enak dia,“ ujar Ronggo diantara enggan dan ketakutan untuk bisa menikmati daging yang sangat nikmat. Kalau sampai musuh kena ditombak, dikuliti lalu diambil daging vegetarian nya itu.
“Aduh bagaimana ini?“ Mereka bertambah panik.
“Kita pergi secara diam-diam, tapi semua perlengkapan dan makanan kita, ada di rumah gua ini. Sayang kalau ditinggalkan. Lagipula kita yang lebih dulu disini, dia lah yang mestinya permisi untuk minggat.“
Ditatapnya harimau yang demikian sangar menatap mereka dengan penuh keperkasaan.
“Awas melotot begitu.“
“Ih... Serem cakarnya.“
“Pasang panah didepan buat pertahanan diri.“
“Baik.“
Segera mereka memagari bagian depan dengan panah Yang mengarah pada sisi dimana harimau berada.
“Kita siap tombak, jangan-jangan dia menyerang,“ ujar mereka.
Setelah panah ditancap memagari bagian depan sebagai pertahanan diri dan mereka ketakutan untuk bersiap menancapkan tombak.
__ADS_1
“Waduh tak bisa tidur kita“ ujar mereka dengan tatapan yang sesekali dilirik kan pada musuh.
Sementara harimau tetap rebahan sembari sesekali menjilati kuku dan merentangkan cakarnya yang tajam.
Her...
Tiba-tiba si harimau menggeliat dan tentu saja langsung terjadi kepanikan.
“Cepat tombaknya!“ ujar Ronggo.
Tombak segera diarahkan ke depan. Pada arah harimau yang penuh dengan coreng itu. Agar jika suatu saat menerkam, maka mata tombak yang sangat tajam itu akan menembus kulit mahalnya, dan menjadikan dia dendeng yang sangat nikmat.
“Ih cakarnya itu tajam sekali, kayaknya sering diasah,“ bisik mereka sembari melihat ujung tangannya yang sangat tajam yang nampak sesekali diasah pakai lidah mengerikannya. Jangankan mencakar daging rusa, mengenai kepala mereka juga akan langsung tercabik hingga menembus otak untuk dapat menghilangkan akal sehatnya.
“Lempar itu kepala kijang.“ Gumam Ronggo. Dia ada ide. Barangkali saja dikasih yang keras-keras begitu dia mau dikibuli. Sehingga bersedia pergi tanpa ada pertumpahan diantara rekan satu rimba pesona ini.
“Iya....“
Dilemparkan sisa kepala yang berlumuran kuah dan masih terasa nikmat meskipun hanya untuk dinikmati dengan jilatan-jilatan manis.
Melemparkannya pun seakan enggan. Antara malu atau takut. Maklum putri cantik. Nanti si macan akan ketahuan belangnya. Dan bisa malu kalau menerima pemberian si cantik.
Setelah dikasih kepala yang sangat lezat itu.
“Untung dia pergi.“
__ADS_1
Harimau itu melenggang perlahan. Sembari memamerkan ekornya. Dan giginya menggigit kepala berkuah.
Mereka sedikit lega, namun masih ragu kalau dia kembali lagi. Tanpa permisi, tanpa bilang, tahu-tahu rebahan di sudut gua. Itu akan jadi sumber ketakutan yang mengerikan.