
Hujan deras yang turun malam itu sangat dingin, suara petir menggelegar seakan-akan ingin membelah gunung. Theo seorang pemuda kelas 3 SMA menarik selimutnya untuk menghangatkan tubuhnya, dia tinggal seorang diri, orangtuanya menyewakan sebuah rumah untuknya, karena rumah orangtua dan sekolahnya berada di kota yang berbeda. Malam semakin panjang dengan hujan yang tiada hentinya, bahkan tetes hujan jatuh dari atap rumahnya dan membasahi kasur dan wajah Theo, Theo terbangun dengan raut wajah sangat kesal karena ternyata atap rumahnya bocor.
"Sial, bocor lagi." Gumam Theo
Theo bangun dari kasurnya dan bergegas mengambil wadah air untuk menampung air hujan yang menetes di atas kasurnya, dia menurunkan kasurnya dari ranjang dan menaruhnya di lantai. Ketika dia ingin kembali tidur, ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya, Theo pikir awalnya hanya ranting pohon, tapi ternyata ketukan itu semakin kuat dan Theo yakin itu bukan ranting pohon, melainkan seseorang. Karena penasaran dia keluar dari kamarnya dan menuju ke depan pintu rumahnya.
"Siapa sih malam-malam gini ketuk pintu rumah, jangan-jangan hantu lagi." Ucap Theo diiringi rasa takut
Ketika dia membuka pintu rumahnya, tak seorangpun yang muncul, hanya ada sebuah cermin besar yang tinggi dihadapannya.
"Apa ini?" Tanya Theo "siapa orang gila yang naruh cermin ini malam-malam." Lanjutnya
Karena malas pusing, dia tidak menghiraukan cermin itu dan kembali menutup pintu rumahnya. Ketika dia sedang berjalan kembali ke kamar suara ketukan kembali terdengar, dengan raut yang marah Theo berjalan cepat menuju pintu rumah dan membukanya sembari memaki.
"Oi bedebah, jangan iseng ya!" Bentak Theo
Namun, tetap tak ada seorangpun yang muncul dihadapannya, yang dia lihat hanya sebuah cermin yang besar yang memantulkan tubuhnya sendiri.
"Sinting!" Gerutu Theo
Akhirnya, Theo membawa cermin itu masuk kedalam kamarnya dan menaruhnya di pojok ruangan dan dia kembali tidur.
Hujan berhenti dan suara alarm berbunyi, Theo yang sangat lelah dan kurang tidur tidak bergegas bangun, suara alarm terus berbunyi tanpa henti dan memaksa Theo untuk bangun karena dia harus segera pergi ke sekolah untuk melaksanakan Ujian Tengah Semester, ketika dia melihat ke arah jam, Theo terkejut dan melompat panik, karena jam menunjukkan pukul 07.12 dan dia akan telat pergi ke sekolah.
"Waduh kesiangan." Ucap Theo
Dia segera bangun dan mandi. Seusai mandi, dia menatap cermin yang dia bawa masuk tadi malam, ternyata di cermin itu ada sebuah surat dengan tulisan yang aneh, karena rasa penasaran tentang surat tersebut, Theo menyimpannya di kantungnya. Dia juga melihat ukiran-ukiran aneh di sisi cermin yang baru dia sadari.
"Bagus juga." Gumam Theo
Waktu terus berjalan, Theo kembali menatap jam dan waktu menunjukkan pukul 07.23, tujuh menit lagi dia akan telat. Dengan tergesa-gesa, Theo mengambil sisir untuk merapikan rambutnya, dia kembali menatap cermin itu, hingga tiba-tiba sesosok wanita muncul dari cermin itu dengan baju putih, dengan mahkota kecil dikepalanya. Theo kaget dan mundur beberapa langkah, wanita itu tetap berada di cermin itu dan memberi isyarat meminta pertolongan, tak lama kemudian wanita itu menghilang dari hadapannya.
