Mirror Of God

Mirror Of God
Episode 9 : Baron The Great Spartan


__ADS_3

Ras Spartan adalah Ras paling unggul dikalangan manusia, mereka memiliki kemampuan yang setara para dewa, bahkan ada beberapa dari Spartan yang seimbang melawan Dewa Hercules. Ciri khas mereka adalah memiliki badan yang besar dan tubuh yang sangat keras, lebih keras daripada berlian. Mereka tidak mudah dibunuh, bahkan seorang Spartan bisa melawan 1000 orang sekaligus. Mereka hidup di negeri Spartan, jauh dari negeri lainnya, negeri mereka juga tidak berada pada pengawasan Zeus dan dewa-dewa lainnya, mereka hidup terasing dan jarang terlihat di negeri-negeri besar, mereka keluar hanya ketika musim dagang, mereka tidak menerima uang, mereka hanya mau menerima barang-barang dan ditukarkan dengan senjata atau baju sirah yang mereka punya.


Baron bukan anak spesial di kalangan Spartan, Baron adalah anak sederhana dan lahir dikeluarga yang sederhana, kesehariannya juga tergolong biasa saja, membuat senjata dan bekerja untuk keluarganya. Suatu hari dia diajak ayahnya menuju kota Karya, kota yang dikuasai anak Hermes untuk membarter zirah buatan ayahnya, disuatu jalan dia melihat ada seorang pria dan wanita sedang berbincang, dia mencuri dengar pembicaraan mereka dan membuat Baron terkejut dengan apa yang dia dengar. Pria dan wanita itu adalah Theo dan Chloe


"Aku dari Indonesia anak Hermes, namaku Theo, aku ingin bertanya kepadamu." Ucap Theo


Kemudian Baron melihat gadis itu melempar buku ke arah pria itu


"Udah gila!" Hardik Theo


"Kamu yang gila, ngaku-ngaku dari Indonesia dengan membawa nama dewa tertinggi." Kata Chloe


Baron tetap mencuri dengar, Baron penasaran dan ingin tahu apa yang sebenarnya mereka bicarakan dan Baron ingin tahu siapa pria bernama Theo itu, karena Baron sangat mengenal nama Theo, karena nama Theo sangat di agung-agungkan oleh Spartan, Theo adalah Dewa para Spartan.


"Aku jujur, aku dari Indonesia dan namaku Theo, aku datang kesini melalui sebuah cermin yang dikirim dikamarku semalam, aku tidak tahu apa-apa, aku hanya ingin pergi secepatnya dari sini dan melaksanakan Ujian Tengah Semester di sekolahku."


Baron bingung dengan apa yang dibicarakan Theo, tapi dia tetap ingin mendengarnya, karena dia penasaran, bagaimana mungkin seorang anak muda memiliki nama seperti nama dewa mereka.


"Itu dongeng yang dibacakan ibuku ketika kecil sebelum aku tidur, pasti aku tahu kalau ibumu juga menceritakan dongeng yang sama kepadamu, hingga kamu berkhayal yang tidak-tidak." Kata Chloe


"Benar juga, aku juga pernah di ceritakan bahwa Dewa kami saat ini serang tertidur dan suatu saat akan kembali, apa mungkin pria itu adalah Dewa kami?" Gumam Baron


Kemudian, Baron melihat Theo bergegas pergi meninggalkan Chloe, tapi Chloe mengejar Theo.


"Tunggu, apakah ayah atau ibumu juga anak Hermes, karena hanya anak Hermes yang tau cerita itu, tapi dari baju yang kamu kenakan, kamu seperti orang biasa." Kata Chloe


"Ayahku adalah anak dari Bambang dan nama ayahku Budi, jadi aku tidak tahu apa-apa tentang Hermes dan anak-anaknya, yang ku tahu Hermes adalah dewa mitologi Yunani yang kubaca dibuku pelajaranku." Ucap Theo


"Ramalan itu benar, sebaiknya kamu ikut aku sekarang." Kata Chloe


"Kemana?"


"Sebelumnya, perkenalkan namaku Chloe, sebaiknya kamu ikut aku sebelum kamu ditemukan oleh anak dewa yang lainnya."


