
“Biar Saya berburu,“ ujar Ronggo pada keesokan harinya. Tak ada makanan, tak ada apa-apa untuk disantap pagi ini. Kalau tidak segera bertindak, maka waktu kedepannya penderitaan bakalan mereka rasakan berdua.
Makanya dia berusaha pergi. Ronggo hanya membawa panah dan senjata pedang kesayangannya terselip di pinggang. Untuk menjaga diri disampingnya buat menyerang buruan.
“Aku ikut,“ ujar Putri.
Enggan rasanya sendirian di situ. Takut kalau kehilangan satu-satunya rekan yang kali ini ada.
Bisa jadi akan datang musuh yang belum pasti keberadaannya. Yang jelas mereka pasti memburu dirinya. Selagi suasana memang belum aman. Kalau-kalau menemukan tempat ini, maka akan menjadi suatu petaka nantinya.
Atau justru si Ronggo yang nanti dalam perjalanan akan kena malapetaka. Tertawan musuh, atau mendapati binatang buas yang tak sanggup dia lawan.
Ini daerah liar dan sunyi.
__ADS_1
Masih banyak binatang buas yang sangat berbahaya.
Harimau, ular bahkan binatang hutan lain juga bisa mengamuk kalau ketemu.
Maka akan lebih terjaga jika ada kawan yang menemaninya. Sehingga bahaya bakalan dihadapi bersama.
“Sini dulu saja ya. Menunggu rumah baru kita,“ ujar Ronggo yang membiarkan Putri agar bisa istirahat dalam damai dulu. Sejak kepedihan di istana dulu itu tercipta, hingga sekarang dia belum merasakan istirahat yang tenang. Makanya dia membiarkan agar tuan putrinya itu tak melakukan kegiatan berat, hingga kondisi tubuhnya benar-benar pulih.
“Iya lah...“ Putri menurut.
Anak Merto Lulut pergi. Tanpa membawa apa-apa. Hanya persenjataan sederhana tadi. Berharap nanti akan mendapatkan apa-apa. Yang bisa menjadi pengganjal perut.
Dia menyusuri jalan setapak yang membelah hutan.
__ADS_1
Pada sisinya terdapat tebing yang lumayan tinggi.
Namun dia menerabas rerumputan tebal, untuk menuju daerah yang ada buruannya.
Putri sendirian kini, Semakin sepi.
Makanya dia mencari kesibukan.
Apa yang sering dia lihat di rumah, dia usahakan mendapatkannya. Terutama kebutuhan akan dapur dan lingkupnya. Maka dia membuat berbagai keperluan yang bisa dikerjakan. Semacam membuat keranjang dari bambu atau rotan. Itu bisa dibuat apalagi dalam kondisi terpaksa. Nanti barang tersebut bisa dipakai untuk tempat peralatan. Atau dibawa sebagai tempat membawa hasil hutan.
Dia juga membuat rak-rak sederhana dari kayu yang demikian banyak ditemukan di seputaran hutan itu. Disusunnya kayu-kayu pendek, dan diikat memakai tumbuhan menjalar atau batang pisang ang mengering. Itu bisa dipakai untuk mengikat sebagai tali-temali. Dan yang lebih kuat dipakai dari tali bambu atau rotan lunak. Sehingga tak lama jadilah peralatan sederhana yang ditempatkan begitu saja pada luar gua tempat tinggalnya sebagai manusia gua.
Ronggo terus berjalanan. Disusurinya jalan setapak hingga menjangkau sungai. Dia dapati sungai yang jumlahnya demikian banyak pada hutan tersebut. Kemudian Ronggo menuruni sungai tersebut untuk mencari ikan. Dan berikutnya sudah asik bermain-main dalam air yang lumayan dalam dan terletak diantara bebatuan lain, pada sungai berarus deras itu. Cukup lama dia melakukan hal tersebut. Dapat sedikit ikan karena hanya dengan tangan saja menangkapnya, tanpa menggunakan peralatan. Tak ada alat bantu. Itupun dapatnya ikan kecil-kecil. Hampir tak ada yang besar.
__ADS_1
Putri berikutnya mencari barang-barang yang sekiranya berguna untuk kesehariannya disekitar gua bukit itu. Ada bebatuan yang mirip munthu, penggilesan, diambil. Ada juga bebatuan yang mirip ciri, tempat sambal, diambil juga. Lumayan bisa dipakai sehari-hari nantinya.
Dalam perjalanan pulang melihat buruan, barangkali saja kali ini bakalan lebih bisa mendapatkan hasil yang lebih memuaskan, hingga nanti orang dirumah tidak ngomel-ngomel. Pelan-pelan dipanah dan kena. Binatang kecil itu ditentengnya, disandingkan dengan ikan yang sama-sama kecil. Tapi lumayan untuk dimakan nantinya.