Met By Lightning

Met By Lightning
Kehidupan Sasya : Keinginan si Bos


__ADS_3

Kini kafe tersebut begitu ramai pelanggan bahkan sampai ramai yang memesan di aplikasi gojek, Sasya begitu bahagia karena kopi buatannya begitu laris dan si bos begitu senang terhadap Sasya dan mulai meliriknya seketika itu.



Beberapa saat setelah para pelanggan sudah pada berpulangan si bos mencari kesempatan dan menghampiri Sasya lalu berkata “ Kamu capek ya ? “.



“ Lumayan sih Bos... tapi alhamdulillah ramai pembeli “.



“ Trima kasih ya... ini semua berkat kamu kafe ini bisa terkenal “.



“ Gak juga kok Bos “.



“ Kok enggak sih, kan karena resep kopi mu ini kafe ini jadi bahan pembicaraan dimana mana sampai masuk berita loh “.



“ Biasa aja si Bos “.



“ Jangan panggil saya Bos lagi dong kan umur kita gak jauh beda “.



“ Emang umur Bos berapa ? “.



“ Umur saya masih 21 tahun kok, panggil aja Riski “.



“ Baik Bos... eh Riski maksudnya “.



Sasya tahu bahwa si Bos berusaha mendekatinya, tapi karena dia adalah Bos mau tidak mau Sasya harus bersikap ramah kepadanya. Suatu hari di kala hujan yang begitu deras, kafe ini sepi hanya Sasya dan juga si Bos. Sementara pegawai yang lainnya mencari bahan untuk membuat kopi. Si Bos pun membuka percakapan.


__ADS_1


“ Diluar hujan ya “.



“ Iya Bos “.



“ Kok masih manggil Bos sih “.



“ Maksudnya Riski “ Sasya berkata dengan tersenyum.



“ Senyummu itu bikin diabetes loh “.



“ Bisa aja kamu “.



“ Seriusan loh... coba deh deketin wajahmu kesini “.




Sasya kaget setengah mati dan berkata “ Apaan sih ki... “.



“ Hehe.. maaf.. “.



Sasya ingin menampar Riski tapi ia adalah Bos di kafe tersebut.



“ Iya Bos gak papa kok “.



“ Soalnya kamu manis sih jadi pengen jilat “.

__ADS_1



Sembari menunggu hujan reda Sasya membuatkan kopi untuk Riski lalu berbincang tentang berbagai macam hal hingga silsilah kafe ini dan berbagai macam hal yang sudah ia lewati. Walaupun Sasya begitu geram atas kejadian tadi tapi ia tetap berusaha tersenyum dan mendengarkan cerita Riski.



Hujan pun tak kunjung usai hingga hari hampir gelap merekapun memutuskan untuk menutup kafe, setelah mereka selesai menutup kafe Sasya memutuskan untuk pulang dan menunggu angkutan umum di pinggir jalan. Riski yang pada saat itu sedang mengambil mobilnya ia melihat Sasya tengah menunggu angkutan umum dan ia pun mendekati Sasya lalu berkata, “ Lagi nunggu angkutan umum ya ? “.



“ Iya Ris... “ Sasya membalas dengan senyuman.



“ Gimana kalau kita pulang bareng aja “.



“ Hehe... Maaf ya Ris kayaknya ga bisa “.



“ Kok gitu ? “.



“ Takut ngerepotin nanti “.



“ Ya elah, santai aja kali “.



“ Tapi kan Ris, gak enak aja gitu masa seorang karyawan satu mobil sama bos “ Sasya berusaha memperlama percakapan tersebut sembari menunggu angkutan umum lewat.



“ Biarin aja mereka mau bilang apa... yang penting kan kita gak seperti yang mereka bilang “.



Beberapa saat kemudian angkutan umum pun lewat dan sesegera mungkin Sasya masuk kedalam nya lalu berkata kepada si bos , “ Luan ya Bos... ‘.


Sasya berusaha agar tak terlalu dekat dengan Bosnya sendiri. Ia merasa bahwa Bos tersebut berniat jahat kepadanya. Tapi mau tidak mau ia harus tetap bekerja. walaupun di bawah tekanan seperti itu.


Sesampainya dirumah Sasya terlihat sangat lelah karena seharian bekerja tanpa henti akhirnya ia memutuskan untuk beristirahat agar kembali segar keesokan harinya.

__ADS_1


^_^_^Met By Lightning^_^_^



__ADS_2