Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding

Mertolulut: Pendekar Sakti Tanpa Tanding
Menyusuri sungai


__ADS_3

Ronggo Bintoro mengajaknya beranjak perlahan, setelah hujan benar-benar berhenti dan cuaca kembali terang. Hanya kabut yang masih menggulung menyelimuti area itu, hingga membuat suasana bertambah mencekam. Gelap dan matahari seakan tak mampu menembus daerah itu. Suasana hati yang masih gelap. Kini semakin gelap saja dengan kondisi alam yang demikian.


“Padahal tempat tadi sudah nyaman ya,“ ujar Putri seakan enggan meninggalkan tempat tersebut.


“Ini tempatnya terbuka, mudah dilihat dari mana-mana. Tidak bisa buat bersembunyi,“ terang Ronggo melihat dari berbagai kepentingan. Takut kalau ada orang yang melihat. Lalu menangkap mereka. Kalau tidak, bakalan ada yang melaporkan keberadaan mereka pada musuh. Itu menjadi suatu hal yang fatal kalau nekat disitu terus. “Jangan sampai para pencari yang sok tahu dan suka menelusup itu menjangkau tempat ini. “


Putri menurut. Akhirnya dia meninggalkan daerah tersebut. “Yuk... siapa tahu nanti dapat perlindungan lagi.“


Dengan ogah keduanya mulai bangkit, hendak meninggalkan gubug di tengah sawah yang membuat mereka terhenti untuk berteduh dan terlindungi dari hujan yang membasahi tubuh.


“Bawa seadanya saja, “ ujar Paman Ronggo Bintoro. Agar sang putri santai saja tak perlu aneh dalam melanjutkan perjalanan. Sehingga dengan langkah yang pasti mereka bakalan sampai daerah lain yang lebih tersembunyi.


“Itu pisang,“ tunjuk nya, supaya nanti ada makanan yang tak kebingungan mencari lagi.

__ADS_1


“Mentah juga. Biar nanti mencari lagi.”


Mereka berjalan meninggalkan persawahan yang luas membentang hingga pada suatu ujungnya. Daerah yang semakin sulit dilalui. Dengan jalanan pematang sawah yang sempit. Juga licin akibat hujan yang baru saja berhenti, meninggalkan sisa basah pada bawah mereka.


Sungai itu seakan menggamit persawahan. Rupanya air yang mengairi persawahan tersebut diambil dari sungai ini. Yang tak pernah kering. Apalagi pada musim penghujan, yang justru meluap. Saat kemarau mereka mengambil lewat saluran yang lumayan lebar, dan memanjang seakan membelah persawahan itu. Kemudian air dibiarkan menggenangi sawah, hingga tanaman bisa tumbuh tanpa kekurangan air.


Disisi lain sungai tersebut ada pegunungan dengan pepohonan lebat. Daerah ini yang menyimpan banyak air. Lewat resapan tanahnya dan akar-akar pepohonan yang menyimpan dalam waktu lumayan panjang. Sampai pergantian musim, membuangnya kembali ke sungai itu.


“Kemana kita sekarang?“ tanya Putri.


Mereka menyusuri sungai tersebut. Airnya penuh dengan bebatuan yang menghampar disekitarnya. Tebingnya indah menghiasi sungai tersebut dan kanan kirinya bebatuan yang menjulang tapi sulit dilewati dan licin.


Mereka pelan-pelan menyusuri sungai, hingga pada suatu tempat bebatuan menanjak.

__ADS_1


“Aku tak bisa naik.“


Si Ronggo naik dulu dan berhasil.


“Ayo naik sini aku tarik,“ ujar si Ronggo sembari mengulurkan tangannya.


Putri menurut. Tangannya dia julurkan. Ronggo menarik dari atas bebatuan yang meninggi itu. Tak seberapa tinggi sih, tapi licin dan pijakan sulit. Sesekali tanahnya runtuh. Membuat merosot kembali. Namun tarikan kuat sang Ronggo mampu menarik tangan Putri dan tubuhnya terangkat hingga menjangkau tempat yang ditujunya.


Sejenak Putri istirahat. Mengatur nafas. Dan membiarkan lelah sejenak hilang.


Kemudian mereka melanjutkan perjalanan. Naik ke hulu sungai.


Setelah sampai di atas mereka senang. Selain karena berhasil menjangkau tempat tersebut. Juga pemandangannya yang demikian indah.

__ADS_1


“Bagus... “ ujar keduanya menatap hamparan tanah luas yang penuh batu-batu luas dengan dinding bebatuan yang seperti lukisan alam.


__ADS_2