
(Empat tahun lalu)
Saat itu Melva masih duduk di kelas dua SMP di salah satu SMP negeri terbaik di Surabaya. Ia mengenal Mirza yang kebetulan menjadi salah satu guru privat Lili. Lili sering mengajak Melva belajar bersama sehingga Melva sering bertemu dengan Mirza.
Suatu hari Melva didapuk untuk menjadi salah satu peserta olimpiade matematika yang diadakan di kampus Merdeka. Dan kebetulan, Mirza yang waktu itu sudah kuliah di kampus Merdeka, dipercaya menjadi salah satu panitia penyelenggara olimpiade matematika tersebut.
Mirza secara khusus menyambut kedatangan Melva, membantunya melakukan registrasi dan juga menyemangatinya sehingga berhasil meraih nilai tertinggi dan menjadi juara pertama.
Tidak hanya karena olimpiade itu, Universitas Merdeka menyimpan banyak kenangan bagi mereka. Mirza sering mengajak Melva ke kampusnya sepulang sekolah. Ia lalu mengajak Melva untuk menyelinap mengikuti kelasnya diam-diam.
Melva yang masih SMP sering diajak nongkrong bersama teman-teman Mirza dan diperlakukan layaknya adik bersama. Tidak jarang Melva tiba-tiba datang sendiri ke kampus dan menemani Evan yang sedang menyelesaikan tugas bersama teman-temannya sampai malam.
Mirza sebenarnya hanya empat tahun lebih tua dari Melva, tapi ia selalu masuk dalam kelas aksel dan berhasil menyelesaikan SMA-nya kurang dari dua tahun. Ia kemudian diterima di Universitas Merdeka dan lulus dengan gelar sarjana hanya dalam waktu tiga tahun saja.
Ketika Melva lulus SMP dan masuk ke SMA, Mirza terpaksa pindah ke Jogja untuk melanjutkan S2nya. Mereka kemudian berjanji untuk bertemu kembali di Universitas Merdeka kelak.
Suatu ketika, Melva berjanji untuk menemui Mirza yang hendak kembali ke Jogja, di stasiun. Tapi sampai dengan kereta berangkat, Melva tidak kunjung datang menemuinya tanpa kabar. Sesampainya di Jogja, ia berusaha menghubungi Melva, tapi nomornya selalu tidak aktif. Ia mengirim suratpun tidak pernah dibalas.
Beberapa bulan kemudian, ia mendengar kabar bahwa Melva pindah ke Jakarta. Ia berhasil mendapatkan alamat Melva dan menemuinya disana. Tapi gadis itu justru menghindarinya dan mengatakan bahwa ia sudah memiliki kekasih lain.
Mirza mengalami patah hati dan kehilangan yang teramat dalam tanpa tahu penyebabnya. Sejak saat itu ia berubah jadi sangat dingin dan pendiam. Ia tidak pernah tertarik dengan gadis manapun. Ia mempercepat S2nya dan langsung melamar di Universitas Merdeka begitu lulus. Ia berharap suatu hari Melva akan kembali kepadanya dan menjelaskan semua kesalahpahaman yang membuatnya meninggalkan Mirza.
******
Setelah menunggu dan berharap sekian lama, nyatanya hari itu semua harapannya kandas juga. Melva memang kembali tapi sama sekali tidak mengingatnya. Mereka kembali menjadi orang asing yang tak saling mengenal satu sama lain. Melva yang sekarang bukan lagi Melva yang ia kenal dulu. Cintanya kini bertepuk sebelah tangan.
Ketika Mirza menolak untuk menyerah dan bertekad untuk membuat Melva kembali mengingatnya, kenyataan pahit lain justru menghantamnya. Gadis itu mengaku bahwa ia sudah menikah dengan pria lain.
Di sinilah Mirza sekarang, mengurung diri di dalam kamarnya seorang diri.
*******
Ting Tong
Bunyi Bel mengganggu pertapaan Mirza dan nyaris membuatnya kesal. Ia dengan malas-malasan dan penampilan yang kacau balau, bangun dan membuka pintu rumahnya.
"Sore Mas Mirza!"
"Aldo?" Mirza tidak menyangka bahwa Aldo akan datang ke rumahnya.
Ia kemudian melihat orang lain di belakang Aldo, "Melva?"
__ADS_1
Mirza buru-buru menutup pintunya, merapikan pakaian dan rambutnya, menutup pintu kamarnya, lalu kembali membuka pintu rumahnya.
"Sori, aku kaget lihat kalian. Ngga nyangka aja kalian bakal dateng ke sini." Mirza mencari-cari alasan. "Masuk!"
"Mas Mirza apa kabar?" tanya Aldo yang langsung duduk di sofanya.
Sementara Jessy, alih-alih duduk, ia malah berkeliling melihat seisi rumah Mirza. Hiasan dinding yang ditata sedemikian rupa, peletakan kursi, meja dan karpet yang begitu simetris dan seimbang, juga penataan perabot yang penuh perhitungan dan tidak biasa.
"Keren penataannya." puji Jessy.
"Apa?" Kalau saja Mirza lupa bahwa Melva hilang ingatan, ia akan nyaris menertawakan kenarsisannya.
