
Setelah hari itu, Aldo jari rajin menjemput dan mengantar Melva pulang ke rumahnya dengan mobilnya. Tidak jarang mereka jalan-jalan keliling kota hanya sekedar untuk membuang rasa penat setelah berjibaku dengan rumus dan angka-angka yang membuat otak melintir.
Fakta bahwa Jessy bisa mengemudikan mobilnya dengan sangat baik, membuat Aldo semakin senang mengajak Jessy bepergian kemana-mana. Mulai dari sekedar menengok teman yang sakit, wisata kuliner dan kota-kota, sampai dengan berlibur ke luar kota pada hari minggu untuk refreshing.
Aldo juga jadi semakin sering main ke kontrakan Jessy untuk belajar, begitu juga sebaliknya. Aldo jadi semakin akrab dengan Bu Rahma dan tahu kebiasaan buruk Jessy sehari-hari.
Jessy juga jadi tahu bahwa temannya itu sangat malas olahraga dan memiliki selera makan yang sangat baik. Ia sanggup dua kali makan masakan Bu Rahma setiap kali main ke rumah Jessy.
Dan karena Jessy sering ngobrol dengan Evan di telepon, Aldo juga akhirnya tahu bahwa Evan adalah suami Melva yang sedang mengelolah perusahaannya di Jakarta. Jessy juga terpaksa memperkenalkan mereka dengan baik ketika Evan melakukan panggilan vidio kepadanya ketika ia tengah jalan-jalan dengan Aldo.
Tapi bukannya kesal, Evan justru semakin senang karena Jessy punya teman baru seperti Aldo. Evan bahkan tidak segan-segan menghubungi Aldo diam-diam dan memintanya untuk menjadi mata-mata dan menjaga Jessy dari pengaruh cowok lain ketika dia tidak ada. Dan tentu saja Aldo sangat senang menerima tawaran Evan itu karena dengan begitu mereka akhirnya jadi akrab satu sama lain.
Jessy menceritakan banyak hal yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapapun, kepada Aldo. Kecuali tentang fakta bahwa ia adalah Jessy yang sudah meninggal dan kembali hidup di dalam tubuh Melva yang sekarang bersamanya.
**********
Melva memasuki ruangan dosen yang terlihat sangat sepi siang itu. Tentu saja hal itu tidak mengherankan karena saat itu memang masih jam kuliah dan para dosen masih banyak yang mengajar di kelasnya masing-masing.
"Sudah datang, Mel. Silakan masuk!" sapa Pak Andre yang tiba-tiba saja memanggilnya menghadap.
"Maaf, Pak. Tapi saya masih ada kelas. Memangnya ada apa Bapak manggil saya?"
"Duduk, Mel!"
__ADS_1
Jessy menuruti perintah Pak Andre. Ia kemudian disodori sebuah makalah dengan tebal lebih dari seratus halaman karena Jessy merasakan cukup berat untuk menerimanya dengan satu tangan.
"Apa ini, Pak?"
"Itu karya ilmiah. Saya dengar kamu memiliki kemampuan yang luar biasa diantara teman-teman kamu yang lain. Para dosen dan dekan sudah banyak membicarakan kemampuan kamu. Sebagai salah satu pengajar, saya merasa perlu berbagi lebih banyak ilmu dengan mahasiswa hebat seperti kamu. Karya tulis ilmiah ini akan memberikan kamu lebih banyak wawasan dan pengetahuan. Jadi pelajari saja dan katakan bila ada yang kurang tepat menurut kamu."
Jessy masih tidak paham dengan maksud pembicaraan Pak Andre. Tapi ia benar-benar harus segera kembali ke kelas sebelum quis dimulai. Jadi ia menurut saja dan membawa makalah itu kembali ke kelasnya.
********
Di sela waktu luangnya, Jessy membaca isi makalah yang diberikan oleh Pak Andre dan ia menemukan beberapa kesalahan besar dan berusaha memperbaikinya. Jessy tidak tahu kenapa ia melakukan hal tidak berguna seperti itu. Tapi entah kenapa, otak Melva seakan tidak pernah berhenti berputar kencang ketika melihat barisan angka menari-nari di atas kertas.
