Mirror Of God

Mirror Of God
Episode 1 : Ujian Dasar


__ADS_3

Olympus : Singgahsana Zeus


Zeus sedari tadi memasang wajah yang masam, dia merasakan ada hal yang janggal terjadi di dunianya. Sudah puluhan ribu tahun Zeus tidak merasakan hal aneh ini, untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun Zeus merasa takut terhadap sesuatu yang tidak dia ketahui.


Hera sang istri, merasa ada yang tidak beres dengan suaminya, bermaksud menghibur dan menanyakan masalah suaminya, Hera menghampiri Zeus dan mengajaknya berbicara.


"Apa yang kamu risaukan suamiku?" Tanya Hera sembari memeluk tubuh Zeus


"Darahku mengalir cepat, aku kembali merasakan takut." Ucap Zeus


"Apa yang kamu takutkan?"


"Aku juga tidak tahu itu apa, coba kamu panggil Hermes kesini."


Hera segera mematuhi perintah Zeus, Hera mencari Hermes di Olympus dan dia melihat Hermes sedang membaca sebuah buku di perpustakaan Olympus, sudah hampir dua ribu tahun dia tidak keluar dari perpustakaan ini.


"Hermes, kamu diperintahkan untuk menemui Zeus." Kata Hera


"Untuk apa dia menemuiku?" Tanyanya


"Turuti saja perintah Dewa tertinggi, atau kamu ingin mati?"


Hermes tahu saat ini akan datang, Dewa yang pertama kali tahu bahwa seorang pemuda dari Bumi datang ke Ellada adalah Hermes, karena dia adalah pusat pengetahuan dan keilmuan, tidak ada satupun hal yang lepas dari pandangannya dan tidak ada satupun ilmu yang tidak dia ketahui.


Hermes menutup bukunya dan menghampiri Zeus di singgahsananya, Zeus sangat senang karena Hermes datang menemuinya, Zeus bermaksud untuk berkonsultasi kepadanya.


"Aku suka kamu langsung meninggalkan perpustakaan busukmu dan langsung menemuiku, ada hal yang ingin ku bicarakan padamu Hermes." Ucap Zeus


"Sebutkan saja."


"Aku merasa resah, darahku memompa cepat, jantungku berdetak kencang tak seperti biasanya, seakan-akan ada hal yang kutakuti muncul di hadapanku." Kata Zeus


"Tidak ada yang perlu ditakuti, karena kamu adalah penguasa tertinggi dan tidak ada seorangpun yang bisa melukaimu."


"Aku tahu bahwa aku abadi, tapi ini sangat berbeda."


Hermes sebenarnya tahu ramalan itu akan datang, tapi Hermes menyembunyikan semua itu karena dia tidak ingin ilmu yang di pelajari oleh anak-anaknya hilang begitu saja dan tanpa ilmu dunia akan masuk ke era kegelapan. Jika Zeus tau yang sebenarnya, maka semua anak Hermes akan dilenyapkan olehnya tanpa ampun sekalipun.


"Untuk menghiburmu, bagaimana kalau kita adakan ujian." Kata Hermes


"Oh, Ujian Olympus? Aku sudah lima ribu tahun tak menonton pertunjukan itu." Ucap Zeus


"Ares pemenang terakhir lima ribu tahun yang lalu dan dia sekarang menduduki kursi Dewa Perang, walaupun kekuatannya di atas Dewa yang lainnya, tapi dia tetap sangat lemah dihadapanmu." Kata Hermes


"Ya ya, aku tahu itu, sebaiknya kita cari orang berbakat selanjutnya untuk menduduki Olympus, untuk menjadi pelindungku, seandainya suatu hal yang tidak beres terjadi." Kata Zeus


"Aku akan langsung turun menemui manusia dan memberitahukan info ini kepada anak-anakku." Kata Hermes


Hermes keluar dari singgahsananya Zeus dan turun dari Olympus menuju Ellada, dia memanggil pemimpin para anak Hermes dari semua negeri untuk berkumpul di gerbang Olympus. Tanpa memakan waktu lama, para pemimpin anak Hermes berkumpul di depan gerbang untuk menemui Dewa mereka.


