
Ronggo mencari sesuatu.
“Dimana ya?“ dia terus mencari. Pada sela pepohonan, menyusuri jalan setapak, serta diantara bebatuan sungai. Kira-kira kemarin atau sebelumnya dia lewat mana. Maka daerah itu yang ditelusur.
“Mencari apa sih?“ tanya Putri. Dia keheranan melihat rekan teamnya ini kelimpungan. Apa-apa diobrak-abrik. Yang sudah tertata dirusak. Yang baik dibongkar. Itu menjadi pemandangan yang tak mengenakkan jadinya.
“Kau lihat benda itu?“
“Apa?“
“Pedang pusaka.“ Ronggo mencari pedang kesayangan pemberian ayahnya dulu. Kali ini hanya itu benda warisan yang dikasih orang tuanya. Yang lain-lain, termasuk rumah dan harta benda mewah tentu saja berada di rumah dinas di istana Pasir Luhur. Segalanya tak sempat dibawa. Karena suasana chaos itu. Makanya segalanya tertinggal. Sehingga sayang andai benda warisan ini mesti hilang. Apalagi sudah lama dia menemaninya. Bukan hanya dirinya, ayahnya juga sudah lama memanfaatkannya untuk menghukum para musuh negara. Hingga menjadi populer, kalau senjata itu yang menjadi kesaktian ayahandanya dahulu. Dan dianggap identik. Selain kumis tebalnya, maka Mertolulut mesti punya pusaka itu. Walaupun tak selamanya, menghukum orang harus menggunakannya, bisa juga dengan gorok atau keris yang lain. Tapi benda itu sudah terlanjur populer. Bahkan orang-orang terhukum, semisal maling, perampok, begal, pemerkosa janda kembang, juga tukang selip uang, mereka akan memilih dihukum memakai pedang itu daripada hanya dengan keris atau tombak yang ketajamannya melebihi silet. Itu akibat populernya senjata tersebut menjadi alat penghukuman utama.
“Ini?“
“Oh sama kamu.“ Lega hati Ronggo. Pencariannya berakhir disitu. Rupanya dia tak jadi kehilangan. Nyatanya ada sama si Put. Dia menghentikan pencariannya. Untuk kemudian akan memperlakukan benda itu sebagaimana kesenangan keseharian pada masa sebelumnya. Akan dia asah tajam-tajam. Kemudian dibersihkan, dan dikeringkan memakai peralatan terbaik yang kala itu ada pada mereka.
__ADS_1
“Iya.“
“Buat apa sih?“
“Mengupas bawang,“ ujar Putri sembari memperlihatkan apa yang tengah dia kerjakan.
“Wah, wah... kebangetan kau!“
Ronggo uring-uringan. Dia merebut pusaka itu. Menyembahnya tiga kali baru dimasukkan ke dalam warangka nya.
“Itu benda pusaka, monyong!“ katanya. “Sembarangan kamu pakai“
“Habis adanya ini,“ ujar Putri. “Nanti masakan kita tidak matang.“
“Ya jangan pakai itu!“ ujar Ronggo yang mencoba menjelaskan lagi dan lagi. Namun yang dijelaskan belum paham juga. Akan kegunaan dan fungsi penting benda yang kali ini satu-satunya tersisa diantara mereka.
__ADS_1
“Lalu?“
“Pakai batu atau kayu kan bisa.“
“Kurang tajam lah.“ Masa memasak pakai batu. Memang jaman batu. Mumpung ada peralatan, makanya mesti dimanfaatkan semaksimal mungkin, agar mempermudah pekerjaan, serta tepat waktu akan terselesaikannya karya yang tengah digarap itu. Nanti bukannya akan dinikmati bersama kala semua sudah berhasil diselesaikan, dan menjadi suatu yang telah matang.
“Wuaduh. Ini pedang buat memenggal musuh, malah kau pakai buat mengupas bawang.“
Ronggo bertambah mangkel. Segera saja dia mencuci benda kesayangannya itu.
Selain itu, pedang ini pemberian ayahnya yang mesti dia jaga baik-baik.
Sebagai kebanggaan Mertolulut yang tak bisa diremehkan.
Sehingga para lawan, juga akan keder kalau melihat pusaka tersebut.
__ADS_1