Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding

Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding
Mangga


__ADS_3

“Berburu lagi ah,” ujar si Ronggo yang tengah mempersiapkan segala macam senjata.


Baik panah atau tombak dan tentu saja pedang pusaka pemberian ayahnya.


“Yuk."


Putri bersemangat. Dia ingin kembali melihat- lihat hutan yang sangat luas dan sangat mencekam itu.


“Ikut lagi?"


“Ya...."


Kembali mereka berjalan.


Kali ini menyusuri jalan yang kemarin.


Agar bisa pulang lebih lancar.


Tak seperti kemarin. Harus meraba-raba jalan, dan menapak setapak demi setapak.


“Tuh buah kuning kemarin,“ ujarnya melewati pokok buah yang kemarin di petik.


“Ambil lagi ah.“


“Males.“

__ADS_1


“Kenapa?“


“Gigi kuning.“


“Tapi manis..“


“Ada mangga enggak ya?“ ujar Putri ingin buah yang kalau di istana demikian mudah dia mendapatnya. Kalau siang ada biyunge yang mengantar hingga ke dalam. Bahkan terkadang tak perlu membeli. Mereka memberinya dengan senang hati. Dapat masuk ke komplek mewah tersebut sudah menjadi kesenangan tersendiri. Apalagi sampai bertemu dengan junjungannya yang demikian dihormati. Akan menjadi suatu berkat bagi mereka. Meskipun begitu para orang kaya kebanyakan tak enak hati. Bagaimanapun, para kawula butuh makan. Mereka mendapat itu untuk menjual, menari uang. Lalu ditukar dengan kebutuhan sehari-hari. Dan mereka memberi para pedagang itu seikhlasnya. Bahkan terkadang uang yang dikasihkan melebihinya. Itu yang membuat para pedagang lebih bersuka hati. Niatnya hanya ingin memberi agar memperoleh berkat, tapi justru mendapat rejeki yang berlebih.


“Ya kita nyari.“ Mereka mencari-cari dengan tatapan penuh selidik. Tiap pohon tinggi diamati. Siapa tahu diatasnya ada sebuah atau sekelompok buah yang bisa dinikmati.


“Itu....“


“Iya Itu.“


"Cepat panjat!"


'Sebentar dong. Ada harimau yang kemarin tidak?"


'Mana ada pohon harimau. Palingan ular."


"Kan kau menakut-nakuti."


Ronggo mencoba menaiki pohon itu, setelah yakin kalau ular atau harimau tak ada.


Seperti kemarin, selangkah demi selangkah. Melangkah pelan pada tiap ayunan tangannya. Hingga menjangkau dahan. Lalu di jangkau rantingnya.

__ADS_1


Dan buah itu dipetik, kemudian dilemparkan pada Putri. Berharap mengenai jidatnya hingga benjol.


Dibawah putri mengumpulkannya. Menerima setiap lemparan. Dan yang jatuh diambilnya. Untuk dibiarkan terkumpul. Tak perlu mengambil banyak. Secukupnya saja. Lagipula, seperti buah kemarin yang tak habis. Kali ini sisanya juga dibiarkan menggelantung. Kapan-kapan diambilnya lagi. Terutama jika tak ada cadangan makanan sedikitpun.


Beberapa buah langsung di kupas dan di gigitannya pelan-pelan.


“Asem nih.“


“Hooh.“


Maklum buah hutan. Meskipun sama-sama mangga, tapi jenisnya beda. Ini liar. Tak ada yang suka. Kecuali terpaksa. Seperti mereka kali ini.


“Lumayan lah. Setidaknya ada yang mengisi perut yang kosong. Meskipun tak tahu nanti bakalan melilit atau tidak. Karena rasanya demikian asamnya."


“Kali saja nanti di sana ada lagi ya?“ ujar Putri berharap. Atau menginginkan kawan tuanya itu mendapat apa yang dimauinya. Maklum apa-apa serba bergantung pada lelaki satu-satunya yang mesti bisa berusaha mencukupi apa yang mereka butuhkan pada kesehariannya.


Mereka mencari daerah yang demikian luas sepi dan belum banyak dijelajahi sejauh ini


“Kosong,“ ucap mereka.


Tak menemukan buah lain. Yang tak nampak sedikitpun di situ dan tak bisa mengambil atau menikmati.


“Sampai sungai ini.“


Mereka tiba di suatu hamparan lumayan luas yang sebelum ini mereka tak yakin pernah ke situ.

__ADS_1


__ADS_2