"Ini Mas Mirza sendiri yang nata? Kenapa seperti ini?" tanya Jessy ketika melihat karpet yang diletakkan menyerupai belah ketupat alih-alih persegi seperti pada umumnya.
"Ngga tahu."
"Kok bisa ngga tahu?"
"Kan kamu sendiri yang nata kaya gitu?"
"Apa?!" Sekarang Jessy bisa mengerti jika itu perbuatan Melva.
Gadis itu juga menata kamarnya dengan aneh. Meletakkan botol perawatan kecantikannya secara acak dan berantakan. Tidak tertata dari kecil ke besar atau tinggi ke rendah seperti pada umumnya.
Jika Melva yang masih SMP sudah sampai membantu Mirza menata rumahnya, itu artinya hubungan mereka sudah sangat dekat dan serius. Lalu bagaimana perasaan Melva saat ia memaksakan diri untuk meninggalkan Mirza yang ayahnya ternyata terlibat dalam kematian Lili, sahabatnya sendiri.
Di satu sisi Melva merasa berat meninggalkan Mirza tanpa bisa memberinya penjelasan. Tapi di sisi lain, ia merasa sangat jahat jika terus bersama pria yang ayahnya membunuh sahabatnya. Pikiran Jessy melayang kemana-mana.
Ia tidak tahu apakah seharusnya memberitahukan Mirza tentang keadaan yang sebenarnya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Mirza seandainya ia tahu apa yang telah dilakukan ayahnya. Lalu apakah Mirza akan memilih untuk mempercayai Melva dan membenci ayahnya sendiri atau sebaliknya.
Lalu bagaimana dengan perasaan Jessy yang sebenarnya. Apakah ia benar-benar menyukai Mirza sebagai rasa suka wanita kepada pria atau hanya kekaguman semata. Atau bagaimana ia akan mengungkapkan perasaannya kepada Mirza dengan tubuh Melva yang pernah menolak dan mengecewakannya.
"Mel! Kamu kenapa? Kok bengong?"
"Ah, ngga papa, Mas. Aku berusaha mengingat kapan dan bagaimana aku bisa ngelakuin ini semua, menata rumah seperti ini. Tapi aku ngga inget sama sekali."
"Jangan terlalu dipaksakan!" Evan membawa tiga gelas minuman ke ruang tamu.
Jessy segera menyusul Mirza ke ruang tamu.
"Jadi ada perlu apa kalian kemari?" tanya Mirza tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Oh, itu... Anu... Eeeh.. "
"Oh, itu... Jadi gini, Mas. Melva sudah lama mencari buku referensi terbitan lawas. Aku sudah antar dia ke Jalan Semarang, tapi ngga ada satu tokopun yang punya. Aku ajak dia kesini karena aku pikir Mas Mirza punya banyak koleksi buku langka."
'Tumben lo pinter, Do?!' puji Jessy dalam hati.
"Oh, memangnya apa judulnya?"
"Dasar Argumen Matematika dan Pembuktian." jawab Jessy lantang.
"Apa?! Kamu ingat buku itu?"
Sekarang giliran Jessy yang bingung. Kenapa Mirza bertanya seperti itu? Memangnya ada apa dengan buku itu? Ia hanya asal menyebutkan salah satu judul buku yang Melva tulis di buku hariannya.
"Hah?!" Jessy tiba-tiba menutup mulut menganganya dengan telapak tangan karena terkejut.
Ia baru ingat bahwa Melva hanya menuliskan judul buku itu di satu halaman penuh tanpa ada keterangan lain. Dan kalau tidak salah ingat itu tidak jauh dari waktu ia menceritakan kedatangannya ke rumah Mirza.
'Apa mungkin buku itu juga ada hubungannya sama Mirza?' batin Jessy.
"Memangnya kenapa, Mas?" tanya Aldo memecah kebisuan diantara Mirza dan Melva.
"Oh, bukan apa-apa. Itu salah satu buku favorit Melva. Dia pernah meminjam buku itu dari saya. Tapi itu sudah lama sekali."
"Oh, tapi sudah aku balikin kan, Mas?"
"Iya sudah." Mirza tersenyum, lalu bangkit menuju ruang bacanya.
Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa sebuah buku berukuran A4 dengan tebal beratus-ratus halaman.
"Itu buku atau bantal, Mas? tebel amat?" tanya Aldo dengan polosnya.
'Apa mungkin Melva bener-bener menyukai buku setebal itu? Pantas saja otaknya kaya dikasih pelumas, kenceng tanpa hambatan. Olinya segede dan setebel itu.' batin Jessy lagi.
Mirza kemudian menyerahkan buku itu kepada Jessy dan tiba-tiba saja sebuah kertas yang dilipat sedemikian rupa jatuh dari dalam buku itu.
"Apa itu?" tanya Mirza sambil memungut kertas tersebut.
Ia kemudian membuka dan membacanya dengan seksama. Raut wajahnya berubah seketika, matanya berkaca-kaca. Ia menyelesaikan membacanya, menatap Melva sesaat lalu buru-buru masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa sih, Mel?" tanya Aldo.
__ADS_1
"Ngga tahu, Do. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat buat bertamu. Kita pulang aja yuk!"
*********