
“Ayo kita mulai menyerang desa terdekat,“ ujar orang-orang itu. Mereka sudah tidak sabar untuk kembali pada posisinya semula. Dengan pangkat dan pekerjaan yang sebelumnya mapan.
Dengan segera mulailah terkumpul pasukan besar yang langsung berderap maju. Mereka yakin kali ini akan meraih kemenangan. Para pimpinan yang handal sudah terkumpul. Beberapa waktu sebelumnya sudah ada rencana penyerangan. Dengan menunggu para prajurit pilihan bisa dipanggil. Serta tokoh-tokohnya siap memimpin. Dan sekaranglah saatnya.
Kumpulan orang itu terus bergerak. Melintasi hutan, menerjang segala rintangan. Termasuk sungai tanpa jembatan.
Mereka ini pasukan inti keraton dahulu yang terkenal akan kepiawaiannya dalam bertempur. Meski kini jumlahnya tak seberapa. Karena sebagian ada yang sudah terbunuh, atau bahkan membela musuh. Dan ada yang enggan melakukan pertarungan antar sesama. Mereka lebih suka berada di desa bersama keluarganya. Tak ingin diganggu dan tak akan mengganggu. Asalbisa hidup tanpa tekanan, mereka sudah diam. Tak mau tahu urusan di pusat. Meskipun harus diperintah oleh musuh.
__ADS_1
Kelompok yang hendak ke kota itu lumayan hebat. Dengan dukungan prajurit biasa serta rekrutan orang kampung biasa. Yang bersedia membantu perjuangan. Mereka mesti merebut kembali kekuasaan yang sudah lama hilang.
Putri berada di barisan belakang bersama pasukan srikandi dan para endang. Selain menjaga bagian belakang, juga melindungi pangeran. Dia berada di atas kudanya, juga dengan persenjataan perang yang lengkap. Dengan harapan, jika pasukannya terdesak, maka dia bisa menjaga diri sendiri.
Kelompok besar itu terang-terangan menyerbu desa Yang dikuasai para pemberontak dengan dipimpin oleh Ronggo Bintoro dan putra Singonegoro, si Mercukundo.
Mereka langsung main hunjam pada penjaga yang nampaknya tak bersiap diri, baik untuk melawan maupun untuk melarikan diri. Melapor pada atasannya atas. Mereka begitu saja langsung terkapar dengan luka sobekan yang mengerikan.
__ADS_1
Mereka main gebrak. Serangannya serentak. Dan langsung pada sasaran.
Panah berseliweran dengan cepat juga yang dilakukan sembari berjalan guna menembus pertahanan pasukan musuh. Sekali lepas disusul berikutnya yang langsung mencabut anak panah yang ada di tempatnya.
Kedua kelompok itu saling bunuh, tak perduli sebelumnya mereka adalah satu barisan yang saling kenal, saling rekanan bahkan ada yang satu saudara.
Pasukan penjaga yang jumlahnya tak seberapa itu langsung kocar-kacir. Banyak diantaranya yang terkena panah dan langsung mengerang kesakitan kala tertembus senjata itu atau jatuh bersimbah darah, yang kemudian oleh pasukan pedang langsung mendapat hantaman keras dengan senjata mengerikannya.
__ADS_1
Tak berapa lama sudah banyak yang terbunuh terkena panah mengerang langsung ditebas kepalanya dan jumlahnya langsung menurun drastis menghadapi pasukan terlatih itu.
Yang lain lari tunggang tunggangan mereka bakalan melapor pada pusat agar mendapat perlindungan karena merasa tak ada gunanya melawan pasukan kuat itu. Desa tersebut berhasil dikuasai dalam tempo yang tak berapa lama. Alias tempo sesingkat-singkatnya, atas nama para pimpinan penyerangan itu.