Misi Jessy

Misi Jessy
Menguak Kebenaran


__ADS_3

"Sudah bangun, Mel?" tanya Bu Rahma ketika Jessy keluar dari kamarnya pagi itu. "Kamu ngga tidur semalaman? Mata kamu udah kaya panda aja."


"Iya, Mel ngga bisa tidur, Bu."


"Ya sudah, minum dulu tehnya, Mel."


Jessy meminum teh hangat yang sudah Bu Rahma siapkan untuknya di meja. "Kak Evan dimana, Bu?"


"Di luar. Kayanya lagi nyuci mobil sama Nak David."


Jessy akhirnya keluar. Ia melihat Evan dan David sedang sibuk mencuci mobil sambil bercanda. Jessy memperhatikan mobil itu dengan seksama. Jenis, warna dan plat nomornya sesuai dengan yang James katakan. Sulit untuk mengatakan itu sebuah rekayasa atau kebetulan semata.


Jessy mendekati bagian depan mobil itu dan berharap menemukan petunjuk kecil yang mungkin masih tersisa, seperti goresan atau sedikit penyok yang bisa menunjukkan bahwa mobil itu benar-benar pernah mengalami kecelakaan sebelumnya.


Tapi lagi-lagi Jessy tidak menemukan apapun di sana. Memperhatikan kondisi ekonomi keluarga Evan, kerusakan kecil seperti itu pasti sudah langsung diatasi kalau memang ada.


"Kamu lagi apa, Mel?" tanya David tiba-tiba.


Jessy sangat terkejut, "Ah! Kak David ngagetin aja!"


"Ngelamunin apa sih sampai kaget kaya gitu?" tanya David lagi.


Evan yang mendengar suara Jessy langsung menghampirinya. "Kamu udah bangun, sayang?"


"Ah, iya. Masih lama nyucinya? Ibu sudah siapin sarapan buat kalian." Jessy bergegas kembali masuk ke dalam rumahnya.


Dan Evan yang merasa sangat penasaran langsung mengikuti langkah Jessy hingga masuk ke dalam kamar.


"Jess ada apa?" tanya Evan to the point.


Jessy menggeleng. Ia kemudian mengajak Evan duduk di tepi ranjang dengan posisi saling berhadapan. Dan itu cukup untuk memberitahu Evan bahwa gadis itu pasti hendak membicarakan masalah serius dengannya.


"Katakan!" titah Evan yang tidak tahan lagi melihat gelagat mencurigakan istrinya.


Jessy kemudian menceritakan tentang pertemuan terakhirnya dengan James dan juga dugaan keterlibatan Tarisa, mamanya Evan, dalam kasus kecelakaan yang menimpa Melva.


"Apa?!"


"Kak, aku ngga tahu apakah ini sebuah kebetulan atau hanya rekayasa. Aku -"


Belum sempat Jessy menyelesaikan kalimatnya, Evan sudah bangkit dari duduknya dan langsung berhambur menuju ke mobilnya lalu duduk di belakang kemudi.


"Van, mau kemana lo?" tanya David yang masih memegang kanebo untuk mengeringkan mobil Evan.


"Masuk!" titah Evan singkat

__ADS_1


Dan David yang bahkan masih belum paham dengan situasinya langsung masuk ke dalam mobil mengikuti perintah karib yang sekarang merangkap menjadi bosnya itu.


Jessy yang tidak menyangka dengan reaksi Evan bergegas mengikuti Evan dan berusaha menghentikan mobilnya.


"Kak! Buka!" pinta Jessy sambil menggedor-gedor kaca mobil Evan yang perlahan bergerak mundur meninggalkan halaman rumah Jessy. "Kak! Stop!!!!!!"


Evan bergeming. Ia tetap menjalankan mobilnya seakan tidak mendengar perkataan Jessy.


"Van! Lo kenapa sih?! Ada apa ini? Jessy minta lo berhenti, Van!" Ujar David yang makin bingung dengan kelakuan aneh Evan.


Evan akhirnya keluar dari halaman rumah Jessy, memutar setir dan memacu mobilnya menuju Jakarta. Jessy yang belum mau menyerah berusaha mengejar Evan hingga akhirnya terjatuh.


"Van, Stop!!!!" teriak David ketika melihat Melva jatuh dari balik kaca spion. "Lo gila ya?! Lo kenapa sih, Van? Kalau lo ngga mau nolongin Melva, biar gue yang turun."


David melepas sabuk pengamannya, tapi Evan menghentikannya ketika ia hendak membuka pintu mobil. Sebagai gantinya, ia yang akhirnya turun untuk membantu istrinya yang sedang terduduk di jalanan sambil menangis.


Jessy senang melihat Evan akhirnya mau menghampirinya. "Jangan pergi, Kak! Aku ngga mau Kak Evan pergi dengan cara seperti ini."


"Ada hal yang harus kita luruskan."


"Aku ikut!" pinta Jessy dengan wajah memelas penuh harap.


Evan menggeleng, "Tunggu disini sampai semuanya jelas!"


Evan membantu Jessy bangun dan memintanya kembali ke rumah. Ketika Evan berbalik untuk menuju ke mobilnya, Jessy mengejarnya dan memeluknya dari belakang.


