Misi Jessy

Misi Jessy
Siapa Kamu?


__ADS_3

Evan menceburkan diri ke dalam kolam lalu menarik Melva ke permukaan, membungkus tubuhnya dengan handuk lalu memintanya segera mengganti pakaian.


Evan sudah menunggu di dalam kamar ketika Melva kembali dari mandi. "Ada apa ini?"


"Kita harus membicarakan hal penting, Mel."


Evan menceritakan semuanya. Tentang siapa dia sebenarnya, apa misinya dan bagaimana Melva bisa membantunya mengakhiri semuanya dengan baik.


"Apa kak Evan bercanda? Mana mungkin aku tahu apa kata sandinya?"


"Kamu anak kandungnya, Mel. Kamu pasti tahu. Coba ingat-ingat semua hal tentang papa kamu. Apa yang biasa kalian bahas dan cita-citakan, seperti tanggal, tempat atau angka-angka tertentu."


"Aku ngga tahu dan ngga inget apa-apa." Melva meletakkan handuk dan mulai menyalakan blower untuk mengeringkan rambutnya.


Evan mematikan blower karena tahu bahwa Melva sengaja menyalakannya agar tidak bisa mendengar perkataan Evan.


"Mel, plis. Tolong bantu saya. Kita harus tahu isinya sebelum siapapun. Jika sampai ada yang tahu tentang ini, nyawa kita semua dalam bahaya."


"Berapa kali harus aku bilang? Aku ngga tahu apapun karena aku bukan Mel -"


"Apa?"


"Maksud aku -"


"Lalu siapa kamu?"


Jessy berusaha menghindar tapi Evan meraih tangannya dan menghentikannya. Ia menatap mata Melva tajam. "Apa kamu Jessica Abraham?"


*******


"Apa kamu Jessica Abraham?"


"Maksud Kak Evan apa?"


"Mel, ini masalah serius. Kita ngga punya waktu untuk becanda. Jadi tolong jangan buat saya bingung memilih antara Melva dan Jessy. Jangan membuat saya memikirkan hal-hal tidak masuk akal seperti kamu menyamar menjadi Mel atau kamu merasuki tubuh Mel dan sebagainya. Saya sudah cukup bingung dengan siapa kamu sebenarnya."


"Apa Kak Evan cuma Kak Evan yang ngerasain kaya gitu? Aku juga bingung. Kalau aku bilang bahwa aku Jessy, apa Kak Evan bakal percaya? Semua orang hanya akan bilang kalau aku gila, seperti Papa."

__ADS_1


"Jadi kamu benar-benar Jessy?"


Sekarang giliran Melva yang menatap mata Evan tajam. "Apa sekarang Kak Evan juga akan bilang bahwa aku gila?"


********


"Melva keluar dari kamarnya dengan raut wajah berseri-seri. Sejak selamat dari kecelakaan maut beberapa bulan yang lalu, itu adalah kali pertama Bu Rahma melihat putrinya ceria seperti itu.


"Kamu kelihatan seneng banget, Mel."


"Iya, Bu. Mel sudah bisa renang dan tadi Kak Evan bilang mau carikan sekolah yang mau nerima Mel." ujar Melva dengan mulut penuh kue.


"Jangan terlalu diforsir, Mel. Ingat kalau kamu lagi hamil. Harus lebih banyak istirahat, Nak."


"Iya, Mel tahu, Bu. Yuk berangkat sekarang Bu!"


******


(Beberapa menit sebelumnya)


"Apa sekarang Kak Evan juga akan bilang bahwa aku gila?"


Jessy mulai menceritakan semua yang dia alami sejak bertemu James saat lomba hingga ia berada di dalam tubuh Melva. "Tapi bagaimana mungkin Kak Evan bisa percaya?"


"Karena Mel ngga mungkin tahu teh kesukaan Om Tomi dan juga makan roti lapis dengan cara aneh seperti kamu. Mel yang phobia dengan kolam renang ngga akan nekat masuk ke dalam kolam hanya agar tidak tercebur lagi. Dan seorang yang tidak terlatih seperti Mel tidak akan mampu menguasai tehnik pernafasan layaknya atlit terlatih seperti kamu, Jess."