Kemudian mereka pergi, Baron secara diam-diam mengikuti mereka, lalu mereka sampai disebuah rumah, Baron tidak tahu itu rumah apa. Tak lama kemudian, Theo masuk ke dalam rumah dan Chloe menutup pintu rumah. Baron melihat dari luar ada api yang berkobar di dalam rumah itu, bahkan hawa panasnya terasa sampai ke Baron. Baron berpikir, Theo pasti mati dengan api sepanas itu.


"Jika dia memang dewa, dia pasti selamat." Gumam Baron


Tak lama kemudian Theo keluar dengan tubuh sehat, tidak ada luka sama sekali di tubuhnya.


"Luar biasa! Pria itu bertahan dengan api sepanas itu." Gumam Baron


Kemudian Theo dan Chloe pergi lagi ke suatu tempat, ternyata tempat itu adalah sumur, Baron tetap mengikuti mereka secara diam-diam, Baron tidak mengetahui itu sumur apa dan Baron melihat pria itu menimba di sumur itu, Baron menunggu selama 5 menit dan pria itu berhasil menimba sumur itu.


"Lemah sekali, butuh waktu 5 menit hanya untuk menimba sebuah sumur." Gumam Baron


Setelah menimba sumur itu mereka pergi, Baron mencoba mengikutinya, tapi Baron kehilangan jejak, karena penasaran Baron kembali ke sumur itu dan mencoba menimbanya.


Baron terus menimba sumur itu, dia terus menimba tanpa lelah, tapi timba tak juga naik.


"Sedalam apa sumur ini?" Gumam Baron


Baron tak juga menyerah, dia terus menimba dan tidak ada hentinya, entah sudah berapa jam dia terus menimba, sampai tiba-tiba ada seseorang yang menampar kepalanya, Baron sangat marah dan melepas tali timba.


"Hei sialan! Padahal bentar lagi sampai!" Teriak Baron


"Apa kamu bilang?"


Baron terkejut, karena yang menampar kepalanya adalah ayahnya sendiri, ayah Baron kemudian menjewer telinga Baron.


"Ampun yah, sakit banget." Baron memohon kesakitan


"Jadi kamu dari tadi main di sumur ini yah, ayah menyuruhmu berdagang bukan bermain." Kata Ayah Baron


"Ampun yah ampun, tadi aku ngeliat pemuda seumuranku berhasil menimba sumur ini dalam waktu 5 menit dan aku mencoba melakukannya, tapi kail timba tak juga naik." Kata Baron


"Anak Spartan tidak ada yang lemah, lihat ayah dan pelajari." Kata Ayahnya


Kemudian ayah Baron mencoba menimba di sumur itu, Baron memperhatikannya dengan sangat seksama, Baron tahu ayahnya kuat dan pasti mudah hanya menimba air di sumur itu.


Sudah 30 menit Baron menunggu, sampai-sampai dia mengantuk, kemudian Baron bersender di sumur.


"Masih lama yah?" Tanya Baron


"Bodoh! Ayahmu sedang berusaha, kamu mengejek ayah?"


"Tidak yah tidak."


Baron tetap menunggu, tapi tetap saja kail timba tak juga naik. Dewa Hermes memperhatikan dari dalam perpustakaanya dan Dewa Hermes tertawa melihat tingkah 2 Spartan bodoh yang sedang mencoba menimba di sumur Poseidon. Kemudian Dewa Hermes mengirim bayangannya untuk menghampiri 2 Spartan itu.


"Hei Spartan!" Panggil Dewa Hermes


Ayahnya Baron merasa yang memanggilnya adalah seorang Dewa, Ras Spartan sangat membenci dewa-dewa Olympus dan mereka dapat dengan mudah merasakan kehadiran Dewa di sekitar mereka.


"Aku mencium bau anjing disini." Kata Ayah Baron


"Tenang Spartan, aku tidak ingin mencari masalah." Kata Dewa Hermes


Ayah Baron melepas kail timba dan menyerang bayangan Dewa Hermes, tapi sia-sia karena yang diserangnya adalah bayangan. Kemudian ayah Baron menyerang lagi dan lagi, dan tetap sia-sia, serangannya menembus bayangan itu. Dewa Hermes bosan menunggu, sampai akhirnya dia mulai membuka pembicaraan.


