Misi Jessy

Misi Jessy
Kehancuran Kedua


__ADS_3

Melva akhirnya keluar dari kamar mandi dan menghampiri Diana yang masih duduk sambil menangis di dekat ruang sidang. Ia tahu Diana telah melakukan kesalahan besar kali itu. Tapi ia juga tahu bahwa gadis itu melakukannya untuk Jessy. Jadi semua ini adalah karena dirinya sendiri, sehingga baik Melva maupun Jessy tidak bisa menyalahkan Diana yang tidak tahu apa-apa.


"Mel, plis.. tolong maafin gue kali ini. Gue nyesel.." Diana berlutut di hadapan Melva.


Melva mengangkat tubuh Diana dan mengajaknya duduk bersama. "Darimana lo tahu kalau gue sudah nikah?"


"Nyokap gue, Mel. Nyokap gue kenal sama nyokapnya Pak Evan."


"Sejak kapan lo tahu?"


"Sejak lo balik dari luar negeri."


"Dan kenapa baru sekarang lo bongkar fakta kalau gue udah nikah?"


"Karena Fania nyadarin gue kalau lo sedang berusaha merebut semua milik Jessy. Mulai dari Pak Evan sampai posisi di timnas. Dan itu ngebuat gue marah, Mel. Dan gue ngga terima. Jessy teman gue. Meskipun gue belum pernah berbuat baik ke dia semasa dia hidup, seenggaknya gue pengen ngelakuin sesuatu buat dia saat dia udah ngga ada."


"Apa lo pernah berfikir kalau gue justru ngelakuin ini buat Jessy? Gue berusaha keras ngelawan ketakutan gue sendiri dan sakit yang luar biasa demi bisa ngewujudin mimpi Jessy. Dia sudah ngga ada, Di. Dan hanya gue yang bisa ngedapetin itu buat Jessy."


Tangis Diana semakin menjadi-jadi. Penyesalannya terlalu besar hingga membuat dadanya sesak. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang. "Maafin gue, Mel. Gue yang salah. Gue yang bodoh!"


Diana terus saje memukul-mukul kepalanya yang kian terasa berat.


"Cukup, Di! Semua sudah terlambat. Sebaiknya lo pulang dan tenangin diri lo." Melva mengambil tasnya lalu meninggalkan tempat yang selalu membawa kenangan buruk baginya itu.


******


Karena kejadian itu, hidup Melva benar-benar hancur berantakan. Tidak hanya tidak bisa menjadi atlet dan mengikuti perlombaan lagi, ia juga dikeluarkan dari sekolah karena dianggap mencemarkan nama baik sekolah. Meskipun Evan sudah berbicara bahkan mengancam kepala sekolah dengan berbagai hal, keputusan tidak bisa dirubah.


Dinas pendidikan dan juga dinas pemuda dan olahraga seakan telah memasukkan Melva ke daftar hitam, sehingga tidak ada lagi kesempatan baginya untuk bisa mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah bonafit yang mengedepankan nama baik dan citra sekolah.


Karena kondisinya yang tidak terlalu baik, ia mogok bicara dan mulai mengacuhkan Evan. Ia tidak lagi punya semangat hidup dan kembali mengalami masa seperti ketika dokter memberitahu bahwa ia hamil untuk pertama kalinya.


Bu Rahma memberanikan diri masuk ke kamar Melva. Anaknya itu sudah tiga hari ini tidak makan dengan baik sehingga ia khawatir hal buruk akan terjadi pada kesehatannya.


"Mel, boleh ibu masuk?"

__ADS_1


Mel tidak menjawab dan Bu Rahma memberanikan diri untuk duduk di pinggir ranjang.


"Mel, kamu ngga lapar, Nak?"


Mel masih belum mau menjawab.


"Mau sampai kapan kamu seperti ini, Mel? Apa dengan menyiksa diri seperti ini semua masalah akan selesai?"


"Mel ngga punya motivasi hidup lagi, Bu. Jadi Mel sudah ngga bisa ngerasain apa-apa lagi."


Hati Bu Rahma seperti teriris ketika mendengar perkataan putri semata wayangnya itu.


"Mel, kita sudah banyak melalu masa sulit seperti ini. Tapi kita selalu punya alasan untuk kembali bangkit dan menemukan tujuan hidup baru."


