
“Lihat...“ ujar Ronggo senang. Dia membawa sesuatu yang merasa kalau Putri yang akan diberi juga merasa senang. Hasil dari dia menjelajah hutan sendirian. Mencari daerah sunyi yang belum dia jelajah sebelumnya. Untuk mendapatkan suatu yang berlainan. Agar hidup juga tak bosan. Meskipun sunyi, sendiri, jauh dari masyarakat ramai. Hal ini bisa sebagai sarana menghibur diri, dan melalaikan kepedihan.
“Apa....“
“Dapat makanan.“
“Apa itu?“
“Singkong.“
“Asik.“
Putri senang. Benar perkiraan Ronggo. Dia akan menikmati hasil yang berbeda dari waktu sebelumnya. Makanan ini sebenarnya sangat banyak kalau di pasar. Tapi pada suatu daerah terpencil begini, sangat sulit memperolehnya.
Ronggo membawa banyak sekali hasil bumi. Entah dapat dari mana. Tahu-tahu sudah membawanya. Serta kini ditaruh pada bibir goa sebelah luar yang tak terlindung apapun.
“Aku ke sungai dulu,“ kata Ronggo hendak mencuci badan yang kotor. Mandi sekaligus membersihkan pakaiannya untuk dijemur dan bisa dipakai pada waktu yang berganti. Segar rasanya, juga gatal-gatal mendadak sirna, seiring bersihnya tubuh. Lepas dari bakteri jahat yang menggelayut, seiring kotornya raga.
Setelah segar, dia kembali. Ingin menikmati hasil yang belum lama diperoleh.
__ADS_1
“Bah... wee...“
“Kenapa?“ tanya Ronggo keheranan, melihat Putri seperti tak merasa senang.
“Tak enak,“ jawabnya sembari terus mengeluarkan apa yang sudah dimakannya. Dia berusaha, seakan tersiksa sekali.
“Et....“
“Kenapa....“
“Itu jangan langsung dimakan.“
“Beracun tahu.“
“Kalau beracun kenapa kau bawa.“
“Itu mesti diolah dulu, baru bisa dinikmati,“ jelas Ronggo. Dia tak menyangka kalau Putri akan langsung memakannya. Akan menjadi bencana. Untung dia segera datang. Dan mengurai apa yang diketahuinya. Kalau sampai terlanjur masuk dalam jumlah banyak, maka nasib sial akan terus mengiringinya. Bisa jadi, tidak hanya sakit, namun yang parah akan lebih buruk, hingga ajalnya.
“Makanya aku merasa pusing.“
__ADS_1
“Kan, apa ku bilang,“ ujar Ronggo.
“Kamu belum bilang apa-apa.“
“Jangan dimakan dulu, mesti diolah, dibuang racunnya.“
Senang dapat singkong liar, sayang, ternyata beracun. Untung makannya tidak terlalu banyak.
“Singkong apa sih ini? Kok beda dengan yang lainnya."
Singkong ini sedikit berbeda. Terdapat kandungan zat yang berbahaya kalau langsung dikonsumsi. Meskipun tak selamanya membunuh. Kalau tak terlampau banyak. Jika terlalu banyak zat itu masuk ke tubuh, juga bisa merenggut nyawa. Dengan kondisi korban persis seperti keracunan makanan lainnya.
Bentuknya sama saja dengan jenis lainnya. Tapi kayunya lebih kuat. Dan mudah tumbuh disembarang tempat. Warna daunnya hijau tua. Kayunya juga lebih tua dibandingkan dengan yang lainnya, kalau dikupas kulit kayu itu sedikit. Jenis biasa akan lebih berwarna muda. Itu yang sedikit membedakan.
Sebelum dibuat tawar dengan merubahnya pada bentukan lain. Misalnya dibuat getuk atau oyek.
Oyek ini dibuat dengan merebus singkong hingga matang. Kemudian diparut, atau dihaluskan. Berikutnya dijemur sampai kering. Untuk kemudian dinikmati sebagai pengganti nasi menjadi makanan pokok, setiap harinya. Hanya dengan urapan kelapa dicampur garam. Lalu minumnya cukup gula kelapa dengan bubuk kopi.
Getuk juga bisa. Prosesnya hampir mirip. Namun diberi rasa yang berbeda. Dan variannya bisa banyak. Dibikin memanjang, lalu dipilin-pilin. Atau bulatan yang seperti batok. Bisa juga persegi empat dengan tiap sisi dipotong-potong jadi kotak. Yang jelas rasanya sama, getuk. Yang membedakan hanya bentukannya supaya terasa ada situasi lain kala menikmatinya.
__ADS_1