
“Istana berhasil kita kuasai kini tinggal pengejaran pada para pemberontakan itu yang sudah banyak yang lari tunggang langgang menghindari hadangan.“
Banyak yang terjebak oleh pasukan penghadang. Mereka lari tak melihat arah, yang penting tak ada musuh, maka mereka terus lari sejauh-jauhnya. Namun pada suatu pagar beteng yang jebol, disitu banyak pasukan penyerbu yang telah menghadang. Disini mereka mesti bertempur, mempertahankan diri. Kalau tidak berani dan sudah merasa terkepung maka akan diam menyerah. Namun dengan begitu tak ada kemungkinan untuk lolos.
Yang masih berani terus melawan. Hingga tak jarang banyak yang mesti terjun pada derasnya sungai Lohgawa supaya bisa lepas dari penangkapan. Karena tak ada jalan lain, untung-untung kalau berhasil, nantinya bakalan selamat, meski harus jatuh pada air yang keras dan dalam atau pada arus deras dengan bebatuan disekelilingnya.
Dan ketika berhasil menjangkau ditepian sungai, langsung dihadang oleh pasukan pemburu yang seolah-olah menangkap tikus basah akibat melintasi lautan sedemikian luas, bagi binatang kecil itu. Atau bagai gajah di pelupuk mata, sedemikian kecilnya pelupuk mata, hingga gajah saja ada didalamnya, sehingga dengan mudah jari besar manusia akan mampu menangkap gajah yang cuma satu pelupuk itu.
Mereka yang belum bersedia menyerah, terus diburu dan didesak mundur hingga keluar perbatasan di tepian hutan, dengan harapan bisa menangkap para musuh itu, hidup atau mati.
Atau menyerah.
Atau cukup kencing-kencing di celana orang.
Dan masuk dalam hutan jika terus diburu namun tak berhasil membantai sebagai satu-satunya jalan supaya tak tertangkap, dihukum gantung atau sama Merto Lulut akan dipertontonkan kepala tanpa badan ini.
Yang lain bakalan mencari bantuan serta perlindungan pada negeri tetangganya para tetangga. Andai berhasil lepas dari penangkapan musuh atau bebas bersyarat. Disana nanti mereka akan mencari dukungan. Untuk kembali melakukan penyerangan, andai sudah merasa mampu, dan kekuatannya sudah sangat besar seperti saat mereka berhasil menguasai istana.
“Lo kamu Merto Lulut,“ tanya seseorang yang tiba-tiba berbalik menghadapi pengejarannya. Orang ini begitu mengenal pada Ronggo. Dia yang diincar. Sekian lama dicari tak kunjung ketemu, dan baru pada malam jahanam ini, dia menampakkan diri. Untuk itu dia mesti menuntaskan segala dendam.
“Iya.“
“Ini aku juga Merto Lulut.“
“O yang menggantikan aku ya?“
“Pastinya.“
Gawat, orang itu pasti akan melawan dan merebut kembali jabatannya yang sudah terbuang. Dia pasti akan mengerahkan segenap kesaktiannya demi mendapatkan kembali apa yang sudah dia rasa dan nikmati sebagai suatu yang demikian asik untuk tetap dijabat. Bagaimana tidak sekarang apa-apa ada, semua serba tercukupi, kalau butuh tinggal menjentikkan jari, maka akan datang dengan segera, apa yang dibutuhkan itu. Berbeda kalau dirinya terus lari, bahkan untuk bernafas juga akan kesulitan.
__ADS_1
“Lo, bukannya kamu tadi mundur?“
“Aku hanya menunggu kedatangan mu.“
“Buat apa?“
“Ayo kita bertarung. Kalau aku berhasil mengalahkan mu, maka pastinya aku layak jadi Merto Lulut, yang nantinya akan memenggal kepalamu itu,“ ujarnya tanpa tedeng aling-aling. Dia ungkap terus terang akan keinginan menjabat kembali pekerjaan yang tengah ia pertaruhkan. Kalau dia menang, maka jabatan itu tentu akan dia miliki, meskipun orang lain yang menjadi pimpinannya, karena menganggap dia sangat pantas pada posisinya. Namun andai kalah, itu sudah sewajarnya disampingnya dia kalah tenar, nama besar keluarga Merto Lulut tentu sudah menjadi omongan semua pihak, akan kesaktian dan popularitasnya yang melebihi level tertinggi.