Tanpa Jessy sadari, ia telah memberikan banyak koreksi atas makalah tersebut hanya dalam waktu beberapa jam saja. Ia nyaris tidak percaya dengan kehebatan Melva yang luar biasa itu. Kalau saja gadis itu masih hidup, ia mungkin sudah akan menjadi profesor dalam usia yang masih sangat muda. Begitu pikir Jessy.
*******
Pak Andre tak henti-hentinya memuji kemampuan Melva yang sangat luar biasa itu. Namun, ia kemudian memberikan makalah lagi kepada Melva, memujinya saat menyelesaikan koreksinya, lalu memberinya makalah baru lagi dan lagi. Begitu seterusnya sampai Jessy merasa jengah dan memutuskan untuk mengakhiri perbudakannya.
Meskipun sejak menerima bantuan Jessy, Pak Andre jadi sangat baik kepadanya dengan memberinya banyak kelonggaran dalam tugas, memberinya buku-buku referensi yang bagus dan jarang ditemukan di pasaran, juga mentraktirnya makan berkali-kali, tapi Jessy sebenarnya sangat sadar bahwa ia dimanfaatkan selama ini.
Ia hanya diam untuk melihat seberapa jauh Pak Andre akan berhenti. Tapi meskipun sudah mengoreksi lebih dari lima disertasi, Pak Andre masih juga belum mau berhenti dan malah memberinya lebih banyak makalah untuk dikoreksi juga memintanya membuat materi untuk bahan ajarnya di kelas Metode Statistika.
Dan yang lebih menyebalkan lagi bagi Jessy adalah fakta bahwa Mirza justru memberikan lebih banyak tugas kuliah kepadanya. Jessy benar-benar dibuat sibuk oleh kelakuan sewenang-wenang kedua dosennya itu.
__ADS_1
"Wah! Kamu hebat, Mel! Ini bakalan menjadi sejarah baru dalam perkembangan pendidikan kita." puji Andre ketika Jessy mengantarkan hasil kerjanya ke ruangan Andre siang itu.
Dan lagi-lagi, Andre menyodorkan dua tumpuk makalah kepada Melva.
"Jadi Bapak sudah dapat banyak pelanggan?"
"Maksud kamu apa, Mel?"
"Bapak tahu kalau saya ngga bodoh. Saya tahu kalau itu adalah disertasi program doktor yang akan segera diujikan. Bapak memanfaatkan saya untuk membantu mereka. Ah, atau lebih tepatnya, membantu bisnis Bapak."
"Hati-hati kalau ngomong ya, Mel! Saya bisa nuntut kamu atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik."
Jessy tersenyum, "Bapak berharap saya takut dengan gertakan receh seperti itu?"
Andre ikutan tertawa sinis, "Inilah kenapa banyak orang bilang kalau anak cerdas kebanyakan tidak tahu sopan santun karena merasa dirinya sudah sangat hebat."
Andre mendekati Melva, "Bukankah selama ini kita bisa bekerjasama dengan baik? Lalu kenapa kamu tiba-tiba bertindak menyebalkan seperti ini?"
Jessy kemudian mengambil tasnya, mengeluarkan semua buku dan juga uang yang pernah Andre berikan kepadanya. "Ini akan cukup untuk dijadikan bukti suap yang mendukung bisnis kotor Bapak."
"Kurang ajar kamu!" Andre hampir menampar wajah Melva tapi gadis itu menahannya dengan gesit.
Dan tepat saat Melva sedang menahan tangan kanan Andre yang tengah terangkat, Mirza masuk ke dalam ruangan dosen. Ia jelas melihat apa yang sedang terjadi, tapi memilih untuk tidak beraksi dan berlalu begitu saja menuju mejanya.
__ADS_1
Andre buru-buru menarik dan menurunkan tangannya lalu membenahi pakaiannya seakan tidak terjadi apa-apa. Jessy juga cukup cerdas untuk mengakhiri perselisihan mereka sebelum menjadi semakin merepotkannya.
*******