"Hantu kah?" Tanya Theo
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Theo menyentuh cermin itu dan cermin itu menghisap tubuhnya, Theo menjerit dengan sangat keras, bahkan jeritannya bisa memecahkan kaca setebal 3inch, dia berputar-putar di sebuah lorong yang penuh dengan warna, lalu dia sekilas melihat jutaan bintang, tak lama kemudian dia terjatuh dari langit dan mendarat di sebuah bukit yang sangat hijau, Theo tak merasakan apapun, padahal dia jatuh dari ketinggian 20.000 kaki.
Theo bangun dengan pikiran yang sangat bingung, cuitan burung terdengar dari segala penjuru, udara yang sangat sejuk juga dirasakannya, dia merasa benar-benar berada di dunia yang berbeda.
"Aku dimana?" Tanyanya
Dia berjalan menelusuri bukit tersebut, lalu terus berjalan jauh hingga akhirnya dia melihat sebuah kota yang sangat besar, bangunannya terbuat dari batu-batu besar yang disusun dengan rapi dan sangat indah, dia juga melihat ada orang yang terbang mengendarai kuda bertanduk berwarna putih. Pemandangan yang benar-benar membuat Theo tidak percaya dan merasa dia sedang bermimpi.
Selain itu, dia juga melihat orang-orang berjalan di pasar dengan baju khas abad pertengahan dan di sisi lain kota ada pertarungan antar dua manusia, mereka saling bertarung tanpa henti dengan penonton yang jumlahnya ribuan, berteriak menyemangati manusia yang sedang bertarung. Theo merasa seperti dirinya adalah tokoh anime yang terdampar di dunia yang tidak diketahui.
"Hahaha, ini gila." Gumam Theo
Tiba-tiba Theo ingat bahwa dia harus segera ke sekolah untuk ujian, tapi dia tidak tahu caranya untuk pergi dari dunia yang dia datangi ini, bahkan Theo merasa kalau ini semua hanya mimpi, Theo menampar dirinya sendiri dan dia tak juga terbangun dari tidurnya, karena semua ini bukan mimpi, melainkan sebuah kenyataan.
Theo sedari tadi tidak menyadari, bahwa pakaian yang dia kenakan ternyata berubah, dia mengenakan sebuah pakaian yang menyerupai penduduk di kota tersebut. Theo yang bingung bergegas turun dari bukit untuk menemui penduduk dan menanyakan dirinya ada dimana, dia melihat seorang pedagang yang berjualan buah-buahan segar, tanpa lama Theo segera menghampirinya dan bertanya kepadanya.
"Permisi tuan, kalau boleh tahu saya dimana?" Tanya Theo kepada pedagang buah tersebut
"Ini negeri Karya, adik dari negeri mana?" Kata pedagang tersebut
Theo kaget karena bahasa yang barusan dia gunakan bukanlah bahasa sehari-hari yang dipakai, alam bawah sadar Theo mengucapkan bahasa yang belum pernah dia pelajari dan dia juga kaget karena mengerti ucapan dari pedagang tersebut.
"Saya dari Indonesia tuan." Kata Theo
"Aku belum pernah mendengar ada negeri bernama Indonesia, kalau adik tersesat, adik bisa bertanya kepada para anak Hermes, mereka mengenakan pakaian biru dengan gulungan di punggungnya, mereka biasanya memberikan informasi karena mereka ditugaskan oleh dewa kami Hermes untuk menyampaikan pesan." Kata pedagang itu
"Apa saya sedang di Yunani tuan?" Tanya Theo lagi
Pedagang itu menunjukkan raut terkejut dan takut, seakan-akan mengucapkan Yunani adalah malapetaka besar.
"Jangan pernah menyebut kata itu disini, sebut saja kita berada di Ellada, karena kata itu hanya para Theo (Dewa) yang boleh menyebutkannya." Jelas pedagang itu
Theo semakin bingung, karena dia merasa namanya Theo jadi dia berhak menyebut kata Yunani dan dia memberitahukan namanya kepada pedagang tersebut.