“Sebentar... sebentar... Bukannya kamu tadi sudah lari. Ya sana lari terus saja.“
“Aku sekarang berani melawannya.“
“Kau tak mengenal aku yang bahkan lebih kurus dari bapakku, meskipun kumis tak setebal dia, namun sebentar lagi aku juga bakalan menumbuhkan untuk aku pelintir hingga sangat menyeramkan,“ jelas Merto Lulut yang sangat bangga dengan keadaannya, serta berusaha agar musuh juga sangat takut, sehingga tak perlu berkelahi, atau baku hantam, tapi musuh mau mundur, lari bahkan kalau perlu bersedia menyerah.
“Aku tentu saja tak takut.“
“Dan lihat ini pusaka ayahku yang sudah berlumuran darah para tawanan, juga kali ini sudah banyak memenggal musuh teman-temanmu itu,“ kata Ronggo lagi.
“Majulah kalau begitu.“
Kedua Merto Lulut itu saling berkelahi, saling tindih. Saling hantam. Dan saling *****.
Sangat-sangat seru pertarungannya. Pertarungan yang sangat-sangat dinanti oleh para pirsawan juga orang-orang yang tak lagi kerja. Karena merupakan dua algojo yang haus darah.
“Nah ini berhasil.“
“Ih... Aku tusuk kamuhhh....“
Pedang Ronggo menusuk. Ditangkis lawan.
__ADS_1
Pedang lawan menebas. Ditangkis Ronggo. Hingga keluar cahaya menyilaukan dari dua pedang yang sangat ampuh dan penuh karisma kewibawaan itu.
Begitu terus.
Keduanya saling hajar.
Kaki musuh menendang, dan ditangkap Ronggo. Diseret sampai kakinya terpentang lebar. Untung tak sampai jatuh.
Putri lagi kerepotan memburu musuh, melihat kesibukan pengawalnya hingga melihat sebentar dengan diselingi kekawatiran yang tinggi. Maklum dia paham akan kesaktian si Ronggo yang demikian meragukan. Dia takut kalau-kalau si Ronggo celaka.
“Hei!“
Makanya dia berteriak keras. Sudah itu dilakukan berulang-ulang. Karena kalau Cuma sekali,, belum tentu bisa terdengar. Kalaupun terdengar tak akan jelas. Karena berbagai suara aneh ada didekatnya. Dentingan pedang, jerit menyayat, benda yang terjatuh, piring melayang, dan masih banyak lagi, yang suaranya mendekati perang sungguhan. Maka suara lengkingan seoarang wanita tak mampu memburai gendang telinga musuh.
“Jangan turut campur Putri!“ ujar si Merto Lulut musuh mendengar ada yang memanggil. Dia paham. Orang itu tentu akan menangkapnya juga. Karena dulu dia yang akan menangkap, kalau perlu memenggal leher cantiknya itu, seperti para kerabat istana yang sudah lebih dulu meregang nyawa.
Namun kala itu membuat perhatiannya lena. Dia lupa kalau lawan kali ini benar-benar haus darah. Dan jika dia tak bisa mengatasi keadaan bisa-bisa ujung senjata ampuh tersebut akan memangkas usianya.
Hingga....
Ah!
Tusukan Ronggo mengakhiri perlawanan sang Merto Lulut tandingan.
Dia sendiri heran, mengapa bisa demikian. Bukankah lawan demikian tangguh. Mungkin karena malam itu lawan tak lagi sakti, atau tengah melanggar pantangan, misalkan makan buah ketimun sehingga pada rontok, atau gara-gara melihat cewek, main cewek sembarangan, sehingga kesaktiannya dengan mudah tercuri.
Namun yang pasti, itulah yang kini berada dihadapannya sebagai korban ketidakadilan.
Akhirnya banyak yang menyerah dan siap menunggu hukuman. Setelah segala usaha untuk membebaskan diri tak berhasil.
__ADS_1
Mereka-mereka ini yang sebelumnya menjadi raja, ratu, patih panglima dan lain-lainnya. Demikian saja menyerah tanpa syarat isyarat.