
Kembali mereka pada rumah masa depan yang tak perlu membangun ini. Rumah yang tak ada penutupnya. Dan merupakan bahaya tersendiri andai berlama-lama untuk tinggal di tempat tersebut.
Tiba-tiba ada suatu benda yang indah seakan jatuh dari langit. Mengeluarkan suara yang tak mengenakkan pada telinga mereka.
Tiba-tiba benda itu menggulung, lalu pelan-pelan melebar. Indah sekali kelihatannya.
“Wah ini sih ular.“
“Gawat.“
“Ular apa itu?“
“Ular tiker kayaknya.“
“Indah tapi ya?“
__ADS_1
“Iya tapi mengerikan. Kalau tak menggigit dia bakalan menyemburkan bisanya yang sangat mematikan. Dalam ukuran yang berbeda-beda tingkat keampuhannya. Kelihatannya ular itu jenis ular beludak yang kandungan bisanya sangat tinggi. Meskipun tidak langsung mati, tapi yang terkena gigitan, lama kelamaan akan sakit, hingga bisa itu memburu ke arah jantungnya, seiring perjalanan darah dalam nadi, kemudian menghentikan detak, untuk tak bisa memompa darah lagi.
“Wah... ada masalah lagi.“
Jengkel banget mereka. Belum lama, belum sampai tumbuh daun rasanya, batin merasa lega, kala harimau menyeramkan itu berhasil di usir, ini datang masalah baru. Bertubi-tubi, dan menjadikan pukulan telak yang sulit untuk ditahan rasa nyerinya.
Suatu binatang yang lebih mengerikan dari si harimau loreng yang mau ditipu dengan nikmatnya daging. Ini belum tentu. Karena tabiatnya yang kelihatannya berlainan. Meskipun keduanya predator, yang suka daging, tapi ular lebih suka makan bulat-bulat. Dan harimau di kunyah dulu sebelum masuk ke perut gembul nya. Mungkin perutnya tak sekuat ular dalam mencerna. Dan ketahanan menahan lapar, tak sehebat ular, yang kalau makan,, maka dalam satu minggu masih merasa kenyang. Untuk lebih baik diam diri dalam tidurnya. Dan membiarkan bagian reproduksi untuk bekerja. Yang betina membesarkan telur dan anaknya, sedangkan yang jantan, akan menghasilkan benih yang bagus diantara masa suburnya itu. Ini juga yang membuat mereka mampu berdiam diri bagaikan bertapa seperti yang dilakukan manusia. Hanya saja mereka melakukannya karena proses kehidupannya demikian, tak ingin mengayuh aneka kesenangan dalam menghibur diri. Lebih pada evolusinya yang tak berubah sepanjang dia tercipta ke dunianya.
Binatang ini seperti macan dulu, benar-benar berbahaya dan mungkin akan sulit di usir lagi. Mesti memperlakukannya secara khusus juga. Kalau di dorong dengan kayu panjang, bisa jadi dia akan melotot, untuk kemudian menyerang balik. Bahkan yang lebih mengerikan andai dia menembakkan bisanya dari jarak jauh, sehingga tubuh yang terkena akan melepuh selama sembilan bulan sepuluh hari.
“Lihat dia mendesis. Bertambah seram.“
“Dan dia sukanya juga di sudut sana pada lokasi tepat dimana dahulu si macan dengan asiknya duduk sembari menjilati cakar tajamnya. “
“Ya mau bagaimana lagi. Kita juga dalam memperlakukannya mesti sama seperti dulu tak usah dibeda-bedakan apalagi di nomor duakan sama persis saja. “
__ADS_1
“Pasang panah.“
Begitu mereka mengerjakannya kemudian dengan cekatan karena sudah pernah melakukan.
Maka tak ada kesulitan berarti. Memasang panah-panah tajam yang mengarah pada ular agar kalau mencoba mendekat bakalan terkena tusukan maut.
“Siap tombak.“
Itu yang kemudian dilakukan Setelah panah-panah benar-benar terpasang Dengan kokoh Untuk menangkis terjangan binatang yang tak diinginkan ini.
“Kasih kepala kaya kita memperlakukan harimau dulu agar dia mau pergi? “
“Mana suka dia makanannya beda. dia tak bakalan mau. “
Lama dinanti dan tiba-tiba saja si ular, pergi diam-diam. Kemudian menggantungkan badannya pada dahan. Dan naik ke sisi bukit pada bagian atasnya. Kemudian lenyap dari tatapan.
__ADS_1
“Untung dia mau pergi.“