
Cukup lama mereka terbuai di hamparan bebatuan remuk itu. Demikian banyak hasil yang dicipta oleh letusan gunung Cora atau terjadi lelehan dari dalam kawahnya. Sehingga saat keluar memunculkan demikian banyak batu yang lunak. Berikutnya mengeras dengan pendinginan yang dilakukan oleh cuaca. Dan akhirnya membatu seperti yang kali ini terlihat. Sehingga nampak demikian indahnya. Bagai tatanan tangan manusia. Namun kali ini demikian saja terhampar oleh kibasan alam. Tergerus oleh air yang menggenang dan menyeretnya untuk menuruni daerah rendah meskipun tak sampai pada hilir suatu tujuan. Akibat banyaknya bebatuan itu, terasa berat untuk dibawa oleh aliran air yang tak sepenuhnya besar. Tinggal menunggu datang terkumpulnya air lagi yang akan bisa menarik turun, hingga pada satu titik terhentinya kembali.
Kemudian mereka berusaha meninggalkan tempat tersebut dan mencari tempat yang cukup landai untuk dilewati.
Daerah itu memang indah. Tapi tak baik untuk ditinggali. Dalam waktu yang berlama-lama. Kalau air hujan turun, maka kemungkinan tempat yang kini dipijak akan tenggelam. Dan mereka bakalan terseret oleh arus derasnya. Untuk itu lebih baik memilih daerah lain yang lebih pantas dan enak untuk ditinggali.
Mereka berjalan lagi.
Namun belum jauh dalam beranjak meninggalkan tempat tersebut,
“Ih ada binatang, sebentar...“ Ronggo melihat keanehan. Didekatnya pada suatu semak-semak yang cukup rapat, terlihat gerakan aneh. Yang arahnya sedikit berbeda dengan sekitarnya akibat tiupan angin.
“Cepat tangkap!“ ujar Putri senang bakalan ada makanan yang akan mengisi perutnya untuk hari ini.
“Jangan berisik,“ ujar si Ronggo mencoba mendekati si binatang.
Setelah dekat dan berada dalam satu bidikan fokus, dipanah nya binatang itu.
Panah melesat dan kelihatannya sudah tepat mengarah pada sasaran.
__ADS_1
Lalu dilempar tombak untuk memastikan si binatang benar benar sudah berada dalam kekuasaan si pemburu yang demikian lihai itu.
Disibaknya rumpun ilalang tersebut. Didapatinya satu binatang yang tertembus oleh senjatanya. Dan terakhir di sembelihnya meskipun si binatang sudah terluka parah dan tak bisa beranak lagi maka untuk memastikan segera dikeluarkan senjata andalan untuk menyembelihnya.
“Lumayan,“ kata Putri senang.
“Cuma kancil.“
“Oh kecil ya,“ ujar Putri lagi.
“Tapi kalau dimakan sendiri juga bisa kenyang ini,“ jelas Ronggo sembari mengangkat bangkai baru itu.
“Heeh....“
Segera ditenteng binatang berdarah-darah itu untuk segera di kuliti dan dikasihkan pada perut lapar itu.
“Kita di bawah pohon bersisik ini dulu,“ ujar Ronggo seraya menaruh daging tersebut dan duduk di bawah suatu pohon rindang.
Mereka duduk. Kemudian membersihkan daging dari bulunya. Berikutnya dikuliti dan dagingnya dipotong-potong. Ditaruhnya pada tusukan kayu.
__ADS_1
“Nah sekarang kita tinggal bikin api unggun untuk membakarnya.“
Itu yang kemudian dilakukan. Meskipun kayu basah yang didapat, namun tak menyurutkan mereka untuk terus membikin api.
Dimasukkan daging segar itu ke dalam nyala pijarnya. Dengan ujung kayu yang panjang didiputar-putar daging tersebut di dalam api. Agar anasnya merata. Dan warnanya menjadi sama sempurna.
“Sudah matang kayaknya..“
“Coba diangkat, biar aku cicipi,“ kata Putri yang sudah ingin menikmati saja apa yang ada didepannya. Kelihatannya kali ini lebih asik dimakan daripada hanya menikmati pisang mentah seperti sebelum itu.
“Ini. Jeroannya dulu kali. Itu yang rapuh dan mudah masak.“
Dia mengangkat bagian yang lunak tersebut. Dikasihnya dan dicicipi sedikit. Terasa enak.
“Enak ya,“ kata Putri mencicipi.
“Itu karena kita lapar. Makanan sederhana begini terasa nyaman untuk mengganjal perut kita,“ ujar Ronggo Bintoro.
“Kita habiskan saja semuanya. Sampai perut merasa kenyang. Baru kitahentikan. Nanti sisa dagingnya kita bawa, siapa tahu di jalan kita lapar lagi, nanti tinggal memakannya. Sangat sulit mencari makan kalau kita tak paham betul situasi daerah ini.“
__ADS_1