Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding

Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding
Terus maju


__ADS_3

“Kita terus maju sampai menguasai beberapa wilayah agar mereka tahu kekuatan kita tak bisa dipandang enteng. Kita istirahat di dua desa depan,“ ujar para pimpinan mengurai rencana yang mesti berjalan demi suksesnya rencana, yang sudah berlalu, dengan keberhasilan yang didapat.


Mereka terus maju. Asal tidak ada musuh yang menghadang perjalanan mereka, maka semua tak ada pembunuhan apalagi penganiayaan. Dan membiarkan orang-orang yang tengah beraktifitas.


Ronggo dan Mercukundo terus memimpin. Mereka selalu mengacung-acungkan pusakanya sebagai tanda bagaimana pasukannya harus bersiaga dalam perintah, dan tak bergerak sendiri-sendiri, apalagi sendirian. Nanti hanya akan menjadi incaran musuh, untuk kemudian lenyap dari kehidupannya.


Sampai mentari mendekati surut mereka terus bergerak, tak kenal lelah dan mempunyai keinginan untuk lebih maju dalam cita dan berhasil apa yang diharapkan. Sehingga kota berhasil direbut. Untuk mendudukkan kembali dinastinya yang sedang terputus.

__ADS_1


Beberapa desa nampaknya tak dijaga, hanya beberapa orang menghadang pada posnya untuk menghambat pasukan itu dalam pergerakannya menjangkau istana.


Perlawanan mereka tak begitu berarti. Mereka langsung bisa mengatasi penghadangan itu. Baik itu dengan memanah para penghadang, melemparkan tombak tajamnya, atau langsung menyerang dengan pedang dalam jarak yang sangat dekat. Yang jelas, orang banyak itu tak kesulitan membongkar pertahanan musuh.


Bahkan pos jaga berikutnya nampak sepi, tak ada orang yang berjaga. Dibiarkannya kosong, dan jalan masuk ke dalam pusat desa dibiarkan terlewati begitu saja.


Entah mengapa, tempat tersebut dirasa semakin sunyi, mungkin tahu, sudah ada serangan dari musuh sehingga lebih baik menyingkir untuk melapor pada atasannya di pusat istana yang dikuasai, atau bersembunyi, agar tidak kepergok.

__ADS_1


Pasukan terus bertambah. Melihat berbagai kemenangan yang diraih, menjadikan orang-orang juga percaya akan harapannya menguasai kembali keraton. Kelompok orang, baik terlatih maupun tidak, langsung ikut menggabungkan diri dalam membantu penguasaan itu. Yang semula hanya 70 orang. Kini sudah meningkat menjadi lebih dari 1229 orang. Dengan kekuatan utama pada prajurit khusus. Dan lainnya, prajurit biasa serta para laskar yang belum terbiasa perang, namun demikian siap untuk membantu, dan merasa yakin, kalau kali ini akan berhasil merebt kembali semua yang telah hilang.


Pos depan siap dikuasai, namun mereka mengira kalau tempat tersebut, juga sudah ditinggalkan oleh musuh seperti yang sudah terlewati tadi. Kabar tentu telah menyebar, bahkan mungkin sudah sampai istana. Dan yakin mereka di kota sudah siap. Hanya pertarungannya nanti akan dilakukan di luar kota, atau hanya untuk berjaga mempertahankan istana. Sebab, selain kekuatan mereka kini sangat besar, musuh juga kurang lebih sama. Bagaimanapun, mereka juga memerlukan waktu untuk memperbesar diri. Dan belum tentu orang-orang bersedia bergabung dengan mereka. Ada yang lebih baik diam diri dengan keluarga, atau lebih enak jika bekerja seperti biasa, tanpa mesti mempertaruhkan nyawa.


Mereka terus melaju, dengan mantap, untuk lebih dekat istana, tempat segala penyerangan ini akan dipusatkan, dengan kekuatan yang besar tersebut, sehingga menambah keperayaan diri mereka dalam bertindak.


Disini istirahat, saat menguasai pendopo desa, berikut beberapa daerah yang sudah dilewati tadi. Dan matahari juga tak terlihat lagi, akibat telah ikutan lelah dalam memanaskan sinarnya.

__ADS_1


__ADS_2