
“Pergi lagi ah,” kata Si Ronggo untuk berburu dan meramu sembari membawa peralatan berburunya. Hari ini mesti mendapat makanan yang bisa masuk dalam lambung sebagai kekuatan dan bertahan hidup. Jika terus berada di tempat yang indah serta nyaman itu, maka kehidupan selanjutnya sudah bisa dibayangkan. Hanya penderitaan yang membuat nelangsa.
“Kali ini aku mau ikut.“ Putri ingin ikut. Jenuh rasanya kalau terus berada di rumah. Sendiri, sunyi. Serta kekhawatiran yang dirasa, kalau-kalau berikutnya tak ada teman. Ronggo celaka. Atau tersesat pada daerah yang tak mereka kenali. Andai berdua, maka sedikit banyaknya dia bisa ikut membantu.
“Ya sudah. Ayo kita segera berangkat kalau memang ingin ikut. Bawa seperlunya,“ kata Ronggo. Juga merasa kalau berada disini terus bakalan merasa jenuh. Hingga perlu untuk ingin mencari petualangan.
“Tapi kita nanti tetap disini saja, kembali lagi ke sini, mumpung aman dan para musuh tak bakalan menjangkau tempat sunyi begini,“ ujar Ronggo.
Mereka mulai meninggalkan tempat tinggal sementara itu. Menyusuri jalanan setapak yang penuh bebatuan alam.
“Kemana sekarang?“
__ADS_1
“Nyari sedapatnya saja, syukur-syukur dapat buruan besar, macam kijang atau celeng, kan lumayan untuk disimpan dalam beberapa waktu berikutnya.“
Mereka terus berjalan. Semakin menjauh. Menerobos semak belukar dan menyeberangi sungai-sungai beraliran deras. Dengan batu-batu alam memenuhi bagian dasarnya. Air hanya memercik di sela-sela batu besar tersebut. Mereka tak sanggup membawanya hingga muara. Dan mengumpul dalam kelompok besar bongkahan kerikil-kerikil yang tajam.
“Lewat kemarin lagi?“ kata Putri yang merasa bakalan sanggup melintasi rintangan Itu.
“Jangan lah. Nyari yang mudah-mudah saja,“ jawab Ronggo.
Mereka terus berjalan. Terkadang berdiri sejenak dibawah rumpun bambu liar, yang lumayan teduh, tak tertembus panasnya matahari. Disini seakan berada pada dunia lain. Dimana kedamaian benar-benar menyentuh hingga dalam jiwa.
Semak-semak rapat menghalang. Pada tepi setapak yang begitu dekat. Hingga tampak, hanya jalan itu saja yang bisa dilewati. Semak-semak hijau lebat itu kebanyakan ilalang. Pada ujung semak itu, dikejauhan sana, ada tumbuhan tinggi. Seakan menjadi pembatas untuk semak-semak itu mendapat wilayah hidup.
__ADS_1
“Tapi hati-hati siapa tahu binatang menakutkan.“
Ronggo berusaha mencari tahu ada apa dibalik semak-semak lebat dibawah pohon-pohon besar. Dia pergunakan tombaknya. Tangkai tombak yang panjang itu, lebih membuatnya berani dalam meneliti daerah yang kelihatannya berbahaya itu. Kalau-kalau ada binatang berbahaya, maka hanya tongkat itu yang lebih dahulu kena. Dia bisa menghindar atau melawannya.
Dan dibelakang putri mengikuti sembari bersiap dengan senjatanya juga. Seandainya ada binatang yang keluar dari semak-semak itu, dia bakalan ikut membantu menangkap.
“Kosong kok.“
“Jalan lagi saja, sembari melihat-lihat di sepanjang perjalanan kita, kalau-kalau ada sesuatu yang dapat dimakan, bisa umbi juga kelapa mungkin, atau malahan hewan buruan.“
“Wah didepan kita. Melintang sebuah gunung tinggi.“
__ADS_1
Mereka terhenti dan menatap lurus pada satu yang demikian kokoh. Untung andai cuma batu hitam yang menghalangi, kali ini benar-benar gunung yang menjulang.
“Tak bisa lewat. Kita putari saja. Gunung itu begitu kokoh dan tak dapat ditembus. Meski hanya bebatuan kapur yang sudah menghitam, karena lapuk atau akibat tertutup lumut dan kotoran lain. Tetap saja bukan perjalanan yang mudah untuk menerabasnya.”