
“Yuk kita jalan,“ ujar Si Ronggo Bintoro yang demikian sudah siap dengan segala peralatannya.
“Kemana lagi? Disini saja, nyaman,“ ujar Putri.
“Kita mesti mencari rekan,“ kata Ronggo.
“Begitu?“
“Hooh....“
“Hmmmm, sayang yah, padahal kita sudah lumayan lama membangun rumah tangga yang aneh ini,“ ujar Putri. Dia merasa jiwanya masih ada di goa terbuka itu. Memang, terkadang apa yang disukai, tak selamanya bisa dimiliki. Mesti ada waktu meninggalkannya, membuang, menyingkirkan jauh-jauh dari kenangan. Agar kenangan yang lain dapat diperoleh, seiring dengan waktu yang terus merambat. Bergulir terus, yang menyeret pada usia yang tak bisa diputar ulang. Untuk menuju pada pemberhentian akhir. Dimana semuanya baru bisa dihentikan. Termasuk waktu. Waktu bersama, waktu bernafas. Untuk menuju pada kehidupan selanjutnya, yang sulit dipahami.
Berbagai peralatan sederhana berhasil dibuat dan berbagai acara kehidupan sudah berhasil dicapai, hanya dengan alat alat itu. Kini mesti ditinggalkan. Berpindah lokasi. Untuk berikutnya membuat lagi apa yang diperlukan. Selama masih belum menetap. Dan kehidupan awal belum didapat semuanya. Masa itu juga yang membuat mereka terus berpindah.
“Ya sudah yuk...“ Akhirnya Putri bersedia pergi. Ini demi masa depannya yang sudah terputus dan mesti direbut kembali. Barangkali, sekian lamanya waktu, berada pada keterasingan, sudah bisa membuat rekan-rekannya diluar sana terkumpul, untuk kembali bersatu, melawan musuh yang kini tengah menguasai keraton.
“Bawa seperlunya saja.“
Ronggo memperingatkan.
Putri segera bersiap.
Dia hanya membawa yang penting saja.
Yang lain dibiarkan tertinggal.
“Kapan kita kesini lagi?“ ujar Putri, seakan enggan meninggalkan lokasi kenangan itu.
“Nanti, kalau situasi sudah aman dan semua milikmu sudah bisa kita rebut kembali,” jelas Ronggo. “Tapi kita paling hanya main. Tak bisa tinggal berlama-lama lagi. Selain terlalu sepi, tempat indah ini sulit untuk bertahan hidup.“
Mereka terus meninggalkan tempat tersebut. Kembali menuju arah dimana kedatangan mereka dahulu dilalui. Berharap, mereka mengingat kembali jalur yang sudah lama tak dilewati itu.
__ADS_1
“Itu sungai kenangan kita,“ tunjuk Putri Cipto Rini. “Dimana pernah hanya pakai daun.“
“Kamu mah mengejek aku, kalau begitu mah huh!” ujar Ronggo antara malu dan sebel yang tumbuh menjadi satu.
“Hehe...“
Mereka terus berjalan.
“Itu mangga, pelem hutan,“ tunjuk Putri mengingat pohon mangga keong yang kecil dan jumlahnya lumayan banyak namun demikian masam. Meskipun, kalau sudah masak dan berwarna kekuningan rasanya bisa sedikit manis juga. Kini jumlahnya tinggal sedikit. Dan terbanyak diambil mereka juga. Hanya sebagian ada yang jatuh membusuk, dan selebihnya dimakan sama binatang hutan lain yang mampu memakan buah tersebut. Bisa jadi, kelelawar, atau tupai, juga sesekali memakan buah tersebut, untuk bertahan hidup. Selagi makanan utama mereka belum diperoleh.
“Mau mengambil lagi?”
“Ogah kecut....“
Gunung patokan itu juga mesti ditinggalkan. Disebut demikian, karena gunung itu, tempat yang paling tinggi dan dapat dilihat dari jauh. sehingga kalau mau pulang gunung itu yang paling mudah diingat.
Berikutnya melewati pohon buah kuning, gigi kuning. Teringat kembali buah bulat yang manis namun bisa merubah gigi menjadi kuning akibat memakan buah liar tersebut, hingga bersih kembali kalau digosok giginya dengan siwak.
Buah mengerikan, sebelum dibuat tawar dengan merubahnya pada bentukan lain.