"Ngga ada lagi bu. Semua misi hidup aku sudah hancur berantakan."


"Mel, apa ngga pernah ada ibu dan Nak Evan di dalam misi hidup kamu, Mel?"


Melva terdiam lalu perlahan bangun dari tidurnya dan duduk di dekat ibunya. "Maksud ibu apa?"


"Lalu apa yang harus Mel lakuin, Bu?"


"Makan, Nak. Belajar, berlatih, tertawa dan kembali ceria seperti dulu. Kita masih bisa mencari sekolah lain yang mau menerima kamu. Kalau tidak ada di sini, kita cari di kota lain. Kalau tidak ada di negara ini, kita cari di negara lain. Akan selalu ada jalan jika kita mau berusaha, Mel."


"Mel takut, Bu. Mel sudah banyak mengalami kejadian buruk dan Mel takut untuk bangkit lagi. Rasanya sakit Bu. Melebihi sakitnya tulang Mel yang retak."


"Ibu tahu, Mel. Tapi saat ini kamu harus bertahan. Nak Evan sedang berjuang mencari sekolah yang mau menerima kamu. Sudah tiga hari ini ia mengirim banyak lamaran ke seluruh sekolah. Kita doakan saja dia berhasil."


"Apa Kak Evan sudah makan, Bu?"


Bu Rahma menggeleng. "Dia bilang baru mau makan kalau sudah ada sekolah yang membalas lamarannya."


Melva bangkit dari ranjang, menyambar nampan makanan yang dibawa ibunya lalu masuk ke ruang kerja Evan.


Melva mematikan komputer Evan. "Makan!"

__ADS_1


"Mel...."


Evan berdiri dari kursinya, memeluk tubuh Mel sesaat lalu mengajaknya duduk di sofa, mengambil nampan makanan yang Mel bawa dan mengajaknya makan bersama.


Evan makan dengan lahapnya dan menghabiskan seisi nampan hanya dalam sekejap.


"Apa ini yang namanya mogok makan sampai lamarannya dijawab?"


Evan menggeleng. "Aku seharusnya sudah makan dari kemarin kalau gara-gara itu."


"Lalu?"


"Aku pengen kamu nemenin aku makan, Jess. Sudah lama kita ngga ngobrol dan makan bareng. Aku kangen sama kamu, Jess."


"Tunggu! Tadi Kak Evan bilang apa? Dari kemarin?"


Evan mengangguk sambil memasukkan sesendok penuh nasi dan lauk ke mulutnya. Ia mengunyah makanannya dengan santai dan membiarkan Mel menunggu dengan penuh rasa penasaran.


Setelah mulutnya benar-benar kosong, Evan baru menjelaskan. "Jadi kemarin salah satu sekolah swasta yang sangat ternama yang menjadi pesaing berat Galaxy menerima lamaran kamu. Tapi dengan satu syarat, kamu bisa memenangkan lomba olimpiade sains untuk mereka."


"Apa? Tapi kenapa? Apa mereka tidak tahu kalau -"


"Mereka sudah tahu semuanya. Tapi jagoan matematika mereka di olimpiade sains jatuh sakit dan harus dioperasi jadi dipastikan tidak akan bisa mengikuti olimpiade sains nasional besok lusa. Mereka tidak ingin mundur dan dipermalukan lagi oleh Galaxy karena kalah."


"Lalu apa aku tidak akan diusir dari olimpiade?"


"Mereka akan mengurus semuanya. Kamu ngga usah mikirin soal itu. Jika kamu berhasil lolos dan membawa kemenangan, maka mereka akan mengijinkan kamu mengikuti ujian kelulusan dan mendapatkan ijazah dari sekolah mereka. Gimana?"


"Deal!" jawab Jessy yakin.


"Kita bisa memulai semuanya di sana, Jess."


Melva tidak tahu lagi harus berekspresi seperti apa, tapi yang pasti ia tidak bisa menahan diri lagi. Ia menarik baju Evan dan mendaratkan kecupan hangat di bibir Evan. Evan yang sudah sangat lama merindukannya langsung membalas kecupan manis itu dengan penuh perasaan.


*******

__ADS_1


__ADS_2