Misi Jessy

Misi Jessy
Beda Selera


__ADS_3

Mirza memarkir mobilnya di depan sebuah warung nasi bertuliskan Nasi Madura Bu Bariyah. Ia kemudian masuk diikuti Jessy yang memilih tempat duduk di hadapannya.


Jessy memandang cermat sekeliling lalu membaca daftar menu yang tertulis di sebuah banner lebar yang terpampang di dinding warung, seperti pertama kali datang ke tempat itu.


Tak lama kemudian seorang pelayan datang dan menghampiri mereka.


"Mau makan apa?" tanya pelayan dengan logat madura yang masih sangat kental itu.


"Nasi cumi hitam satu sama teh panas. Kamu mau pesen apa, Mel?"


"Mas emang disini ngga jual sayuran yah? Kok menunya jeroan semua?"


Mirza kembali menatap Melva heran. Ia seakan masih belum percaya bahwa kecelakaan yang dialami gadis itu benar-benar menghilangkan semua ingatannya.


"Eh, Mbak Melva?! Lama ndak mampir kesini. Apa kabar, Mbak?" sapa Bu Bariyah, si pemilik warung yang baru saja masuk warung dan melihat Melva.


"Baik." Jawab Jessy singkat.


"Mau nasi babat paru komplit pake sambel yang banyak?" tanya Bu Bariyah seakan sangat hafal dengan menu favorit Melva.


Jessy cepat-cepat menggeleng. "Ngga! Saya ngga suka makan jeroan dan cumi. Apa ibu punya menu sayuran? Pecel atau tumis sayuran mungkin?"


Bu Bariyah tak kalah heran dengan Mirza. Ia melongo menatap Melva, lalu Mirza dan kembali ke Melva lagi. "Mbak Melva sudah ngga suka jeroan?"


"Saya emang ngga pernah suka makan jeroan. Jorok dan bikin penyakit." jawab Jessy jujur.


Bu Bariyah kembali menatap Mirza dengan penuh tanda tanya.


"Eh, Melva lagi dalam masa penyembuhan dan ngga boleh banyak mengkonsumsi lemak." Mirza terpaksa mengarang cerita.


"Apa kita cari makan di tempat lain aja, Mel?" tanya Mirza.


"Ngga usah. Udah terlanjur pesen. Mas Mirza makan dulu aja biar aku temenin."


"Mau saya buatkan nasi goreng babar gongso?" tawar Bu Bariyah yang juga masih kental dengan logat maduranya.


"Ah, boleh. Tapi nasi goreng biasa aja sama telor mata sapi. Ngga pake babat-babat segala."

__ADS_1


Bu Bariyan dan pelayannya segera kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan mereka.


Jessy tahu betul bahwa Mirza tipikal pria yang sangat irit bicara. Tidak seperti Evan yang selalu saja punya banyak hal untuk dibicarakan dengannya. Jadi selama menunggu, mereka berdua saling diam dan Jessy jadi merasa canggung.


"Mas.."


"Mel.."


Keduanya bicara bersamaan.


"Kamu mau ngomong apa?" tanya Mirza.


"Mas Mirza dulu aja."


"Jadi apa kamu masih ingat kecelakaan yang kamu alami sampai kamu kehilangan ingatan seperti ini?"


"Apa?" Jessy tidak menyangka bahwa Mirza akan membahas soal itu sekarang. "Oh itu.... Jadi.... "


"Kenapa? Kamu ngga ingat?"


"Kejadiannya terlalu cepat, jadi -" Jessy jadi kembali teringat akan cerita James tentang kecelakaan yang dialami Melva hari itu.


Jessy melihat raut kesedihan dan kecewa di wajah Mirza. Ia tidak tahu apa artinya itu tapi ia berkali-kali melihatnya sejak pelukan pertama mereka waktu itu, ketika Jessy menerima tantangan Ali beberapa waktu lalu dan ketika Jessy mengatakan tidak menyukai makanan yang dulunya mungkin sangat disukai Melva.


Jessy sudah berusaha bersikap senormal mungkin, layaknya seorang Melva yang ia tahu. Tapi Jessy tetap saja tidak bisa memaksakan diri untuk jago motor, jadi penurut yang suka mengalah dan menahan diri, atau menyukai makanan yang menurutnya berbahaya dan tidak bermanfaat baginya, seperti Melva.


Tapi saat itu, Jessy merasa bahwa bukan waktu yang tepat untuk memberi tahu Mirza tentang apa yang sebenarnya terjadi dan siapa dirinya sebenarnya.


Kriiiiing....


Ponsel Jessy kembali berdering dan membuyarkan lamunannya.


"Maaf, aku angkat telepon dulu ya, Mas?" Jessy sedikit menjauh agar bisa leluasa berbicara dengan Evan.


*******


"Halo sayang! Kamu kemana aja sih? Aku telponin kamu dari tadi ngga diangkat-angkat?"

__ADS_1


"Iya maaf. Tadi masih ada urusan."


"Kamu lagi dimana?"


"Ini lagi cari makan di warung."


"Oh, pantes."


"Pantes kenapa?"


"Tadi aku telpon ibu karena kamu ngga bisa dihubungin. Kata ibu kamu lagi keluar."


"Ngapain pake telpon ibu segala sih?"


"Ya aku kan khawatir sama kamu."


"Aku kan udah gede, Mas. Bisa lah jaga diri sendiri."


"Aku kangen sama kamu."


Jessy tersenyum. "Aku juga."


"Ya udah, buruan pulang yah! Udah malam."


"Oke. Bye!"


********


Tok..Tok...


"Mau ngapain lagi sih Mas Mirza? Udah malem juga.." Gumam Jessy yang terpaksa kembali keluar dari kamar untuk membuka pintu.


"Surprise!" teriak Evan sembari langsung memeluk Jessy.


"Kak Evan? Kok ngga bilang-bilang kalau mau dateng?"


"Gimana mau bilang kalau kamu ngga mau angkat telpon?"

__ADS_1


Mereka akhirnya masuk dan tidak keluar lagi sampai lampu akhirnya dimatikan sekitar satu jam kemudian.


*******


__ADS_2