"Suatu kebanggaan bagiku bertemu kalian semua anak-anakku, aku bermaksud untuk menyampaikan pesan penting dari Dewa Zeus untuk disampaikan kepada para manusia, bahwa ujian Olympus sebentar lagi dibuka, bagi siapa saja yang layak, mereka akan tinggal di Olympus dan menjadi Dewa dari para manusia, siapapun boleh ikut, semua umur dan tidak ada perbedaan apapun antara laki-laki dan perempuan, yang cacat atau yang tidak, semua boleh berpartisipasi untuk duduk di singgahsana Dewa Olympus." Ucap Hermes


Mereka yang mendengarnya berteriak kegirangan, seakan-akan itu adalah anugerah yang begitu luar biasa, semua mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi Dewa dan itu kesempatan berharga yang tidak muncul dalam ribuan tahun lamanya dan ini adalah kesempatan mereka untuk duduk di singgahsana Olympus.


Berita begitu cepat tersebar, seluruh dunia mendengar kabar itu, seluruh dunia bersyukur dan menyembah kepada Zeus, semakin mereka menyembah Zeus, semakin kuat pula kekuatan Zeuz, karena Zeus hidup atas pujian dan sembahan dari para manusia.


Chloe dan Theopun mendengar kabar tersebut.


Negeri Karya : Rumah Chloe


Chloe berlari terburu-buru untuk segera menemui Theo yang berada di dalam rumahnya, wajahnya berseri dan begitu bahagia karena mendengar kabar itu, Chloe segera menyampaikan pesan itu kepada Theo yang sedang duduk melamun.


"Oy Andrew!" Teriak Chloe memecah lamunan Theo

__ADS_1


"Apasih, gak usah teriak-teriak."


"Ujian Olympus dibuka, ayo segera ke pusat kota untuk mengikuti ujian tersebut."


"Apa untungnya bagiku?"


"Kalau kau ingin cepat kembali ke duniamu, mungkin ini adalah jalan yang tercepat."


Karena bujukan manis dari Chloe, Theo mau untuk mengikuti Ujian Olympus, Theo dan Chloepun segera menuju pusat kota yang sudah dipenuhi oleh jutaan manusia yang ingin berpartisipasi, Theo kaget karena jumlah orang yang ingin berpartisipasi lebih dari dugaanya.


"Memang acara apa sampai sebanyak ini yang ingin berpartisipasi?" Tanya Theo


"Siapa yang bisa menyelesaikan ujian sampai akhir, mereka akan duduk di singgahsana Olympus. Aku kira ini tidak akan datang dikehidupanku, ternyata ini adalah suatu keberuntungan bagiku karena ujian ini ada ketika aku hidup." Kata Chloe bersemangat


Theo yang bingung diam saja, suasana di pusat kota benar-benar tidak terkendali, dia melihat berbagai jenis manusia, ada yang besar, kecil, tua, muda dan bentuk-bentuk lainnya, Theo merasa ada yang tidak beres dengan semua ini, karena dikedatangannya Dewa Olympus melaksakan ujian ini.


Suasana yang begitu ramai tiba-tiba hening, karena Dewa Hermes muncul dihadapan mereka. Dewa Hermes menyampaikan peraturan dari ujian, semua yang ada di pusat kota memperhatikan tanpa ada suara sama sekali.


"Ujian pertama sebelum kalian pantas masuk ke singgahsana Olympus adalah, akan jatuh sebuah kartu dari atas langit, siapapun yang berhasil mendapatkan kartu itu dalam waktu 30 menit, kalian akan segera di pindahkan ke tempat ujian berikutnya, kartu itu akan jatuh pada 3..... 2..... 1...."


Bras, ribuan kartu turun dari langit dan memenuhi pusat kota, mereka semua gerak serentak untuk mendapatkan kartu itu, bahkan tidak sedikit dari merek saling bunuh untuk mendapatkan kartu itu.


Theo yang tidak tahu apa-apa, tanpa dia sadari ada kartu yang jatuh ke kantungnya bajunya, Theo sangat kaget, tapi dia tidak berani mengeluarkan dan menunjukkan kartu itu, karena bahaya baginya jika dia menunjukkan kartu itu, bisa saja ada orang yang mencoba mengambil paksa kartu itu darinya dan mencoba membunuh dirinya.