__ADS_1
"Tapi saya Theo tuan," Kata Theo
Pedagang itu semakin takut dan terkejut lalu bersujud kepada Theo.
"Jangan sujud begitu tuan." Kata Theo lagi
"Dewa kami, mohon ampuni kami yang tak sadar dirimu sedang dihadapanku." Kata pedagang itu
Penduduk pasar kebingungan dan segera bersujud dihadapan Theo setelah mendengar perkataan pedagang tersebut, Theo makin bingung dan mengira bahwa mereka sudah gila. Kemudian, Theo meninggalkan mereka dan mencoba mencari orang waras yang bisa dia ajak bicara. Diperjalanannya, dia bertemu dengan seorang gadis seumurannya sedang membaca buku, gadis itu sangat cantik dengan rambut berwarna hitam kecoklatan, warna mata yang biru dan bibir berwarna merah yang tipis, dengan pakaian berwarna biru yang dipakainya dan gulungan di punggungnya, gadis itu sedang membaca sebuah buku yang sangat tebal. Kemudian, Theo menghampiri gadis itu.
"Anak hermes?" Tanya Theo tiba-tiba
Gadis itu menatapnya sekilas, tapi Theo tak dihiraukannya dan kembali membaca buku yang dipegangnya.
"Aku dari Indonesia anak Hermes, namaku Theo, aku ingin bertanya kepadamu." Ucap Theo
Gadis itu segera menutup bukunya dan melemparkan buku yang tebal itu ke wajah Theo, buku itu tepat mengenai sasaran dan Theo meringis kesakitan.
"Udah gila!" Hardik Theo dengan suara yang tinggi
"Kamu yang gila, ngaku-ngaku dari Indonesia dengan membawa nama dewa tertinggi." Kata gadis itu
Theo bingung dan menjelaskan tentang dirinya ke gadis tersebut.
"Aku jujur, aku dari Indonesia dan namaku Theo, aku datang kesini melalui sebuah cermin yang dikirim dikamarku semalam, aku tidak tahu apa-apa, aku hanya ingin pergi secepatnya dari sini dan melaksanakan Ujian Tengah Semester di sekolahku." Jelas Theo panjang
"Itu dongeng yang dibacakan ibuku ketika kecil sebelum aku tidur, pasti aku tahu kalau ibumu juga menceritakan dongeng yang sama kepadamu, hingga kamu berkhayal yang tidak-tidak." Kata Gadis itu
"Sepertinya semua yang disini tidak waras." Gerutu Theo
Theo kemudian bergegas pergi meninggalkan gadis itu, tapi gadis itu mengejar Theo.
"Tunggu, apakah ayah atau ibumu juga anak Hermes, karena hanya anak Hermes yang tau cerita itu, tapi dari baju yang kamu kenakan, kamu seperti orang biasa." Kata Gadis itu
"Ayahku adalah anak dari Bambang dan nama ayahku Budi, jadi aku tidak tahu apa-apa tentang Hermes dan anak-anaknya, yang ku tahu Hermes adalah dewa mitologi Yunani yang kubaca dibuku pelajaranku." Ucap Theo
"Ramalan itu benar, sebaiknya kamu ikut aku sekarang." Kata Gadis itu
"Sebelumnya, perkenalkan namaku Chloe, sebaiknya kamu ikut aku sebelum kamu ditemukan oleh anak dewa yang lainnya."
Tanpa pikir panjang Theo mengikuti Chloe kesebuah rumah, Chloe menyuruh Theo masuk kedalam rumah tersebut dan ketika Theo masuk Chloe mengunci Theo sendirian di dalam rumah itu.
"Oi gadis sialan, keluarin aku dari sini!" Teriak Theo dari dalam
Chloe dari luar menunggu jawaban yang selama ini berlari dipikirannya, dia menunggu jawaban apakah Theo seperti ramalan yang dia dengar ketika masih kecil, sebuah dongeng yang puluhan ribu tahun turun dan diceritakan dikalangan anak Hermes.