"Hei Goda, sudahlah hentikan." Kata Dewa Hermes


"Baron menjauh, bahkan dia tahu nama ayah, aku akan membunuhnya." Kata ayah Baron


Baron yang sedikit takut menjauh, dia memperhatikan mereka dari jauh.


"Kamu tidak akan bisa menyerangku." Kata Dewa Hermes


"Diam, dasar anjing anjingnya Zeus!' Teriak ayahnya Baron


Ayah Baron terus memukul tanpa lelah, kekuatan Spartan memang benar-benar luar biasa, dia tidak merasakan lelah sama sekali.

__ADS_1


"Dewa mu telah bangun." Kata Dewa Hermes


Ayah Baron menghentikan pukulannya dan terkejut mendengar ucapan dari Dewa Hermes.


"Maksudmu?"


"Dewa Theo telah bangun dan dia berada di Negeri ini." Kata Dewa Hermes


"Kamu mencoba menipuku? Aku tidak bodoh!" Teriak Goda


"Tanya saja dengan anakmu." Kata Dewa Hermes


Goda menoleh ke Baron dan memanggilnya, Baron datang menuju ayahnya.


"Apa benar Baron?" Tanya Goda


"Iya ayah, aku sudah menceritakan tentang seorang pria yang menimba sumur ini dalam waktu 5 menit." Kata Baron


"Siapa nama anak itu?" Tanya Goda lagi


"Namanya Theo." Ucap Baron


Goda sangat terkejut mendengar ucapan Baron.


"Maksudmu Dewa Theo? Bukan Theo ini kan?" Tanya Goda lagi


*Semua Dewa Di Olympus Di Panggil Theo


"Theo yang asli, dia datang dari dunia yang berbeda." Kata Baron


Goda benar-benar tidak percaya, dewa yang selama ini mereka tunggu akhirnya bangkit juga, Goda harus segera memberitahukan info ini kepada Dewa Kratos.


"Aku harus segera menyampaikannya ke Dewa Kratos." Kata Goda


"Bodoh, kamu tidak tahu bahwa Kratos sudah menjadi anjingnya Zeus." Ucap Dewa Hermes


"Apa maksudmu? Kamu menghina Dewa Kami!" Kata Goda marah


"Otak kalian ini memang tidak pernah digunakan ya? Apa kamu pernah melihat Kratos sepanjang hidupmu?" Tanya Dewa Hermes


"Dewa Kratos sedang bersemedi untuk memanggil Dewa Theo, itu yang dia lakukan." Kata Goda


Dewa Hermes menghela nafas panjang, lalu dia menunjukkan sebuah layar yang menampilkan Kratos.


"Tutup mata anakmu." Kata Dewa Hermes


Baron tanpa disuruh, dengan sendirinya menutup matanya, di layar itu terlihat dengan jelas bahwa Kratos sedang bercumbu dengan seorang wanita yang sangat cantik, kecantikannya membuat Goda bergetar.


"Siapa yang bersama Dewa kami?" Tanya Goda


"Dia Aphrodite, Dewi Nafsu." Kata Dewa Hermes


Goda melihatnya sangat kesal, dia kesal karena kenapa bukan dia yang bercumbu dengan dewi itu.


"Ayah, aku akan bilang ke ibu." Kata Baron


Plak, tumbuh sebuah benjolan di kepala Baron


"Spartan bodoh, itu yang kamu bilang bersemedi?" Tanya Dewa Hermes


Kemudian, Dewa Hermes menghilangkan layar itu dan Baron kembali membuka matanya.


"Aku tidak dapat mempercayainya, dia menipu bangsanya sendiri, bangsa Spartan, padahal aku tahu sumpahnya, semua tertulis di kuil Spartan, bahwa dia akan melindungi bangsa Spartan dengan tangannya sendiri dan dia akan membunuh Zeus!" Kata Goda


"Jadi, aku akan memberikan suatu penawaran kepadamu." Kata Dewa Hermes


"Apa itu?" Tanya Goda


"Anakmu akan pergi ke Olympus dalam beberapa hari lagi dan dia akan menggantikan posisi Kratos."