Ditengah keramaian yang tak dapat dikendalikan, Chloe berlari kearah Theo dan segera menariknya keluar dari kerumunan, dia terus menarik tangan Theo sampai mereka benar-benar jauh dari pusat kota.


"Kamu mau ajak aku kemana!" Teriak Theo


"Aku mendapatkan kartunya, kamu sudah dapat?" Tanya Chloe


Theo mengangguk. Kemudian, Chloe mengajak Theo berlari dan terus menjauh, karena Chloe khawatir akan ada orang yang mencoba merebut kartu itu dari mereka. Firasat Chloe benar-benar terjadi, sekumpulan manusia dengan tatto di tubuhnya muncul dan menghadang jalan mereka, ada 4 orang yang menghadang mereka, ukuran tubuh mereka sangat besar dibandingkan dengan Theo dan Chloe.


"Sialan, mereka anak Ares." Kata Chloe


"Kalian anak kecil, berikan kartu itu kepada kami." Kata salah satu dari mereka


"Kami tidak memiliki kartu apapun." Kata Chloe


"Mungkin dengan membelah tubuhmu, kami akan menemukan kartu yang kalian sembunyikan."


Tanpa persiapan dan aba-aba anak-anak Ares itu menyerang Chloe dan Theo dengan pedang yang sangat tajam, tubuh Chloe yang kecil dan lincah dapat dengan mudah menghindar serangan pertama dari mereka, tapi Chloe sadar jika ini terus berlanjut maka tubuh mereka akan terpotong-potong dan mereka akan mati begitu saja. Di sisi lain, Chloe kaget melihat Theo yang baru saja terkena pedang dari mereka, tapi tak ada bekas apapun di tubuhnya.


"Wah, aku gak pintar menghindar, tapi pedang itu seperti pedang mainan? Aku tak merasakan apapun." Kata Theo


"Tangguh juga bocah kecil! Teman-teman serang bocah laki-laki itu bersama-sama!" Teriak salah satu dari mereka


Mereka dengan gerakan yang cepat dan kuat bergerak ke arah Theo, Theo tidak dapat menghindari ayunan pedang mereka, sampai akhirnya seluruh pedang mereka mendarat di tubuh Theo, tapi tetap saja Theo tak merasakan apapun.


"Hahaha, geli." Kata Theo


Chloe menganga menunjukkan ekspresi terkejut, Chloe tidak menyangka bahwa pedang anak Ares tak berhasil menembus kulit dari Theo.


"Andrew! Kamu kuat! Lawan mereka!" Teriak Chloe


Theo yang sadar kekuatannya segera melayangkan tinjunya ke salah satu anak Ares, ketika tinju itu mendarat di wajahnya, anak Ares itu terpental puluhan meter dan tewas seketika, tiga orang yang lain ketakutan melihat kekuatan dari Theo.


"Jenis apa kamu! Kami anak Ares tak mungkin tewas hanya dengan satu tinjuan." Kata anak Ares lainnya


Theo juga tidak tahu apa yang baru saja dia lakukan, Theo merasa bersalah karena baru saja membunuh. Tapi, sifat alami bertahan hidupnya yang membuat dia melakukan itu. Theo tidak ingin mati, ketiga anak Ares itu lagi-lagi menyerang Theo, Theo sama sekali tidak menghindar dan Theo menyerang balik mereka bertiga dengan masing-masing satu tinjuan, dengan mudah mereka tumbang dan tewas seketika di tangan Theo.


Setelah mereka semua mati, Chloe kembali menarik tangan Theo, tapi ternyata 30 menit sudah habis.


Olympus : Ruang Ujian

__ADS_1


Tiba-tiba mereka berpindah ke tempat yang tidak mereka ketahui, mereka berada disebuah kamar yang sangat bagus dan megah, ada 3 kasur dihadapan mereka, tapi hanya mereka berdua yang ada di kamar itu.


"Kita dimana?" Tanya Theo


"Aku tidak tahu, sepertinya kita sudah lulus ujian pertama." Jawab Chloe


Tiba-tiba muncul satu orang lagi dihadapan mereka secara tiba-tiba, seorang pemuda dengan rambut pendek hitam dan baju berwarna merah terang.