Rumah tersebut adalah rumah ujian bagi anak Ares yang layak, ujian ketahanan tubuh. Ketika seseorang masuk kedalamnya, maka akan muncul api yang sangat panas dan membakar, hanya anak Ares yang bertahan dari panasnya api tersebut, karena anak Ares memiliki ketahanan tubuh yang diatas normal, walaupun anak Ares bertahan, mereka akan meninggalkan bekas luka bakar yang membentuk tatto ditubuhnya sesuai kehendak sang api, jadi mudah untuk bisa mengetahui anak Ares dan anak lainnya.
Theo yang berada di dalam kaget karena tiba-tiba ada api yang sangat besar tiba-tiba muncul, api tersebut berbentuk burung dan mendekat ke arahnya. Lalu, api tersebut mengajaknya bicara.
"Aku tidak pernah melihat anak Ares kecil sepertimu." Kata api tersebut
"Aku bukan anak Ares!" Teriak Theo
"Kalau bukan, artinya kamu sudah siap mati." Ucap api itu
Api itu mendekat kearahnya dan menghantam tubuh Theo, tapi Theo tak merasakan apa-apa, api itu mengitari tubuh Theo dan lagi-lagi Theo tidak merasakan apa-apa.
"Aku pernah melihat anak Ares yang bertahan, tapi mereka tidak akan tahan dengan yang ini, aku akan memanaskan tubuhku lagi, sepanas lahar gunung olympus!" Teriak api itu
Suhu ruangan semakin panas, Theo bingung dan membuka mulutnya, karena dia sangat terkejut, dia terkejut bukan karena tubuhnya tak bisa terbakar, dia terkejut karena ucapan api itu yang sangat aneh.
"Sudahlah burung api, aku tak ada waktu denganmu, aku ingin segera keluar dari sini dan melaksakan Ujian Akhir Semester." Kata Theo
Burung api itu sangat marah dan suhu tubuhnya memanas, bahkan panasnya menyerupai panas matahari, tapi tetap saja Theo tak merasakan apapun.
"Kau sangat layak sebagai anak Ares, daya tahan tubuhmu menyerupai Dewa Ares, aku sudah mencapai panas maksimal dan tubuhmu tak terbakar sekalipun." Kata api itu
__ADS_1
"Sudah? Kalau sudah aku ingin keluar." Kata Theo
"Sesuai permintaanmu."
Burung api itu menghilang dan pintu rumah itu terbuka, Chloe yang sedari tadi menunggu diluar sangat kaget karena dia melihat Theo tidak kenapa-kenapa.
"Bagaimana mungkin, aku yang diluar saja merasakan hawa panas dari dalam rumah ini." Kata Chloe
"Aku tadi bertemu burung api di dalam, kamu ingin membunuhku?" Tanya Theo
"Tidak-tidak, aku hanya mengujimu." Kata Chloe lagi
Chloe berpikir ini benar-benar seperti dalam ramalan, tapi itu belum cukup bagi Chloe untuk membuktikan bahwa Theo adalah pemuda dari ramalan tersebut, Chloe ingin membuktikan sekali lagi untuk meyakinkan bahwa Theo adalah pemuda tersebut.
"Jadi, selanjutnya kita kemana?" Tanya Theo lagi
"Ayo ikut aku, aku akan menunjukkan sesuatu."
"Tidak ada tipuan lagi?" Tanya Theo
"Hehe, tenang saja." Jawab Chloe berbohong
Theo kembali mengikuti Chloe, mereka tiba disebuah sumur, Chloe duduk dan menyender di sisi sumur dan menunjukkan ekspresi kelelahan.
