Misi Jessy

Misi Jessy
Galau


__ADS_3

Belajar bersama malam itu terasa sangat menyenangkan buat Jessy dan juga Mirza. Mereka duduk berdekatan di karpet dan membahas bagaimana sebuah rumus bisa menjawab soal demi soal yang harus mereka selesaikan.


Mirza juga membuatkannya secangkir kopi dan memberinya sekotak coklat yang tersimpan di dalam lemari esnya. Jessy juga sesekali mengeluarkan gurauan-gurauan receh seperti yang biasa Evan berikan kepadanya dan ternyata itu bisa membuat Mirza tersenyum geli.


Itu saja sudah cukup bagi Jessy karena ia bisa melihat Mirza kembali ceria seperti sebelumnya.


"Jadi kapan Mas Mirza mau ngampus?"


"Belum tahu."


"Jangan lama-lama dong... Kampus sepi banget kalau ngga ada Mas Mirza."


"Kamu berharap aku percaya sama gombalan kamu? Ternyata kamu lebih menggelikan daripada novel yah?"


"Enak aja! Premis aku tadi bisa diuji kebenarannya dengan teori dan penelitian. Jadi ngga bisa disamain sama novel."


"Dih.... ngeles!"


Mereka tertawa dan saling mencela satu sama lain.


"Jadi, apa kamu ingat soal kecelakaan malam itu? Soal Lili."


Tawa Jessy tiba-tiba memudar. "Kenapa Mas Mirza nanyain soal itu?"


"Apa kamu juga ngga inget soal surat yang kamu letakkan di buku itu?"

__ADS_1


Jessy terpaku, bibirnya kelu dan ia tidak tahu harus berkata apa.


"Kenapa aku baru tahu semua itu sekarang? Seharusnya waktu itu kamu bilang, Mel. Kasih aku penjelasan kenapa kamu berubah dan mengambil keputusan seperti itu."


Jessy berusaha mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut Mirza dengan seksama. Ia tidak tahu kemana arah pembicaraan Mirza dan ia takut salah bicara jika asal memberikan komentar. Sehingga ia memilih untuk diam dan mendengarkan semua yang ingin Mirza sampaikan.


"Sekarang aku baru bisa ngerti kenapa kamu memilih untuk ninggalin aku. Dan seharusnya kita ngga perlu ketemu lagi seperti ini. Aku bodoh karena ngebiarin kamu melalui semua tuduhan jahat itu seorang diri. Padahal papa aku pelakunya. Dan sekarang, aku hanya pengecut yang ngga punya nyali buat nyeret papa aku ke penjara."


Sekarang Jessy tahu apa kira-kira isi surat Melva. Mendengar Mirza membahas soal papanya, Jessy yakin bahwa Melva sudah mengirimkan versi revisi terbaik dari surat yang ia temukan di dalam buku harian Melva.


Jessy menepuk pundak Mirza yang terlihat sangat sedih dan menyesal. "Mas Mirza ngga salah. Itu adalah kecelakaan."


"Tapi papa -"


Melihat Mirza tak kunjung membaik setelah mendengar perkataannya, Jessy menambahkan, "Bahkan jika sekarang kita membuka kasus itu kembali semua akan sia-sia saja. Aku pasti menulis surat itu bukan untuk membuat Mas Mirza menyalahkan diri sendiri seperti ini. Aku cuma pengen Mas Mirza ngga salah paham dengan pilihan aku waktu itu. Tapi siapa sangka kalau surat itu baru sampe ke Mas Mirza-nya sekarang."


Mirza terlihat lebih baik sekarang, jadi Jessy memanfaatkan kesempatan untuk pamit sebelum terlalu larut.


"Kalau gitu aku pulang dulu ya, Mas?"


"Tunggu disini! Aku mau ganti baju dan ambil kunci dulu."


"Oh, ngga usah. Mas Mirza istirahat aja, biar aku naik taksi aja."


"Sudah malam, Mel. Bahaya!"

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Mirza sudah kembali dengan sweater kremnya dan kunci mobil di tangannya. "Yuk!"


Tidak banyak yang mereka bicarakan di sepanjang perjalanan pulang malam itu. Jessy yakin Mirza pasti sedang memikirkan banyak hal jadi ia tidak ingin mengganggunya.


"Apa kamu sudah tahu kalau Andre dikeluarkan dari kampus?"


"Apa?"


"Pihak kampus khawatir kalau dia harus berhadapan dengan hukum. Jadi mereka memutus borok sebelum menjalar ke seluruh tubuh."


"Tapi kan aku belum ngajuin gugatan, Mas?"


"Evan pasti ngga akan ngebiarin kasus ini gitu aja."


"Tapi kan -"


"Seorang dosen yang menyalahgunakan profesinya untuk melakukan perbuatan tercela seperti itu tidak pantas untuk kamu kasihani. Aku yakin itu bukan kali pertama buat dia, tapi parahnya kali ini dia berfikir untuk memanfaatkan kamu."


"Makasih yah, Mas Mirza udah bantuin aku!"


"Bantuin apa?"


"Aku tahu kok kalau Mas Mirza sengaja ngasih aku tugas sebanyak itu supaya aku sibuk dan ngga punya waktu buat ngoreksi disertasinya Pak Andre. Kak Evan juga udah cerita kalau dia dapat banyak info soal Pak Andre dari Mas Mirza."


Mirza bersikap acuh tak acuh seakan tidak pernah mendengar pujian dari Melva, meskipun jauh di dalam hatinya ia merasa berbunga-bunga dan bangga.

__ADS_1


__ADS_2