Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding

Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding
Kembali pulang


__ADS_3

“Nah sekarang kita balik.“


“Baiklah...“ ujar Si Ronggo yang merasa sudah mendapat hasil. Dan tak berapa lama lagi, nampak mentari mulai redup. Sebentar lagi daerah tersebut gelap gulita. Akibat terselubung pohon-pohon liar yang besar-besar. Dan kalau tak segera menyingkir dari tempat tersebut, maka kemungkinan akan kesulitan, karena tak memahami daerah rawan tersebut. Belum lagi kalau para predator malam yang akan mencelakakan mereka.


“Jalan tadi mana yah?“ mereka kebingungan, nampak sekali perubahannya. Selain belum hafal, perubahan cahaya, membuat nampak berlainan sekali. Dan tak ingat daerah mana yang tadi mereka lalui, untuk bisa balik meskipun bukan rumah, tapi banyak peralatan yang sudah dibuat dan akan repot kalau mesti membuat lagi andai berpindah lokasi.


“Kita melihat bukit yang sudah kita kenali saja, buat jadi patokan. Disana rumah kita.“


“Bukit itu kan?“ tunjuk Putri yang sudah hafal dengan daerah sekitarnya yang mudah dikenali. Tempat itu tampak berlainan dengan daerah sekitarnya yang masih belum masuk dalam ingatan. Bukit tinggi tersebut nampak jelas dari kejauhan. Makanya mudah untuk menjadi penjuru arah, agar sanggup mencapai tujuan dengan langkah yang pasti.


“Iya.... “


“Yang jelas sering terlihat dan tiap hari kita jumpai.“


“Jauh. Muter lagi. Karena jalan lurus tak ada, mesti melewati halangan yang sulit.“


“Iya yah.“


“Jalanan banyak terhalang tebing dan jurang curam, membuat kita semakin sulit untuk sampai pada bukit tumpuan.“

__ADS_1


Namun mereka terus berusaha jalan menjangkau apa yang sudah menjadi titik tuju. Dengan sampai ditempat tersebut, maka akan mudah melanjutkan langkah hingga ke rumahnya.


“Eh... Buah apa itu?“


“Tahu. Bulat kuning,“ ujar mereka menatap pohon tak seberapa besar dengan dedaunan yang lebar dan disela-sela itu nampak bergantung buah bulat, yang jumlahnya lumayan banyak.


“Ambillah.“


Si Kerempeng, Ronggo Bintoro, langsung mendekati pohon dan langsung main panjat dengan cekatan. Tak perduli ada semut atau binatang apapun yang menghalang didepannya. Dia satu langkah demi satu langkah. Tangannya sekali menarik, kemudian kakinya mengikuti. Mulai dari bawah, hingga dahan besar terdekat yang berhasil dia raih. Kemudian dia mapan, duduk di cabang batang itu. Lalu menuju pada buah terdekat, namun sudah berubah warna.


“Nih buahnya yang lumayan besar,“ ujar Ronggo. Dia memetik banyak buah. Lalu diberikan pada putri itu. Putri menangkapnya dari bawah dengan perasaan senang.


Dia masih mengambil buah, sembari menuruni pohon yang lumayan tinggi. Dia mengambil beberapa buah. Lumayan di hutan ada buah yang bisa masuk ke perut lapar itu.


“Bagaimana memakannya ini.“


“Langsung kupas dan dimakan,“ jelas Ronggo sembari mengupas buah tersebut untuk memberi contoh.


“Kulitnya jangan.“

__ADS_1


“Tidak enak? “


“Kurang yakin. Tapi lebih baik bagian dalamnya saja. “


Cipto Rini memakan beberapa buah. Dikupas bagian luarnya. Dan untuk dalamnya yang dinikmati.


“Manis.“


“Tapi membuat gigi jadi kuning. Seperti warna buah yang kuning, kekuning-kuningan itu.“


Namun terus dinikmati. Hingga habis beberapa buah.


“Yuk jalan lagi,“ ujar Ronggo setelah merasa puas dengan buah liar yang manis.


Setelah istirahat cukup, mereka melanjutkan perjalanan menyusuri jalanan setapak, yang diselingi oleh rimbunnya pepohonan hutan, sampai bukitnya tinggal sedikit.


“Kita jalan sampai pada rumah idaman, yang biasa melindungi kita dari panas dan dinginnya cuaca.“


Terus mereka melangkah.

__ADS_1


“Nah sampai rumah,“ ujar mereka senang saat mengenali daerah yang demikian hafal beberapa waktu sudah ditempati. Di bawah bebatuan yang berlubang namun nyaman dan aman untuk di tempati.


__ADS_2