"Aku lelah." Kata Chloe
"Masih jauh tempatnya?" Tanya Theo lagi
"Cukup jauh, bagaimana jika lelaki baik mengambilkanku air dari dalam sumur ini, aku haus." Kata Chloe
"Menyebalkan." Gerutu Theo
Theo menengok ke dalam sumur, sumur tersebut sangat dalam bahkan tidak terlihat dasarnya, karena Theo ingin cepat keluar dari dunia aneh ini, jadi Theo menurut saja dan menurunkan timba kedalamnya untuk mengambil air.
Dalam hati Chloe berpikir, tidak akan muncul air dari dalam sumur tersebut dan hanya anak Poseidon yang bisa menimba di sumur tersebut dan Chloe yakin Theo tidak akan mendapatkan air dari subu tersebut.
"Khikhikhi, aku pernah mencoba menimba disini selama 4 jam, karena aku bukan anak Poseidon kail timba tak juga naik." Gumam Chloe dalam hatinya
Lima menit berlalu, timba tak juga sampai. Tapi Theo tak menunjukkan ekspresi lelah sama sekali, dia terus menimba tanpa henti sampai akhirnya kail timba muncul dengan air penuh di dalam ember yang ditimba oleh Theo.
"Ini airnya, dalam juga ya, aku menimba lama sekali." Kata Theo
"Tidak! Tidak! Tidak mungkin!" Teriak Chloe kaget
"Hah? Apa yang tidak mungkin."
"Bukan apa-apa."
Chloe sangat kaget, hanya dalam waktu 5 menit Theo berhasil mendapatkan air dari sumur Poseidon, bahkan anak kandung Poseidon memakan waktu 30 menit untuk mendapatkan air dari sumur suci ini. Chloe khawatir dan takut, jika ramalan itu benar, maka akan ada perang besar yang terjadi. Chloe harus memutuskan, seperti kata Ramalan, akan ada anak Hermes yang membantu seorang pemuda, pemuda tersebut datang dari balik cermin dan akan menghancurkan Olympus, sejak ramalan itu tersebar hanya anak Hermes yang mengetahui ramalan tersebut, Zeus dan Dewa lainnya tak tahu tentang ramalan tersebut, orang biasapun tak tahu tentang ramalan tersebut. Itu sebabnya anak Hermes menjaga betul-betul rahasia ini, karena jika Zeus tahu, maka dia akan membunuh semua anak Hermes.
"Baiklah, untuk sekarang jangan sebut dirimu Theo, karena Theo hanya boleh digunakan untuk dewa yang tinggal di Olympus, kamu harus mencari nama lain dan aku akan menemani perjalananmu disini." Jelas Chloe
"Kapan aku bisa keluar dari sini?" Tanya Theo
"Aku tidak tahu, tapi untuk sekarang aku akan terus berada bersamamu dan menjawab semua pertanyaanmu, jangan pernah berbicara sebelum ku suruh bicara dan jangan pernah diam ketika ku suruh bicara, paham?"
Theo mengangguk.
"Aku hanya ingin keluar dari sini dan segera menyelesaikan Ujian Akhir Semester." Kata Theo
"Apapun yang kamu sebutkan aku tidak tahu, tapi intinya kamu akan selamat jika kamu mengikuti kataku." Jelas Chloe lagi
"Aku akan menamai diriku Olympus." Kata Theo
"Kamu sudah gila? Nama yang lain."
"Haha, bagaimana dengan Andrew? Keren kan?"
__ADS_1
"Bagus juga, jadi mulai sekarang namamu adalah Andrew."
Perjalanan Theo dimulai, Theo yang tidak mengetahui apapun tentang dunia Ellada akan berjalan bersama seorang gadis bernama Chloe yang diketahui sebagai anak Hermes, apa mungkin Theo bisa segera keluar dari Ellada dan kembali ke Bumi untuk mengikuti Ujian Akhir Semester atau ada tugas yang lebih besar dihadapannya? Kita tidak tahu dan yang tahu hanyalah diri Theo sendiri.