Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding

Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding
Pemenggalan


__ADS_3

“Nah sekarang tugas kamu sana!“ ujar Putri Cipto Rini pada Ronggo yang tengah santai, mengelus senjatanya.


“Ada apa ya?“


“Itu memenggal kepala para pemberontak.“


Ronggo sedikit terkejut. Dia menghentikan kegiatannya. Tapi terbiasa kembali. Dan hanya menjawab, “Gampang itu.” Kembali dia melanjutkan kegiatannya. “Berapa sih? Paling satu. Itupun pemimpin yang paling bertanggung jawab.“


“Hus... sebanyak 750 orang pemberontak,“ kata Putri. Enak saja cuma satu. Lalu yang lain, siapa yang akan pancung mereka. Orang lain mana boleh. Juga mesti ada surat khusus kalau mesti melakukan hukuman yang setimpal dengan kejahatan yang dibuat. Kalau orang-orang biasa, selain tidak berani, takut akan darah dan hantunya, juga dilarang keras melakukan pemenggalan tanpa surat ijin yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat. Meskipun ada ijinnya juga tidak sembarangan main penggal. Dia mesti dilihat kesalahan dan dosa yang tak bisa diampuni.


“Waduh....“


“Kenapa?“


“Belum ku asah pedangnya,“ jawab Ronggo sekenanya. Malas sekali dia kalau harus berhubungan dengan tusuk menusuk begitu. Lebih baik menusuk sate daripada harus menusuk daging.


“Bagaimana sih ini. Kamu kan algojonya, anak Mertolulut, yang nantinya bakalan jadi Mertolulut!“ jelas Putri Cipto Rini yang mengaggap temannya itu tak jelas-jelas akan tugas dan kewajiban sebagai algojo yang tegas. Kalau tidak mau, maka bisa-bisa algojo akan dihapus, dan diganti dengan tukang jagal hewan atau tukang potong ayam, agar semua kegiatan dapat terisi sesuai bidang keahliannya.

__ADS_1


Ronggo hanya mendengus. Antara enggan sama mesti menjalankan tugas. Mau menolak, sudah tugas. Mau diteruskan ada rasa iba. Dia hanya bisa membayangkan, bagaimana jika dia yang kalah. Lalu diikat diatas kayu, dipertontonkan dan dibuka penutup itunya... kepalanya, yang mesti menanggung malu, akibat kekalahan menyakitkan. Lalu mendapati diri tanpa kepala, sementara hantunya masih diikat di lapangan sehingga tidak bisa menghantui para warga penakut.


“Eh... aku jadi semakin paham...“ kata Putri Cipto Rini


“Jangan sembarang!“


“Alah ketahuan kan?“


“Bisa diam tak....“ ujar Ronggo. Dia mau menangkap mulut Tuan Putrinya yang bawel.


Tapi Putri keburu menghindar.


“Mana bisa?“


“Begitu kita bebaskan, lalu kita beri peringatan, agar mereka tak berani-beraninya lagi melakukan pemberontakan terencana yang menyengsarakan rakyat banyak.“


“Mereka pemberontak, harus dipenggal dan mayatnya di taruh sepanjang jalan, biar ketahuan sama orang-orang, sehingga mereka tak berani-beraninya memberontak lagi.“

__ADS_1


“Memang tak dikasih ampun ya?“


“Di kasih sih dikasih, paling sedikit. seribu atau berapa, supaya mereka tidak kelaparan-kelaparan amat.“


Kata Ronggo, “Ya sudah di kurung saja. Nggak perlu mengotori tangan kita dengan darah-darah merah yang sangat menjijikkan ini dan menambah kita salah. “


“Kalau mereka melarikan diri?“


“Ya kita kejar, buat kerjaan para prajurit, biar perut mereka tidak buncit, karena kejar-kejaran yang dicipta kan,“ jelas Ronggo. “Lepaskan saja. Terutama yang tidak salah-salah amat. Ada kan yang memang tak salah, dia hanya ikut-ikutan saja, dia-dia ini yang dilepas saja.“


“Terserah kamu lah.“


“Ya itulah yang tengah saya pikirkan. Bagaimana kalau hukumannya tidak perlu potong kepala.“


“Kamu aneh ya. Biasanya, kalau algojo kan suka memenggal kepala, supaya ada pekerjaan.“


“Ya sudah, bebaskan saja mereka. Yang penting suasananya aman terkendali.“

__ADS_1


“Terserah kamu saja lah. Kalau mereka memperbanyak diri lagi, rasakan sendiri. Biar berpetualang lagi ke hutan kamu.“


__ADS_2