"Kak Evan harus kembali. Apapun yang terjadi, aku bakalan nunggu sampai Kak Evan kembali." bisik Jessy dari balik punggung Evan.


Evan melepas tangan Jessy yang melingkari pinggangnya, lalu berbalik, menghadapnya dan tersenyum. "Jaga diri kamu!"


Ia kemudian memeluk Jessy sesaat, lalu bergegas kembali ke dalam mobilnya dan memacunya dengan sangat kencang. Ia harus segera mencari tahu kebenarannya. Ia tidak ingin membuat Jessy terlalu lama menunggunya.


********


Beberapa hari berlalu sejak kembalinya Evan dan David ke Jakarta, tapi Jessy belum juga bisa menghubungi Evan. Hari demi hari ia lalui dengan penuh rasa cemas. Ia bahkan kehilangan selera makan, tidur, olahraga dan juga belajar. Ia cemas memikirkan apa yang akan terjadi setelah kebenarannya terungkap.


Melalun saat jam kuliah seakan sudah menjadi kebiasaan baru Jessy akhir-akhir ini. Ia duduk di dalam kelas tapi pikirannya melayang entah kemana. Berkali-kali Aldo membangunkannya dari lamunan, tapi Jessy akan kembali melamun lagi hanya dalam beberapa saat saja. Ia merasa sangat sulit untuk fokus pada apa yang ia lihat dan dengar saja.


"Mel, bisa kamu bantu jelaskan di depan?" tanya Mirza tiba-tiba.


"Apa?! Maaf, pak. Tapi saya masih belum paham soal itu. Saya permisi ke belakang dulu." jawab Jessy dengan entengnya, tanpa takut dan tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Seisi kelas terbelalak melihat tingkah Melva. Bisa-bisanya mahasiswa yang diminta dosennya maju ke depan malah menolak dengan tegas dan meminta ijin untuk meninggalkan kelas.


Mirza yang juga menyadari betapa tidak sopannya sikap Melva cukup kesal dibuatnya. Tapi ia yakin bahwa gadis itu pasti punya alasan kenapa ia bertingkah menjengkelkan seperti itu.

__ADS_1


"Ya sudah, mungkin Melva tidak bisa fokus karena menahan ingin ke belakang. Kita lanjutkan saja, mungkin ada yang bisa menggantikan Melva untuk maju ke depan? Tambahan sepuluh poin untuk nilai quiz." ujar Mirza untuk kembali mencairkan suasana kelas yang sempat kaku akibat ulah Melva.


Sontak para siswa saling berebut demi tambahan sepuluh poin yang sangat langka dari Mirza.


******


Bahkan sampai jam kuliahnya selesaipun, Melva tidak kembali ke kelas sehingga Mirza memutuskan untuk mencarinya sementara Aldo membawa tas dan peralatan tulisnya ke mobilnya.


Mirza mencari ke beberapa tempat dan akhirnya ia menemukan gadis tengil itu tengah duduk di bawah pohon di belakang perpusatakaan kampus. Mirza menyodorkan segelas jus buah segar kepada Melva yang tengah melamun.


"Eh, Mas Mirza. Bikin kaget aja. Kok tahu kalau aku lagi disini?"


"Ternyata kamu belum berubah." jawab Mirza berdusta.


"Emang dulu aku juga suka duduk disini?" tanya Jessy.


Mirza lagi-lagi berbohong dan mengangguk. Ia tidak ingin ketahuan sudah mencari Melva keliling kampus karena khawatir.


Jessy kemudian meminum jusnya. "Bwah, apaan nih? Es jus atau jus es batu?"


"Loh bukannya kamu suka jus dengan banyak es batu? Dulu kan kamu paling suka mengunyah es batu yang tersisa dari minuman kamu. Kamu bilang itu lumayan buat ngurangin kekesalan kamu."


"Emang iya?" tanya Jessy ragu.


'Konyol banget sih ni anak? ngapain juga ngunyah es batu? bikin gigi ngilu aja. Kalau kesel, mending langsung lo ***** aja orangnya.' batin Jessy


"Kamu kenapa sih, Mel?"


"Oh ngga papa kok."


"Akhir-akhir ini kamu lebih banyak ngelamun."


Jessy bingung harus berkata apa. Meskipun ia sangat menyukai Mirza, tapi ia tidak ingin mengadukan masalahnya dengan mamanya Evan kepada Mirza. Bagaimanapun juga ia masih menjadi istri Evan dan juga menantu Tarisa. Tidak etis membicarakan masalah keluarga kepada orang lain.


"Oh, itu....... Itu......." Jessy memikirkan jawaban yang masuk akal. "Aku kangen sama ayah."


Mirza menatap Jessy lekat sampai Jessy kikuk dan salah tingkah sendiri. "Mas Mirza kenapa ngelihatin aku kaya gitu?"


Mirza menatap jam di tangannya yang masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Belum terlalu siang untuk pergi sedikit agak jauh ke luar kota.


"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Tapi kamu ijin ibu kamu dulu yah? Karena mungkin kita akan pulang agak malam."


"Emangnya kita mau kemana?"


"Ada satu tempat yang mau aku tunjukin ke kamu."

__ADS_1


__ADS_2