Goda sangat bersemangat dan dia tanpa berpikir langsung menyetujui penawaran Hermes.


"Ayah serius?" Kata Baron


"Kamu bodoh ya, kapan lagi kamu bisa ke Olympus, kalau ayah yang disuruh kesana, ayah tidak akan berpikir panjang dan ayah akan menemui Dewi Nafsu." Kata Goda


"Ayah, aku akan bilang ke ibu." Kata Baron


Plak Plak, tiga benjolan sekarang ada di kepala Baron.


"Bodoh! Kamu tidak bertanya apa syaratnya?" Tanya Dewa Hermes


"Oh iya, apa syaratnya?"


Dewa Hermes sebenarnya kesal berbicara dengan para Spartan, karena mereka hanya mengandalkan kekuatan dan tidak pernah menggunakan otaknya, tapi dia butuh seorang Spartan yang kuat untuk membantu Theo dan dia melihat Baron adalah salah satu yang terkuat dan dia juga telah melihat langsung wujud Theo, jadi Dewa Hermes memutuskan agar dia yang akan dikirim ke Olympus.


"Aku akan memberi anakmu kartu menuju Olympus dan dia akan menjalani ujian disana." Kata Dewa Hermes


"Oke, mana kartunya?" Tanya Goda


"Akan datang beberapa hari lagi, jadi tunggulah dan rahasiakan ini dari bangsamu, jangan sampai seorangpun tahu tentang ini." Kata Dewa Hermes


"Baiklah."


Setelah perbincangan itu, Goda dan Baron pulang kerumahnya, jarak negeri Spartan dan negeri Karya hanya membutuhkan 1 hari perjalanan jika lewat jalur rahasia, jika jalur umum bisa memakan waktu 2 tahun perjalanan.


***


Olympus : Perpustakaan


Hermes menghela nafas panjang, dia merebahkan tubuhnya di kursi, lalu dia bergumam dan tersenyum.

__ADS_1


"Ini akan menarik."


Tak lama kemudian, Hera datang menemui Hermes dan menyuruh Hermes untuk menemui Zeus.


"Ini saatnya." Kata Hermes pelan


Hermes sudah melihat masa depan dengan jelas dan dia sudah merencanakan semuanya dengan matang, kemungkinan prediksi Hermes mencapai 93 persen, jadi semua prediksinya bisa dipastikan akan terjadi.


***


Negeri Spartan : Kediaman Baron


Goda, ayah dari Baron sudah menyiapkan semua semua perlenkapan yang akan dibawa oleh Baron, tanpa waktu lama kartu yang dijanjikan Dewa Hermes sudah ada ditangan Baron.


"Sebelum kamu pergi, ayah ingin berpesan kepadamu." Kata Goda serius


Goda kemudian berbisik ke Baron


"Kenalkan ayah ke Dewi Nafsu." Bisik Goda


"Ayah, aku..."


Plak Plak Plak...


"Oh iya satu lagi, jika kamu bertemu anak yang bernama Theo itu, angkat dia dan lempar dia sekuat tenaga."


"Mengapa?"


"Kamu harus memastikan dia Dewa atau bukan."


Baron mengangguk dan secara sekejap dia berpindah ke Olympus.


***


Olympus : Kantin Olympus


Baron sekarang sedang di kantin Olympus bersama timnya yang baru saja dia kenal di kamar, dia sama sekali tidak tertarik dengan timnya, dia penasaran dengan anak yang bernama Theo, Baron menunggu sampai akhirnya anak itu datang, Baron menatapnya dengan jantung yang berdegub kencang, Baron tidak menyangka bahwa tubuh Dewanya sangat kecil, Baron berniat menghampirinya, tapi sebelum Baron menghampirinya, Theo menghampirinya terlebih dahulu dan mengulurkan tangannya.


"Hai, namaku Andrew. Salam kenal, siapa namamu?"