Jessy sangat terharu mendengarnya. Ia sama sekali tidak menyangka ada orang yang memperhatikannya sebaik Evan. Ia juga merasa lega tidak harus terus berpura-pura kepada semua orang karena setidaknya ada satu orang yang percaya kepadanya dan mau menerimanya apa adanya.


"Jadi apa sekarang Kak Evan masih bingung ingin menikahi siapa?"


"Kamu, Jess. Sejak awal memang hanya kamu yang saya inginkan."


Jessy kembali nyosor dan langsung mengecup bibir Evan. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan rasa lega dan bahagianya. Evan kembali menarik tubuh Jessy dan membalas ciumannya.


*********


Sore itu Melva hendak pergi bersama ibunya ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa barang kebutuhan sehari-hari mereka. Namun, Evan tidak bisa mengantar karena harus pergi ke suatu tempat. Jadi Melva pergi bersama ibunya dengan mengendarai taksi.

__ADS_1


Awalnya semua berjalan baik, jalanan juga terbilang lengang sampai ada seorang pengendara motor yang entah mengapa tiba-tiba saja oleng dan menyerepet lalu jatuh di hadapan taksi yang Melva tumpangi. Sopir taksi berusaha mengerem, namun karena jaraknya terlalu pendek, ia membanting setir ke kiri dan menabrak pembatas jalan.


******


Mereka tiba di rumah sakit dan dokter tengah memeriksa kondisi Melva, Bu Rahma dan sopir taksi. Evan merasa sangat cemas dengan konsisi keduanya. Ia takut hal buruk menimpa Mel dan bayinya.


"Bagaimana keadaan ibu dan istri saya, Dok?"


"Kondisi Bu Rahma dan istri anda sudah mulai membaik, tapi kami mohon maaf karena kami tidak bisa menyelamatkan janin di dalam kandungannya. Kami sudah berusaha maksimal tapi kondisi kandungan pasien sangat lemah jadi sedikit benturan saja bisa berakibat fatal. Selain itu janin di dalam kandungan istri anda tidak berkembang dengan baik, detak jantungnya juga lemah. Mungkin karena pengaruh operasi dan pengobatan jangka panjang yang dijalani istri anda. Kami mohon maaf, Pak."


Tubuh Evan lemas seketika. Ia pernah mengalaminya ketika kehilangan ayahnya lima tahun lalu. Tapi malam itu berbeda ia tidak hanya kehilangan anak, tapi juga kehilangan kebahagiaan dan semangat istrinya.


Keceriaan Melva segera berubah menjadi tangis tak berujung ketika Evan dan ibunya memberitahu kondisi kandungannya. Jessy sangat terpukul mengetahui bahwa ia baru saja kehilangan anak Melva dan James.


Ada rasa kecewa dan bersalah yang sangat besar di dalam dirinya. Ia telah begitu egois memaksakan diri berlatih renang meskipun kandungannya lemah, ia juga tidak berhati-hati hingga harus mengalami keguguran. Jessy terus saja menyalahkan dirinya sendiri.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang? Aku telah kehilangan anak Mel."


"Jangan khawatir, Jess. Semua akan baik-baik saja. Ini bukan salah kamu."


"Bagaimana mungkin bukan salah aku, Kak?"


Evan memeluk tubuh Jessy yang mulai terguncang karena isak tangis yang kembali pecah.


Jessy mengendurkan pelukan Evan lalu kembali duduk berhadapan dengan pria yang sudah menikahinya itu, "Lalu bagaimana dengan kita? Apa kita akan bercerai karena anak ini sudah tidak ada lagi?"


"Sayangnya aku sama sekali tidak berniat untuk bercerai, Jess.."


Jessy menatap Evan lalu kembali memeluk tubuhnya erat.


"Oh ya, mukanya Kak Evan kenapa? Kok babak belur gitu?"


"Oh, ini bukan apa-apa. Tadi bantuin orang nangkep jambret. Jadi kaya gini, deh..."


"Biar aku panggilin dokter yah? Kak Evan juga perlu di rawat."


"Ngga usah, Jess!"

__ADS_1


"Jess?" Bu Rahma baru saja masuk dan mendengar Evan menyebut Jess.


******


__ADS_2