Mereka terus berjalan, menerobos hutan yang akhirnya keluar pada satu ujung, dimana menjelajahinya sebelum ini sudah mereka hafalkan serta berakhir dan meneruskan langkah menembus rimba lebat guna mendapatkan serta menemukan kehidupannya kembali dimana rekan-rekan seperjuangan mesti dicari.
“Eh... Ada Lutung,“ ujar Putri.
“Mana?“
“Itu diatas pohon.“
Dia tengah asik dengan kegemarannya. Naik-naik ke puncak. Panjat-panjat dahan. Juga berlompatan dengan gembira dari satu ranting ke ranting dahan yang lain. Kehidupan liarnya membawa bentukan yang aneh pada tangan dan kaki. Sehingga keempat tangan itu bisa berfungsi antara tangan dan kaki. Kaki-kaki itu juga bisa memegang dengan kuat layaknya tangan. Sementara tangan-tangannya menjadi kaki saat melangkah. Membuatnya tetap bisa berjalan dengan keempat kaki itu.
“Tangkap kita sate.“
__ADS_1
Panah disiapkan. Ditimang-timang. Ditaruh pada busurnya. Dibidik dengan seksama. Kemudian diturunkan lagi.
“Kasihan tapi,“ ujar mereka. “Wajahnya mirip.“
“Iya yah.“
Lutung itu hanya diam, menatap pada keduanya dan mulutnya manyun-manyun aneh, untuk terus mengunyah sesuatu. Dia seakan tak takut pada keduanya. Barangkali sebelumnya sudah pernah bertemu dengan mahluk aneh lainnya. Dan sejauh ini mereka tak mendapati persoalan apapun, hingga bisa bertahan sampai kini, dan tetap bisa bermain-main dengan santainya diatas dahan pohon tersebut.
“Ih yang kecil kemari,“ kata Putri. “Lucu....“
Lutung itu perlahan turun dari dahan yang menjadi pijakannya. Kemudian menghampiri keduanya, dengan tatapan aneh, seakan benda yang asing. Kelihatannya sejauh ini dia belum pernah bertemu dengan manusia. Sehingga dia tanpa curiga sedikitpun. Kalau-kalau si pemakan segala itu bakalan menangkapnya untuk dimakan sampai titik-titik noda darah terakhir.
“Lucunya dia lembut.“
Ditangkap perlahan, kemudian digendong dan dielus-elus bulu hitam yang halus memenuhi sekujur tubuhnya, sehingga dia merasa hangat, sementara ekornya yang panjang dikibas-kibaskan untuk mencari belaian lain.
“Hati-hati, mencakar kamu nanti, maka akan membuat luka.“
Seperti binatang liar lainnya, kalau merasa terganggu keberadaannya dia tak segan-segan menggunakan kuku kuatnya untuk menggores sehingga orang akan terluka atau gigi tajamnya buat menggigit.
“Enggak kok,“ ujar Putri. Diperhatikan sungguh-sungguh. Kenyataannya binatang kecil itu hanya diam, bahkan menempelkan kepalanya dalam gendongan Putri.
“Lucu, kita pelihara yuk...“ kata Putri lagi. Seakan tak takut dengan binatang primata yang sangat mirip itu. Dan ingin dijadikan teman. Sehingga di gua nanti dia tidak sendirian kalau lagi ditinggal pergi si Ronggo saat mencari nafkah, berburu, meramu, atau mencari kayu bakar di hutan.
“Eh... induknya datang.“
Dari atas dahan pohon yang terlihat tadi, sesuatu yang hitam dan besar, hampir sebesar manusia, menghampiri dia, turun dengan pelan, mendapati mereka. Dan dengan empat tangan kuatnya itu pula dia meniti pohon selangkah demi selangkah.
“Wah direbutnya. Dikira kita mau melakukan tindakan tak baik pada anaknya, sehingga dia berprasangka demikian,“ ujar Putri. Lutung itu merebut anaknya dari tangan orang yang tak dikenal. Dengan muka yang tidak mengenakkan.
Padahal keduanya tadi cuma mau memanah, tapi tak jadi. Sang induk membawa anak lutung itu kembali naik ke atas dahan yang tinggi dan tak bisa dijangkau oleh para manusia itu, kecuali dengan memanah dari kejauhan, dan jika kena maka akan terjungkal, merintih-rintih, berlumuran darah, berikutnya manyun.
__ADS_1
Sembari membawa lutung kecil dengan tangan kirinya dia melompat dan hilang dibalik lebatnya dedaunan hutan dan tak muncul lagi.