Baron terkejut, mengapa dia menyebut nama lain, tapi Baron yakin bahwa anak ini adalah Theo, dia kemudian mengangkat Theo dan melemparnya ke dinding Olympus, Baron melemparnya sekuat tenaga. Baron melihat anak itu dengan jelas, dia tidak kenapa-kenapa.


"Aku sudah menduga bahwa dia orangnya." Gumam Baron pelan


Tapi tiba-tiba ada pedang yang menempel di kulitnya, Baron tidak dapat melihat orang yang menyerangnya, Baron mencoba menyerangnya tapi tidak bisa karena penyerang itu tidak terlihat. Kemudian, Baron terfokus ke Theo yang bangkit dan menghampirinya, Baron sangat takut, jika Theo menyerangnya mungkin dia akan mati, Baron berkeringat karena ketakutannya.


Sebelum Theo sampai ke arahnya, penyerang pedang itu menyerang Theo dan Theo menghindari serangan pedangnya, sampai akhirbya pertarungan mereka dihentikan Dewa Atlas.


"Luar biasa, aku hampir mati." Kata Baron dalam hati


Setelah kejadian itu Baron terus kepikiran dengan Theo, Baron terus berharap Theo mau memaafkannya karena dia telah melemparnya.


***


3 Hari Kemudian


Gunung Harapan


Baron baru saja mengikuti si pedang yang menyerangnya, Baron tahu bahwa mereka akan menuju ke arah Theo, karena Baron mendapatkan bisikan gaib dari seseorang, seseorang itu bilang, Baron harus mengikuti anak Apollo yang menyerangnya di kantin.


Baron terus mengikutinya sampai mereka akhirnya tiba di Gunung Harapan, Baron tetap bersembunyi dan mencuri dengar pembicaraan orang-orang yang berkumpul di sebuah tempat di Gunung Harapan.


Baron mendengar semua pembicaraan mereka, sampai tiba-tiba Baron melihaf ada seseorang dengan kalung rantai kabur dari tempat itu, tadinya Baron hendak mengikutinya, tapi dia mengurungkan niatnya.


Setelah itu, beberapa waktu kemudian Baron melihat ada banyak orang berkalung rantai datang ke tempat ini, akhirnya Baron memberanikan diri untuk muncul di hadapan mereka semua.


"Aku akan melawannya." Kata Baron yang muncul secara tiba-tiba


"Kamu mengikuti kami?" Tanya Hendrick


"Kalian pergi, aku akan mencoba menahan mereka." Kata Baron


"Siapa namamu?" Tanya Theo


"Namaku Baron." Ucap Baron


"Aku akan mengingatnya, jangan lupa untuk menyusul kami jika kamu selamat." Kata Theo


Baron tersenyum senang, karena Theo telah memaafkannya dan dia terus tersenyum. Lalu, rombongan itu pergi dan Baron dengan gagah menghadang anak-anak Hades yang berkumpul.


"Dimana pria itu?" Tanya anak Hades


"Di hadapanu." Kata Baron


"Spartan bodoh, matilah!"


Dengan kompak anak-anak Hades itu menyerang Baron, Baron tersenyum dan berteriak dengan kencang.


"Ayah akhirnya aku bisa bertarung sungguhan! Aku akan mengabdi pada Dewa kita!" Teriak Baron dengan penuh semangat.


Pertarungan terjadi.


Bagh, Bugh, Plak, Cring, Sreng.


2 Jam kemudian Baron berhasil mengalahkan mereka semua, Baron duduk kelelahan dan membaringkan tubuhnya sejenak, lalu dia bergumam.


"Aku akan menjadi babu dari Dewa kita, aku sangat menyukainya ayah, mulai detik ini aku berjanji pada diriku sendiri dan bangsa Spartan, aku akan mengabdi pada Theo dan rela mati untuk melindunginya!!!!" Teriak Baron


Teriakannya menggema begitu keras, setelah istriahat, Baron mencoba menyusul rombongan yang telah pergi.


"Aku harap, aku bisa menemukan mereka." Kata Baron

__ADS_1


Baron sudah bertekad untuk mengikuti Theo dan menjalani petualangan bersama dengan Theo.


__ADS_2