Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding

Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding
Dapat ikan, dapat daging


__ADS_3

Dari sungai berjalan lumayan jauh. Mereka masih berusaha mencari kalau-kalau ada rejeki lain yang diberikan alam pada waktu itu. Siapa tahu ada padi-padian liar, umbi-umbian atau jenis lain tanaman hutan yang menghasilkan dan siap dimakan.


Hingga sampai pada suatu tempat yang lumayan rimbun, penuh dengan semak belukar yang diantara diselingi oleh tumbuhan tinggi.


“Nah itu ada buruan,“ ujar Ronggo Bintoro merasa senang. Dan sesuai perkiraannya kalau daerah aneh begitu akan dihuni jenis mahluk lain. Biasanya buruan, atau justru mahluk berbahaya, semacam ular dan predator hutan yang ganas lainnya.


“Buru sana!“


“Ayo bantu mengejar!“ ujar Ronggo yang merasa kalau berdua dalam menangkap, kemungkinan berhasil juga lebih besar.


Segera keduanya mengejar buruan yang lumayan untuk diburu.


Ronggo langsung siap dengan panahnya dan pedang dipinggang yang siap tebas kalau binatang itu dekat. Sedangkan Putri mengikuti dari belakang sembari memegang tongkat tombak.


“Wah... binatang itu bergeraknya cepat sekali,“ ujar Ronggo.


Sembari kembang-kempis menata nafas. Dia merasa kewalahan kalau harus beradu dengan mahluk yang telah terbiasa di daerahnya tersebut. Juga sudah terbiasa menghindari para predator lain, demi bertahan hidup. Makanya kali inipun tak kesulitan untuk menghilangkan jejak dari para manusia yang akan menjadikannya bakaran nikmat.


Mereka berhenti sesaat sembari menatap dimana lenyapnya binatang tadi. Diteliti dengan sungguh-sungguh. Bahkan sebisa mungkin menahan jangan sampai nafas mereka yang tersengal-sengal itu menderu dengan kencangnya, yang membuat binatang tersebut semakin jauh dari jangkauan.


“Gagal sudah...“ Mereka kecewa. Buruan sudah tak tampak. Dan gerakannya juga tak terlihat. Nampak kekecewaan terpancar di wajah.


Dan pandangan kecewa itu sedikit buyar ketika melihat sesuatu,

__ADS_1


“Itu!“


Tertuju pada suatu sosok buruan yang sedari tadi mereka kejar.


“Eh... benar.” Ronggo bersiap lagi. “Itu dia sedang bersembunyi di tempat terkungkung.“


“Dia sudah tak bisa jalan kemana-mana lagi.“


Mereka terus mendekati buruan yang tak bisa beranjak namun berlindung pada suatu semak pendek yang tak berhasil menutup seluruh tubuhnya. Itu juga yang membuat dua pemburunya dapat melihat.


“Panah.“


“Oke...“


“Nah kan.“


Panah menancap tepat di tubuh binatang setelah dilepaskan dengan teliti oleh Ronggo yang sangat tepat pada saat menembaknya.


“Langsung kita kuliti.“


“Boleh.“


Benar. Mereka kemudian mendekati binatang tersebut dan langsung menguliti binatang itu, agar mudah dalam membawanya nanti.

__ADS_1


“Aku bakar sedikit ikan ya...“ kata Putri teringat akan hasil di sungai. Akibat perutnya juga sudah ingin di isi.


“Heeh....“


Si Ronggo menguliti binatang. Dengan pisau panjang yang tak mudah, namun bisa dikerjakan demi keadaan darurat itu.


Sedangkan Putri membuat api untuk membakar ikan tangkapan di sungai.


Tak berapa lama menguliti ikan selesai dan membakar ikan juga sudah matang.


“Makan dulu nih mumpung masih hangat,“ Putri memberikan ikan bakar itu hanya dengan daun pisang yang dipincuk dengan bentukan paling sederhana. Itu sudah cukup sebagai tempat. Apalagi banyak daun pisang liar tanpa buah yang tumbuh dengan sendirinya.


“Ya....“


Mereka makan dengan cepat.


Dan memasukkan daging dicincang itu pada suatu tempat yang dibawanya.


“Yuk kita pulang.“


“Iya hari juga telah lumayan sore jangan sampai kita kemalaman dan tak bisa menemukan jalan balik. “


“Benar habis ini istirahat untuk tidur“

__ADS_1


__ADS_2