"Siapa dia?" Tanya Theo


"Dia anak Athena." Kata Chloe


"Menarik." Ucap pemuda itu


"Apa yang menarik?" Tanya Chloe


"Seorang anak Hermes muncul dihadapanku, aku tidak kaget karena pengetahuan yang kalian miliki." Kata pemuda itu


"Siapa namamu?" Celetuk Theo


Pemuda itu menatap Theo jijik


"Pakaianmu sangat hina, kamu sepertinya cuma pengemis dari kalangan bawah, bagaimana mungkin kamu lulus tes pertama, aku tahu pasti karena keberuntungan kamu bisa muncul disini." Ucap pemuda itu


"Enak saja, aku baru saja...." Sebelum ucapan Theo selesai, Chloe memberi isyarat untuknya agar diam


"Baru saja apa? Aku yakin kamu tidak akan bertahan lama disini, aku bisa sampai kesini membunuh salah satu anak Ares pemegang kartu, pertarungan sengit dan panjang, tapi aku unggul karena aku lebih cerdas dari pada para anak Ares yang hanya mengandalkan fisik tanpa otak." Ucap Pemuda itu


"Jangan sombong." Kata Chloe


"Oh iya, aku lupa ada seorang anak Hermes yang cuma punya otak tapi tubuhnya sangat lemah, aku adalah anak Athena yang memiliki fisik yang kuat dan otak yang cerdas akan segera duduk di kursi Olympus." Ucap pemuda itu


"Akan ada ribuan anak Athena lain yang lebih berbakat darimu untuk memperebutkan singgahsana Olympus." Kata Chloe


"Tapi mereka tidak sepertiku, aku adalah bibit unggul yang lain daripada yang lain." Kata pemuda itu


Perdebatan mereka terhenti, karena tiba-tiba Dewa Hermes kembali muncul dihadapan mereka, Dewa Hermes memberitahukan peraturan selanjutnya di dalam ujian.


"Selamat untuk kalian yang telah terpilih masuk ke dalam Olympus, Olympus sangat luas dan sesi ujian seterusnya akan dilaksanakan di Olympus, kalian boleh makan apa saja, boleh melakukan apa saja di dalam Olympus dalam masa istirahat, tapi tidak boleh saling membunuh. Ujian selanjutnya akan dilaksakan 3 hari lagi, dan sebaiknya kalian berkenalan kepada teman satu kamar kalian, karena itu akan menjadi teman satu tim kalian di ujian seterusnya, selamat beristirahat." Jelas Hermes panjang


Hermes menghilang dan raut wajah pemuda itu sangat aneh, kemudian pemuda itu menggerutu kesal karena dia baru saja mendapatkan tim yang sama sekali tidak dia harapkan.


"Pembagian tim macam apa ini, aku satu tim dengan pengemis dan ras lemah, sialan!" Gerutu pemuda itu


"Sebaiknya jangan terus bertengkar, sebutkan saja siapa namamu." Kata Chloe


"Baiklah kalau begitu, namaku Evan. Aku harap kalian tidak menjadi beban di timku." Ucap Evan sombong


Theo tersenyum kecut, begitupun Chloe.


"Namaku Chloe." Kata Chloe


"Namaku Andrew." Ucap Theo


"Aku berharap kalian tidak mati dalam perjalananku untuk duduk di singgahsana Olympus." Kata Evan


"Kamu seharusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri." Ucap Theo


Sebuah tim telah terbentuk, seorang anak Hermes, seorang anak Athena, dan seorang yang memiliki kemampuan yang tidak diketahui, perjalanan mereka masih sangat panjang untuk mencapai singgahsana Olympus, kematian mengikuti mereka di setiap langkah seakan-akan maut bersahabat dengan mereka. Setiap ujian yang akan mereka lalui tidak akan mudah, karena untuk mencapai sesuatu yang sangat tinggi membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Musuh yang mereka hadapi juga bukan musuh biasa, karena semakin jauh perjalanan mereka tingkat kesulitan bertahan hidup akan semakin kecil.


"Aku lapar, ayok ke kantin Olympus." Ajak Evan yang mulai bersahabat


Chloe dan Theo saling bertatapan dan tersenyum, mereka mengikuti Evan.

__ADS_1


Perjalanan yang sesungguhnya dimulai 3 Hari lagi.


__ADS_2